
"Bagaimana, Tuan Albarta Jhon?" tanya Luis menatap Albarta.
Albarta hanya menampilkan wajah datar dan dinginnya.
"Pa. It-itu ti-dak mungkin Papakan?" tanya Vano tak percaya apa yang baru saja ia lihat.
Luis kembali tersebyum smirk di balik topennya, Albarta bisa melihat semuanya, mata Albarta begitu tajam menatap Luis namun di balas dengan tatapan tak kalah tajam oleh Luis.
"Itu Papa," ujar Albarta dengan tatapannya tak lepas dari Luis.
Vano dan Vino terkejut dan berbalik ke asal sumber suara, di mana Albarta duduk. "Hu?"
"Ka-kamu-" ujar Vano menatap bingung orang yang duduk di samping Vino, dengan penutup wajah.
Albarta aslin membuka penutup kepalanya. "Iya aku Papa kalian. Dia yang ada di samping kalian adalah Alberta Kakak Papa," ujarnya dengan datar matanya masih tetap belum beralih dari Luis.
"Tapi-"
"Dia mengambil wajah Papa untuk balas dendam," ujar Albarta lagi.
Lalu apa maksud dari itu semua," ujar Vano menunjuk layar di mana Albarta menusuk Papanya sendiri. Dari pertanyaan Vano terdengar seperti menuntut sebuah penjelasan.
"Kenapa, Pa?, Kenapa Papa membunuh Kakek, yang meruapakan Papa kandung Papa sendiri. Jawab Pa!" ujar Vano tegas dan marah. Dari suara bisa di tebak ada sebuah kekecewaan besar.
"Jawab Vano, Pa!" teriak Vano kembali dengan tegas, namun Albarta tak bergeming dan mengatakan satu katapun.
"Sttt. Diam!" bentak Luis pada Vano.
__ADS_1
Vano mengalihkan pandangannya menatap tajam Luis. "Kamu mengingingkan jawaban kan?, Kamu pasti mendapatkannya, semuanya. Jadi diam dan tonton filmnya nanti saja bertanyanya dan drama-drama keluarga kalian itu," ujar Luis dengan tegas.
"Lanjutkan," ujar pada anak buahnya dan kembali duduk di tempatnya, namun sebelum boko**nya sampai di sofa sebuah pistol tertodong ke kepalanya.
Luis mengangkat tangannya dan berbalik menatap siapa orang yang menodongkan senjata padanya. "Wes ... slow, Tuan Albarta Jhon," ujar Luis dengan senyum miring khas miliknya.
"Apa yang kau inginkan?, dan siapa dirimu?" tanya Albarta dingin, namun Luis tak bergeming membuat Albarta kesal dan menarik pelatuk pinstolnya, tapi tiba-tiba sebuah pistol tertodong padanya, pas cenguk lehernya.
"Sa-sayang," kaget Vino ketika melihat istrinya menodongkan senjata pada Papanya. Semua orang menatap Star yang dengan sengaja menodongkan senjata pada mertuanya.
"Turunkan senjatamu," ujar Star dingin seperti bukan Star yang biasa. Sikap, tatapan mata yang tajam, wajah datar dan dingin, semuanya berubah 180° derajat.
Luis tersenyum penuh kemenangan, menatap Albarta. "Turunkan, turunkan."
Albarta menurunkan senjatanya, Lalu berbalik menatap menantunya, dengan pandangan tidak percaya.
"Kembali duduk!" ujar Star dingin dengan sorotan mata bak elang. Star juga masih menodongkan senjata pada Albarta.
Film kembali di lanjutkan di mana, Albarta dengan tanpa rasa ibah dan belas kasih membunuh ayah kandungannya sendiri.
"Ke-kenapa kamu melakukan in-ini pada, Pa-papa?" tanya Tuan Jhon menatap putra semata wayangnya.
Albarta tersenyum devil. "Kamu bertanya?, Biar aku berikan jawabannya," ujarnya sembari membantu Tuan Jhon kembali ke posisi berdiri.
"Arrrrggggg ..." teriak Tuan Jhon karena Albarta dengan sadis kembali menusuk jantung Papanya.
"Sakit? ( mengangkat sebelah alisnya), atau ini mengingatkan kamu akan sesuatu?" tanya Albarta dengan wajah gelap karena amarah.
__ADS_1
"A-apa mak-maksud kamu put-" ujar Tuan Jhon terpotong tergantikan teriakan saat jantung satunya kembali di tusuk dengan pisau yang begitu panas.
"Aarrgg ...."
Albarta mencengaram dagu Papanya. "Jangan sekali-kali mulut kotor mu menyebutku dengan sebutan putraku, karena aku bukanlah putramu," ujarnya lalu menempelkan pisau panasnya pada bibir Tuan Jhon, membuat bibir Tuan Jhon berdarah.
Tuan Jhon tak hentinya meringis kesakitan. "Ti-tidak," ujarnya mengelengkan kepalanya saat sebuah pedang panas berada di tangan Albarta.
"Tidak?" tanya Albarta kembali mengangkat alisnya, Denham senyum devil.
Teriakan kesakitan Tuan Jhon kembali mengema di dalam Reagan mewah itu. "Arrhhgg ...."
"Ini untuk rasa sakit tusukan yang kau berikan pada ibuku," teriak Albarta menarik dan menusukkan sedang panas itu pada tubuh Tuan Jhon tanpa ampun.
"Dan ini untuk segala rasa sakit yang kau berikan pada ibuku, iiiiaaa ( teriaknya menebas kepala Tuan Jhon ).
Alabrta melepas tubuh Papanya, membuat tubuh paruh bayah itu tersungkur jatuh ke lantai dengan darah yang mengalir deras keluar.
"Mam, aku telah membalas semua rasa sakit yang di berikan padamu. Istirahatlah dengan tenang di sana," ujar Albarta dengan mengusap foto mediam Mamanya.
......................
Albarta menjalani hidup dengan baik, tanpa rasa bersalah telah membunuh Ayah kandungnya sendiri, bahkan ia memberikan kabar palsu tentang kematian ayahnya pada khalayak publik.
"Maaf, Tuan. Anak buah kami memberi kabar keberadaan anak dari Tuan Alberta," ujar Anak buahnya di jambore.
"Habisi segera, aku tak ingin masih ada akar yang akan tumbuh di masa depanku. Dan menganggu hidupku," ujar Albarta dengan santai dan datar.
__ADS_1
"Baik, Tuan," ujar Anak buahnya lalu menghilang dari ruangan Albarta.
#continue ....