
Dirumah sakit para Dokter berlari keluar, setelah mendapat kabar bahwa putra dari pemilik rumah sakit menuju kesini dengan keadaan darurat.
Tak lama mobil Vano sampai dirumah sakit. Dengan cepat Vino turun membukakan pintu untuk kakaknya.
Vano berlari mengendong Franc masuk kedalam rumah sakit.
Para Dokter langsung menyambut kedatang Vano, tapi terkejut saat melihat kondisi Franc yang berbaring di atas brangka.
"Kalian tunggu apa lagi, cepat bawah dan periksa keadaannya," ucap Vano marah melihat dokter hanya memandangi Franc
Star yang berada dibelakang Vano manahan tawa melihat keterkejutan Dokternya.
"Frnac, aku tau kamu pasti ingin tertawa, lihat Pak Vano memarahi para dokter, hanya karena luka goresan saja," ucap batin Star menatap Franc yang berbaring.
"Astaga. Kenapa, jadi hebo seperti ini. Ini juga Dosen Killer, tidak liat apa, aku hanya terluka gores saja," ucap bantin Franc mengintip sedikit dan melihat begitu banyak dokter berada disampingnya.
Franc didorong masuk ke ruang pemeriksaan, dan para dokter pun hanya bisa bersikap profesional, memeriksa dan mengobati luka Franc.
Dokter yang lain ingin kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi ditahan oleh Vano. "Dokter mau kemana?" tanya Vano.
"Maaf Tuan, kami akan kembali bekerja," ucap salah satu Dokter.
Vano kembali tersulu emosi mendengar ucapan Dokter itu, dan dengan marah Vano berucap, "Kembali bagaiamana. Kalian saja belum memeriksa keadaan kekasih ku, dan kalian ingin pergi?"
"Maaf Tuan, tapi dokter Gerry sudah ada menangani didalam," ucap Dokter itu lagi.
"Lalu kenapa?, Kalian masuk dan periksa keadaan kekasih saya," ucap Vano yang tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Tapi, Tuan- " ucap Dokter terpotong saat Vano menatapnya tajam.
"Apa kalian ingin keluar dari rumah sakit ini," ucap Vano tegas dingin.
Para dokter seketika takut mendengar ucapan Vano. "Maaf, Tuan kami akan memeriksa keadaan kekasih, Anda."
"Hemm," ucap Vano hanya menjawab dehem saja.
Para Dokter masuk kedalam ruangan pemeriksaan Franc. Sedangkan Star dibelakang Vano benar benar tersiksa menahan tawanya.
Vino melihat Star yang ingin tertawa bertanya, "Kamu kenapa menahan tawa seperti itu?, Kamu tidak khawatir sama sahabatmu? tanya Vino.
Star jadi salah tingkah saat Vino memergokinya menahan tawa. "Hum. Ha, tidak aku tidak tertawa, aku hanya teringat saat bersama Franc melakukan kekonyolan."
Star dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Iya. Dia itu Macan Betina pasti akan baik baik saja," ucap Star lirih.
"Hum, kamu ngomong apa?" tanya Vino tak mendengar dengan baik ucapan Star.
"Tidak ada," ucap Star menggelengkan kepalanya.
"Macan Betina. Kamu benar benar membuat orang lain tersiksa," batin Star.
................
Will meninggalkan sahabatnya dan naik keatas kamarnya. Will membuka pintu kamarnya, dan melihat Selin berdiri di jendela menghadap keluar.
__ADS_1
Selin kaget dan berbalik saat tangan kekar melingkar di perutnya.
"Uuhhmm."
"Tuan, Uuhhmm."
"Aaahhh," ucap Selin mengeluarkan suara merdunya saat Will memberikan stempelnya dileher jejangnya.
"Kamu sudah selesai makan?" tanya Will melihat wajah Selin.
Selin hanya menganggukan kepalnya saja, "Hmm."
"Kalau begitu, waktunya aku memakan dirimu," ucap Will langsung mengendong Selin kearah ranjang nya.
Will kembali membawa Selin meraungi cakrawala. Will berhenti setelah beberapa kali menembakkan benihnya di ladang Selin.
Selin tertidur didalam pelukan Will, karena begitu lelah melayani hasrat Will yang tak ada puasnya.
Mereka berdua bangun di malam hari saat perut mereka keroncongan.
Will menekan tombol di samping tempat tidurnya. "Bawakan makanan kekamarku," ucapnya dan kembali mencium punggu Selin.
"Aku mohon jangan," ucap Selin lirih.
"Kenapa?, Kamu berani menol- " ucap Will terpotong saat Selin langsung menyerga ucapannya.
Selin yang tak ingin membuat Will marah, dan menyiksanya lagi langsung menyerga ucapannya. "Tidak. Aku hanya lelah, dan sakit di bahagian bawahku."
__ADS_1
Will tersenyum dan kembali mengkungkung Selin. Selin yang kembali di kungkung, terlihat hanya bisa pasrah, dan menutup matanya.