
"Franc. Kamu disini?" tanya Star saat melihat Franc berjalan ke arahnya.
"Hemm."
Franc duduk dikursi dekat Star dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Ada apa?" tanya Star lagi karena melihat wajah Franc yang marah.
"Tidak ada."
"Franc katakan padaku ada apa, jangan berbohong. Kita inikan sahabat, bahkan sudah seperti saudara. Jadi katakan ada apa?" ujar Star yang tau banget perubahan setiap mimik wajah Franc.
"Aku benci diriku sendiri," ujar Franc marah menatap tajam kedepan.
Star mengerutkan keningnya, ia menatap Franc. "Maksud kamu?"
Franc menatap tajam lurus kedepan. "Jantungku berdetak lebih cepat saat dia berada didekatku, dan dadaku sesak terus saat melihat dia tersenyum untuk wanita lain."
Star yang mendengar ucapan Franc mengepalkan tangannya, ia terlihat begitu marah. "Maksud kamu apa!, Kamu jangan bilang kalau kau sudah jatuh cinta dan melupakan tujuan utama kita."
Setiap ujapannya penuh penekanan, bahkan mata elang Star sudah seperti tatapan elang yang kelaparan pada mangsanya.
Franc mengepalkan tanganya dengan kuat. "Tidak aku tidak melupakan tujuan kita," ujar Franc cepat.
"Dan itu tidak akan pernah!" ujar Franc lagi penuh amarah.
"Tapi aku juga tidak tau kenapa dengan hatiku. Maka dari itu aku membenci diriku yang memiliki perasaan seperti itu," ujar Franc tak berdaya dengan perasaan hatinya.
__ADS_1
Memang seharusnya kamu membencinya!, Karena itu memang suatu keharusan yang harus kamu lakukan!, Karena jangan sampai kamu jatuh cinta padanya. Karena jika tidak," ujar Star menjeda ucapannya
Star sangat marah, ia mengepalkan tangannya kuat bahkan tangannya sampai berdarah.
"Jika tidak. Maka aku sendiri yang akan menghabisi dia. Kamu setuju atau tidak!, aku akan menghabisinya!" ujar Star begitu marah, tak ada ucapannya yang tak ia tekan.
"Nyawa dibalas nyawa!, Darah di balas darah!, Penghianatan dibalas dengan penghianatan!, Itulah hukum yang berlaku," ujar Star lagi.
Dada Star terlihat naik turun berusaha mengendalikan emosinya yang memuncak. Sedangkan Franc diam tanpa suara menatap kedepan.
Angga yang sibuk mempersiapkan acara lamaran Vano sebentar malam, berhenti sejenak saat ponselnya berbunyi.
Angga melihat yang melihat tag nama Tuan Mudah Vano, dengan cepat ia mengangkat telpnnya. "Hallo, Tuan Mudah."
"Angga kamu cari tau siapa yang bersama Franc sekarang," ujar Vano langsung menyerobot ucapan Angga.
"Berikan itu pada yang lain. Kamu lakukan yang aku minta sekarang!" ujar Vano menyerga ucapan Angga.
"Aku sudah mengirimkan plat mobilnya. Kamu cari tau siapa pemilik mobil itu, dan siapa dia sebenarnya. Kamu mengartikan!" ujar Vano lagi dengan tegas.
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
"Bagus. Kerjakan dengan cepat," ujar Vano meminta agar Angga bergerak dangan cepat.
"Baik Tuan," jawab Angga.
sambungan telpon diantara mereka terputus.
__ADS_1
"Pekerjaan yang satu belum selesai sudah ada pekerjaan lain lagi. Memang dasar Tuan Mudah stres," gerutu Angga yang belum juga tidur, bahkan mandi pun ia belum.
Trin.
Angga membuka ponselnya karena ada pesan masuk.
"Jangan mengumpatku, kerjakan cepat yang aku minta," isi pesannya.
"Astaga ... apa Tuan Mudah Vano cenayang, bagaimana dia bisa tau kalau aku ini lagi mengumpatnya," ujar Angga kaget membaca pesan Vano.
Ponsel Angga kembali berbunyi, ia melihat Tuan Mudahnya yang kembali mengirim pesan.
Trin.
"Cepat kerjakan!, Jangan sampai mulutmu itu tidak bisa lagi mengeluarkan suara," isi pesan Vano.
Angga dengan cepat membalas pesan Vano saat membaca isi pesan yang terakhir. "Baik Tuan."
Angga kembali menyimpang ponselnya, ia membuang napas kasar. "Huuuu."
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay....
__ADS_1