LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 80


__ADS_3

"Aarrrgg ..." teriak Arga saat Berry sudah berada di atasnya.


"Auurrrr."


Berry meraung, hingga memperlihatkan taringnya yang sangat tajam, yang mampu merobek tubuh manusia.


Berry menatap Arga yang berada di bawah kunkungannya. Arga yang melihat Berry mendekat kewajahnya, membuatnya gemetaran.


"Ja-jangan mendekat," ujarnya memalingkan wajahnya.


"Akhirnya kamu bangun juga," ujar seseorang yang baru datang, Lues. Tapi Lues masih memakai topen macan.


Arga menoleh ke arah Lues yang berekspresi datar.


"Heii lepaskan aku, kaparattt," teriak Arga membuat Berry kembali meraung.


"Auurrr."


Seketika Arga terdiam, melihat tatapan tajam Berry, yang sudah seperti ingin memangsanya.


Lues tersenyum sinis menatap Arga yang ketakutan. "Argadana Putin, pemimpin Seju. Tolong tenanglah, jika tidak nyawa kamu akan segera terbang ke langit."


"Apa mau mu?" tanya Arga langsung, karena dia tau jika tidak ada yang di inginkan darinya maka dia pasti sudah tidak hidup lagi.


"Pertanyaan yang bagus," ujar Lues tertawa mengerikan.


"Katakan dengan cepat, dan cepat lepaskan aku dari sini."


Raut wajah Lues tiba tiba berubah semakin menyeramkan. "Apa kamu tidak mengerti ucapanku kemarin?, Kamu akan keluar setelah pemimpin kami menginginkannya."


Arga yang seketika diam, melihat wajah Lues yang tidak ada ramah-ramahnya.

__ADS_1


Lues masuk kedalam kandang Berry, Berry langsung mendekatinya, dengan cingirannya.


Lues mengusap kepala Berry, dan berjalan mendekati Arga yang berbaring di rumput hujau. "Tuan Arga, sekutu dari Alberta pandaan dari Tuan Devano. Memiliki rencana, pembunuhan keluarga Albarta, dengan cara menculik Albarta dan memasukkan Albarta palsu, bukan begitu?"


"Bagaimana dia tau," ujar batin Arga kaget mendengar ucpaan Lues yang mengetahui semua rencananya.


"Tidak perlu berbasa basi, cepat katakan apa yang kau inginkan."


Arga bangkit, ia menatap tajam Lues. Tapi bukannya Lues merasa tertekan tapi malah ia sendiri merasa tertekan saat Lues melemparkan tatapan maut padanya, di tambah tatapan tajam Berry yang berada di samping Lues.


Lues kembali bereksperi datar. "Hal kecil."


"Katakan."


Lues memberitahu apa yang dia inginkan, menjelaskan segalanya, sesuai dengan rencana Franc yang sudah tersusun.


"Baiklah. Sekarang lepaskan aku," ujarnya menyetujui semuanya.


Lues melepas satu tembakan pada rahang Arga, secara tiba-tiba. Hal itu mampu membuat Arga shock.


"Aarrgg. Bajingan beraninya kau menembaki aku."


"Aku tak pernah mengulang perkataanku, jadi kamu jangan pernah melakukan apapun yang membuatku mengulangi perkataanku. Jika tidak satu persatu peluru ini akan bersarang di setiap tubuhmu."


Lues memang tak pernah suka jika di sudah mengatakan hal tapi ada orang yang kembali mengatakan hal yang sama atau membuatnya mengulangi perkataannya.


Lues pergi dari sana, sedang Arga merintih kesakitan dengan rahangnya terus mengeluarkan darah.


"Kurang ajar. Tapi tatapannya sungguh mengerikan. Aaahhhh."


"Kalian keluarkan peluruhnya, pastikan dia tetap hidup," ujar Lues pada salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Lues kembali ke ruangannya, yang ada di marks tersebut. Ia mengambil ponselnya, mengirim pesan. "📤 : Queen, tunggangan Anda segera siap."


"📩: Bagus. Pastikan dia bisa aku tumpangi dengan bagus," balas Franc.


"📤: Pasti, Queen."


"Alberta, tersenyum lah, karena pada saat aku datang sebagai maut mu, tidak aku biarkan senyum itu terukir lagi," ujar batin Franc menatap Albarta palsu di depannya.


"Kendalikan ekspresi mu, jika tidak semua orang akan curiga," bisik Star yang duduk di sampingnya.


......................


"Auuh ... ini di mana?, Kenapa aku di ikat?"


"Heii ... siapapun lepaskan aku!"


Tak ada jawaban di sekitarnya, hanya sebuah kesunyian.


"Kenapa gelap sekali. Dan juga sepertinya tak ada orang-orang disini."


"Kenapa pengikatnya sangat kuat."


...#continue ......


...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...


...Agar, Author juga semakin semangat update. ...


...See you bay-bay. ...

__ADS_1


__ADS_2