
Dimeja makan yang panjang dengan berbagai macam makanan tersaji diatas meja dengan rapi.
"Kemana Bara, kenapa dia tidak datang," ucap Will, mencari Bara yang tidak nongol nongol batang hidungnya.
Karan dan Andi hanya mengangkat kedua bahu mereka dan fokus menyantap makanannya.
Beberapa saat Bara terlihat berjalan dari pintu menujuh kearah mereka.
"H, itu dia baru nongol," cap Karan saat melihat Bara.
Andi dan Will mengangkat kepala mereka melihat Bara, betapa kagetnya mereka saat melihat bibir dan wajah Bara penuh dengan luka lebam.
"Lo kenapa bibir nonjol gitu?, Lo habis dipukul sama siapa?" tanya Andi.
"Gue tidak tau siapa mereka, tapi katanya kita semua sudah ngibarin bendera perang ke klan Tiger Two's," ucap Bara menarik salah satu kursi dan duduk di samping Will.
"Tiger Two's?" tanya Will berhenti makan.
"Hmm," ucap Bara memegangi bibirnya karena sakit saat dia berbicara.
"Memangnya Lo buat masalah apa dengan mereka?" tanya Karan.
Selama ini Tiger Two's tidak akan turun, jika tak ada yang membangunkan mereka.
"Aku tidak tau dan aku juga tidak gila mencari masalah dengan mereka," ucap Bara juga tidak tau kenapa Tiger Two's mengincar dirinya.
"Kalau, Lo tidak mencari masalah Tiger Two's tidak mungkin turun kelapangan kecuali ada orang yang melukai ataupun menyinggung orangnya," ucap Karan.
"Will menurut Lo, gimana?" tanya Andi.
"Munurutku apa yang dikatakan Karan itu benar, mereka tidak akan turun tangan langsung di lapangan jika tidak mengangggu mereka. Jadi mungkin saja Lo, Bar tanpa sengaja menyinggung salah satu dari mereka," ucap Will yang tau betul tentang bagaimana Klan Tiger Two's.
"Lalu sekarang kita harus gimana?, tanya Karan.
"Aku akan bertemu dengan ketua mereka dan mambahas masalah ini," ucap Will.
"Bagaiamana kalau mereka tidak mau," ucap Andi bertanya dengan kemungkinan yang akan terjadi.
"Iya, tidak ada jalan lain kita berperang dan terus bertahan," ucap Will kembali melanjutkan makan.
"Ha. Apa Lo gila, ingin berperang dengan mereka," ucap Karan terkejut dengan ucapan Will.
"Kekuatan mereka itu jauh di atas kita," timpal Andi.
"Kalau gitu katakan padaku apa yang harus kita lakukan?, bersembunyi atau melarikan diri atau menyerah mengorbankan nyawa kita, apa kita harus seperti itu?" jawab Will menatap semua temannya.
"Iya tidak juga, tapi- " ucap Andi terpotong dengan ucapan Will.
"Sudahlah kita akan melawan jika mereka bergerak kalian hanya perlu waspada," ucap Will berdiri dari duduknya.
"Dan Lo Bar, harus terus berhati hati karena kita tidak tau dimana keberadaan mereka bahkan mereka menempati hampir setiap sudut di negara dan kota ini," ucap Will lagi memperingatkan Bara.
"Will Lo nakutin gue aja," ucap Bara merasa takut.
"Gue serius, mereka menyamar dengan berbagai ragam ada sebagai seorang pegawai kantoran, warga biasa, pedagang pinggir jalan, dan masih banyak, jadi hati hati mereka bisa mengepung Lo kapan saja," ucap Will lalu pergi meninggal kan meja makan.
__ADS_1
"Lo sendiri sih, kenapa cari masalah," ucap Andi.
"Gue juga tidak tau siapa orang mereka," jawab Bara.
"Aku sarankan sebaiknya, Lo tinggal saja dirumah tak perlu keluar," ucap Karan mengtakut takuti Bara.
"Walau dia tinggal dirumah, mereka masih akan bisa melukai targetnya," ucap Will kembali masuk.
"Gue kira Lo udah pergi jauh," ucap Andi saat melihat Bara masuk lagi.
"Kunci mobil gue keluapaan." ucap Will cuek.
"Lo tau dari mana," tanya Bara saat mendengar ucap Will tadi, Will tidak menjawab dan hanya berjalan keluar.
................
Mobil sport Vano baru saja masuk dan terparkir di depan pintu masuk rumahnya. Vano keluar dari mobilnya, berjalan kesisi pintu penumpang.
"Ayo turun," ucap Vano membuka pintu untuk Franc.
Franc keluar dari dalam mobil dengan menerima uluran tangan Vano. "ini rumah siapa?" tanya Franc memperhatikan sekeliling.
Vano tak menjawab, dan mengandeng tangan Frnac masuk kedalam. "Mama, Mama," teriak Vano memanggil Mamanya .
Mama Rena yang duduk berada diruang tamu bangkit, berjalan kearah pintu. "Eee. Ada caLon mantu Mama, ayo masuk, sayang."
Vano kesal saat Mamanya mengabaikan kehadirannya dan menyambut orang lain. "Ma, aku ini putra Mama Loh, kenapa aku yang diabaikan."
"Kamu jangan manja deh, tinggal masuk aja," ucap Mama Rena tanpa menoleh kebelakang, dan tetal berjalan masuk menuntung Franc ke ruang tamu.
"Maaf Nyo- Ma, tapi kemari- " ucap Franc terpotong karena Vano lebih dulu menyerga ucapannya.
"Kemarin Franc kecapean Ma, jadi Vano bawah pulang," jawab Vano duduk di samping Franc.
Mama Rena kesal saat Vano yang menjawab. "Aku tidak tanya sama kamu, kenapa kamu yang jawab," sarga Mama Rena kesal karena Vano mencampuri urusan sesi tanyanya ke Franc.
"Lah Franc kan pacar Vano, jadi terserah Vano, donk," ucap Vano santai dan tangannya dia letakkan belakang Frnac.
"Sayang, apa anak mu itu membuatmu kesal lagi," ucap Papa Alberta yang baru datang duduk di samping istri nya sembari memeluknya.
"Hmmm," ucap Mama Rena mendramatis keadaan.
"Kalau gitu masukin aja dia kembali ke perut Mama," ucap Papa Alberta santai.
Mereka berdua asik dengan obrolan mereka bahkan terlihat sangat mesra seakan dunia milik mereka berdua.
"Hmmm, masih ada orang ini," dehem Vano yang jengah melihat tingkah orang tuanya yang bermesraan tanpa melihat tempat.
"Hehe, maaf sayang kamu melihat semuanya," ucap Mama Rena tertawa karena malu.
"Tidak apa kok Ma," ucap Franc.
"Baru tau ternyata keluarga dari dosen killer modelan pak Vano ternyata humoris juga," ucap bantin Franc yang tak menyangka Vano yang dingin memilki keluarga hangat.
"Bahkan Pak Vano juga sangat hangat beda banget saat berada di kampus," ucap bantin Franc lagi yang sedari tadi memperhatikan Vano.
__ADS_1
"sayang," panggil nama Rena tapi Franc tidak menjawab.
"Franc," panggil Mama Rena lagi menyentuh lengan Franc.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Mama Rena.
"Uh. Tidak kok Ma, aku tidak apa apa," ucap Franc tersadar dari lamunnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Mama Rena lembut.
"Iya Ma sudah kok, sebelum kita kesini," ucap Franc lembut.
"Baiklah," ucap Mama Rena.
Vano melihat mamanya yang ingin terus bertanya, dia takut jangan sampai Mama bertanya yang tidak tidak dan mengetahui semuanya.
"Ayo," ucap Vano menarik tangan Franc berdiri dari duduknya.
"Kamu mau bawah kemana Mantu, Mama?" tanya Mama Rena yang belum selesai bertanya, tapi Vano menarik tangan Franc pergi dan berjalan kearah tangga.
"Ke kamar," ucap Vano santai menaiki tangga.
"Vano," panggil Mama Rena tegas berdiri dari duduknya.
"Iya Ma, Vano tau jadi mama tenang aja, Vano hanya tidak mau pacar Vano jadi nyamuk di antara Papa dan Mama," ucap Vano membuat alasan.
"Ohh. Otak mu masih berfungsi rupanya, ayo sayang," ucap Papa Alberta menarik Mama Rena kembali duduk di sampingnya, memeluk pingganya sembari menikmati Coffe.
................
"HaLo, bagaimana?"
"Semuanya sudah sesuai keinginan, princes."
"Bagus, terus lakukan."
"Baiklah."
#******continue ππππ
...Like πππ readers harapan author...
...comments πππ readers harapan author...
...see you bay bay...
...Sarangeβ€...
...----------------...
......................
...****************...
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
__ADS_1