
Angel membulatkan matanya melihat label yang bergelantung di leher salah satu gaun yang ia pegang. "Ini ..."
Sedangkan Alberta yang melihat hal itu, mendekati sang pacar. "Jangan liat harganya, kalau suka langsung ambil saja," ujarnya dengan senyum manis.
"Tapi ini sangat mahal, Bert. Aku akan pilih yang lain aja," ujar Angel dan ingin mengembalikan baju itu ke tempatnya, namun langsung di tahan oleh Alberta.
"No problem, pacar kamu kan kaya. Kita ambil ini saja, kamu suka kan?" ujar Alberta, ingin memberikan pada pegawai untuk di bungkus tapi dengan cepat Angel mencegahnya.
Angel mengelengkan kepalanya dengan cepat."No. Aku tidak suka yang itu. Semuanya aku tidak suka, gimana kalau kita pindah saja," ujarnya, ia pun menarik tangan Alberta keluar dari toko, namun di tahan oleh Alberta.
"Mau pilih , atau semua baju-baju yang ada di sini akan ada di rumah kamu, mau?" ujar Alberta tak ingin keluar sebelum membeli baju.
"Tapi- " ujar Angel ingin menolak tapi ucapannya langsung di serga oleh Alberta.
Alberta meletakkan jarinya telunjuknya di bibir Angel. "Sttt ... maupilih atau ... " ujarnya menggantung ucapannya.
Angel yang tau akan percuma menolak, mau tak Iyakah ia mengalah. "Iya, iya, baiklah. Dasar pemaksa," ujarnya sembari mengerutu mengumpati Alberta.
Angel kembali berjalan menelusuri toko itu, sampai pada akhirnya mendapat sebuah gaun. "Ini sangat cantik, tapi ... " ujarnya bersinar namun seketika berubah saat melihat label harga gaungnya.
"Kenapa?" tanya Alberta dari belakang Angel.
Angel terkejut dengan keberadaan Alberta yang tiba- tiba, setelah tersadar ia dengan cepat mengembalikan gaung yang ada di tangannya, dan berbalik menatap Alberta.
"Kamu kagetin aku. "
"Kamu suka itu?" tanya Alberta.
Angel yang di tatap seperti itu, menjadi sedikit gugup menggoda mu. "Tidak. Ak-aku tidak suka," ujarnya gugup, ia pun langsung pergi dan mencari gaung yang cocok dengannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Angel, Aleberta melirik ke arah pegawai toko. "Bungkus semua yang dia pegang," ujarnya datar.
"Baik, Tuan," ujar pegawai dengan sopan sembari menundukkan kepalanya sedikit.
Sedangkan Angel terus mencari gaun, sembari sesekali melihat label harganya. "Hufh, kenapa semua harganya sangat mahal ya," gerutunya kesal, karena ia tak mendapat satupun pakaian dengan harga lebih murah.
Setelah beberapa saat, akhirnya senyum indah di wajahnya terlijat, dengan di tangannya sebuah gaun berwarna bold dengan legang pendek, dan panjang di atas lutut. "Ha, ini dia. Lumayanlah dari pada baju-baju sebelumnya yang terlalu mahal. Ini cukup cantik," ujarnya menatap binar baju itu.
"Sayang, aku sudah memilih," ujarnya membalikkan badan menatap Alberta.
"Oiya?, coba aku liat," ujar Alberta mendekati Sang Kekasih.
Angeo mengangkat gaun yang ia pilih dengan semangat. "Ini dia."
"Kamu suka?" tanya Alberta.
"Yakin, gak mau yang tadi?" tanya lagi kembali memastikan.
Dengan cepat Angel mengangukkan kepalanya. "Yakin. Aku sangat suka yang ini."
"Baiklah, mari kita bayar," ujar Alberta tersenyum.
Mereka neruda berjalan ke kasir, untuk membayar belanjaan mereka.
"Permisi, Nona, silahkan," ujar kasir memberika paper bag belanjaan mereka.
Angel berbalik, namun sangat terkejut. "Maaf, tapi saya hanya beli satu saja," ujarnya karena begitu banyak paper bag belanjaan padahal ia hanya pilih satu baju saja.
"Itu semua aku yang minta. Bukankah sudah aku bilang ambil yang kamu suka, tapi kamu tidak mendengarkan, jadi begini jadinya," ujar Alberta santai mendekati Sang pacar setelah menelpon sebentar.
__ADS_1
Angel ingin menolak. "Tapi ini- " ujarnya namun langsung di serga oleh Alberta.
"Sudah. Kalian bawah ini ke mobil," ujar Alberta pada anak buahnya.
"Baik, Tuan," ujar anak buahnya.
"Bert,"
Cup.
"Ah, kamu menyebalkan, Bert," gerutu Angel karena Albeta menciumnya di tempat umum.
"Terima kasih. Aku anggap sebagai pujian," ujar Alberta tersenyum bangga.
"Dasar aneh," ujar Angel lengah.
"Apa ini semua sudah selesai. Dengar ini tidak ada sama sekali hubungannya dengan kami, jadi lepaskan keluargaku sekarang," ujar Vano marah, dia tidak mengerti kenapa keluarganya di bawah-bawah sedangkan yang ada di dalam film itu hanya ada pamannya dan seorang wanita yang ia tidak kenal sama sekali.
Pria bertopen itu menatap datar Vano. "Sttt ... bagaimana bisa kamu berfikir ini tidak ada hubungannya dengan keluarga mu?, coba tanyakan itu pada mereka," ujarnya datar menunjuk ke arah belakang di mana ada keluarga Vano.
Vano ingin berbalik kebelakang, namun segera di tahan oleh Pria bertopeng. "Tapi nanti aja. Kita nonton film dulu, nanti juga kamu akan tau," ujarnya masih dengan nada datar.
"Lanjutkan," ujarnya lagi pada anak buahnya untuk kembali melanjutkan filmnya.
...#continue .......
..."Hai Readers, menurut kalian apa hubungan keluarga Vano dan film yang sedang mereka tonton?"...
...Temukan jawabannya hanya di Love The Mafia...
__ADS_1