
Hari telah berlalu, begitu pun bulan berlalu telah berganti. Hari ini adalah hari kelahiran seorang putri dari sosok singa betina penguasa Klan Tiger.
"Pa, sakit," rintih Angel terus memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Iya, Sayang, tahan sebentar yah kita sebentar lagi sampai," ujar Tuan Wisma sembari mengengam tangan putrinya memberikan kekuatan pada putrinya.
"Bar, tambah kecepatannya," ujar Tuan Wisma pada Asistennya untuk menambah laju mobil mereka.
"Iya, Taun."
Angel berusaha menahan sakit dan mengatur napasnya. "Hu hu hu hu ... Arrgg ... hu ...."
"Al, sakit," keluhnya pada sahabtanya.
Alda mengengam erat tangan Angel. "Aku tau kamu kuat, bertahanlah sebentar lagi," ujarnya memberikan semangat.
Tak lama mobil mereka sampai di depan rumah sakit milik keluarga Angel. Para Dokter dan juga Perawat sudah berjejer menunggu kedatangan pemilik rumah sakit setelah mendapat kabar dari tangan kanan sang pemilik rumah sakit.
"Cepat putri saya mau melahirkan," ujar Tuan Wisma membaringkan Angel di atas brangka.
"Tuan tenang saja kamu akan membantu putri anda dalam proses persalinannya," ujar Dokternya meminta Tuan Wisma agar tenang.
"Hati-hati," ujar Tuan Wisma saat Angel sudah di dorong masuk ke dalam ruang persalinan.
"Aaarrrrhh ..."
"Sedikit lagi, Nyonya," ujar sang Dokternya.
Sebelum kembali mengejan Angel mengatur napasnya lebih dulu. "Hu, hu, hu, Aaarrggg ..." teriak Angel kencang.
"Ayo sedikit lagi, Nyonya."
Angel kembali mengejan. "Aaaaarrrrrhhh ...."
"Oek, oek," tangis bayi Angel.
Mendengar tangis bayi, Tuan Wisma membeku di tempat sebelum bereaksi.
"Bar ... ta-tangis ... cucu ... Kakek," ujar Tuan Wisman tak tau harus mengatakan apa ia menangis terharu bahagia.
"Selamat, Tuan, Anda telah menjadi seorang kakek," ujar Bara memeluk sang atasan yang sudah seperti Kakaknya sendiri. Ia juga menangis tergaru bahagia mendnegar tangisan bayi dari nona mudanya yang sudah seperti anak untuknya.
"Selamat kau sudah menjadi ibu yang sangat kuat. Kau melahirkan seorang putri yang sangat cantik," ujar Alda menghapus peluh sahabatnya.
Ya memang benar yang menemani Angel dalam proses persalinannya adalah Alda, karena Tuan Wisman tak mampus saat melihat putrinya merasa kesakitan, cukup saat ia menemani istrinya dulu kala melahirkan Angel.
__ADS_1
,Angel hanya bisa tersenyum, ia masih belum bisa berkata apa karena lelah.
"Saya mau lihat putri saya," ujar Tuan Wisman mendekati dokter yang membantu Angel melahirkan.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan, karena putri Anda masih di bersihkan, nanti setelah selesai Anda baru bisa menemuinya" jelas sang Dokter.
"Baiklah. Terima kasih dokter sudah membantu putriku melahirkan anaknya," ujar Tuan Wisman tulus.
"Itu memang sudah menjadi tanggung jawab kami," ujar Dokternya lagi.
"Bara hubungi pihak meneger rumah sakit ini, naikkan semua gaji Dokter dan para perawat. Dan gaji khusus untuknya," ujar Tuan Wisman sembari menunjuk dokte yang membantu proses persalinan Angel.
"Baik, Tuan," sahut Bara dan langsung menghubungi pihak manager rumah sakit.
"Terima kasih Tuan," ujar Dokternya.
"Kalau begitu saya permisi lebih dulu, Tuan," ujar Dokternya.
"Silahkan Dokter," ujar Tuan Wisman.
Tak lama pintu ruangan terbuka bersamaan dengan seorang perawat. "Pasien sudah bisa di lihat, tapi hanya sebentar karena pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat," ujar perawatnya.
"Terima kasi," ujar Tuan Wisman.
Hari ini Tuan Wisman begitu banyak mengucapkan kalimat terima kasih, padahal dulu kata 'maaf dan terima kasih' hanya orang beruntung yang bisa mendapatkannya. Tapi hari ini sunggu luar biasa.
"Pa ..." ujar Angel tersenyum melihat ke arah Papanya.
Taun Wisman mendekati ranjang Angel dengan perlahan matanya tak lepas dari bayi munggil lucu itu. "Dia sangat cantik, sama seperti dirimu," ujar Tuan Wisman mengusap lembut pipi sang cucu dengan sangat hati-hati.
Angel tersenyum menatap putrinya yang benar-benar mirip dengannya. "Iya, Pa."
"Selama Nona, atas kelahiran putri Anda," ujar Bara.
"Terima kasih, Uncle Bara. Aku juga bisa melahirkan dengan baik karena Uncle Bara selalu menjaga aku dan bayiku selama kehamilan," ujar Angel.
"Sama-sama Nona," ujar Bara.
......................
"Tidak!. Aku tidak setuju," batah Alberta dengan keras.
"Aku tidak meminta pendapatmu," ujar Tuan Jhon Papa Alberta, dingin.
"Tapi, Pa, aku ini anak tertua Papa, jadi seharusnya aku yang menjadi pemimpin bukan, Dia," protes Alberta menunjukk Albarta yang terlihat tenang menyaksikan semua itu.
__ADS_1
"Itu benar tapi kamu telah melanggar aturanku, dan lagi pula kamu bukanlah anak kandung Papa," ujar Tuan Jhon.
Alberta seketika kaget mendengar ucapan Papanya. " Ap-apa ... ti-tidak, it-itu tidak mungkin. Papa pasti berbohongkan agar aku mengalah dan setujuh jika dia menjadi pemimpin, iya kan?" ujar Alberta tidak percaya ucapan Papanya.
"Tidak ( tegasnya dengan nada dingin ). Papa tidak berbohong. Kamu adalah anak dari hasil perselingkuhan Mamamu," ujar Tuan Jhon mengepalkan tangannya saat mengingat hal itu.
"Lalu kenapa, Papa tidak mengatakannya?" tanya Alberta.
"Karena kamu memilki kekuatan yang bisa ku jadikan pion untuk mengalahkan ayahmu sendiri, dan benar saja kamu sendiri yang membunuh ayahmu. Hahahaha," ujar Tuan Jhon dengan di akhir kalimatnya ia selipkan tawa iblisnya.
"Ti-tidak," ujar Alberta mengelengkan kepalanya saat mengingat kalau yang sudah ia bunuh ternyata ayahnya. Dan saat ia mengingat wajah ayahnya yang tersenyum saat ia memukul dan menembakinya, tak ada perlawanan sama sekali ternyata ini alasannya.
"Brengsek!!!" teriak Alberta ingin menyerang Tuan Jhon tapi langsung di tahan oleh para anak buah sang Papa.
Tuan Jhon berjalan mengelilingi putra tirinya. "Kamu tau setiap aku melihat wajahmu ( mencengram wajah Alberta ) aku selalu memikirkan bagaimana wanita yang ku cintai mend***h di bawah kunkungan pria bejat itu, seketika itu juga amarah ku naik dan ingin rasa aku mengahabisimu saat itu juga, tapi aku tahan agar aku bisa memberikan rasa sakit padanya sama seperti rasa sakit yang aku alami," ujar Tuan Jhon dengan amarahnya terlihat jelas di wajahnya.
"Ti-tidak," ujar Alberta terus mengelengkan kepalanya.
"Hahahaha ... seret dia keluar," ujar Tuan Jhon tanpa belas kasih.
Alberta di seret keluar oleh para bodyguard.
"Tunggu," ujar Tuan Jhon.
"Mulai sekarang kamu bukanlah anakku dan aku mencabut namaku sendiri dari namamu," ujar Tuan Jhon namun Alberta hanya menatap marah pada Tuan Jhon.
"Bawah dia keluar," ucap Tuan Jhon dan para bodyguard kembali menarik Alberta keluar dari ruangan tersebut.
Tuan Jhon berbalik dan menatap putranya, Albarta. "Selamat. Sekarang kamu telah menjadi pemimpin sesungguhnya, Papa harap kamu bisa menjadikan klan kita semakin besar," ujar Tuan Jhon membuka tangannya.
Albarta menyambut pelukan Papanya. "Terima kasih, Pa."
"Huk ... ka-kamu, me-menusuk Pa-Papa," ujar Tuan Jhon menatap tak percaya putranya.
Alberta hanya tersenyum devil melihat wajah terkejut sang Papa.
...#continue ......
...Readers jangan lupa:...
...Vote. ...
...Like. ...
...Comments....
__ADS_1
...Favorite. ...