
"Aku yang akan ke markas, kamu jaga saja keponakan cantikku ini," ujar Alda.
"Alda benar sayang, Anggi ( Franc baby atau Anggi Franc Alberta ), lebih membutuhkan kamu di sini," ujar Tuan Wisma setujuh dengan ucapan Alda.
"Tapi-" baru saja ingin berbicara Alda dengan segera menyerga ucapan Angel.
"Sudah. Dengarkan kami, Angel. Kamu percaya padaku aku akan mengurus semuanya, heum?" ujar Alda menyakinkan Angel.
"Baiklah. Tapi kamu harus berjanji harus berhati-hati," ujar Angel.
"Kamu tenang saja, karena aku bukan lagi Alda dua tahun lalu," ujar Alda kembali dengan sedikit songong.
"Iya, itu benar. Tapi aku tetap ingin kamu berjanji padaku kalau kamu tidak akan kenapa-napa," ujar Angel meminta Lada berjanji pada untuk selalu hati-hati dan kembali, karena hatinya tak tau kenapa tiba-tiba gelisa dan khawatir, biasanya juga tidak.
"Baiklah, aku berjanji padamu kalau aku akan baik- baik saja, dan kembali untuk hidup melihat peri kecil ini ( mentoel pipi Franc kecil yang dibalas dengan senyum manisnya ). Sekarang kamu puas?, boleh aku pergi sekarang?" ujarnya.
"Huem. Pergilah," ujar Angel dengan nada seperti gak rela.
"Baiklah. Pa, Alda pergi dulu," ujar Alda tak lupa berpamitan pada Tuan Wisma yang sudah menjadi ayah angkatnya.
Tuan Wisma mengusap kepala putri angaktnya. "Iya, sayang hati-hati," ujar Tuan Wisma.
Alda bergerak keluar dari rumah besar kediaman Wisma Arnold.
"Ada apa sayang, kenapa wajahmu terlihat sangat gelisa?" tanya Tuan Wisma yang melihat raut wajah gelisa putrinya.
"Aku juga tidak tau, Pa. Tapi hatiku tak berhenti memikirkan Alda," ujar Angel yang benar-benar gelisa dengan kepergian Alda.
"Sudah sayang, kamu percaya saja pada Alda. Papa yakin kok dia akan baik-baik saja," ujar Tuan Wisma berusaha menenangkan putrinya walau ia juga merasa gelisa entah kenapa.
Angel menganggukkan kepalanya, berusaha menyakinkan dirinya sendiri. "Semoga saja. Karena jika tidak mereka semua akan melihat sisi lain dari diriku," ujar Angel dengan tiba-tiba bahkan nadanya cukup terdengar sangat dingin.
"Iya, sayang. Papa tau."
Tuan Wisma menatap foto istrinya yang terpajang di dindin ruang keluarga. "Sayang kenapa sikap iblismu kau turunkan pada putri manisku ini," ujarnya dalam hati, dengan mengusap kepala Angel lembut.
......................
"Ada apa❄?" tanya Alda pada supirnya karena tiba-tiba menghentikan mobil.
"Maaf Nona, mobil kita di hadang," ujar supir itu.
Alda melihat keluar dan benar saja sudah ada 10 mobil dengan pria bersenjata lengkap. Alda tak bergeming dan tetap tenang.
"Heii!, buka pintunya," ujar musuh mengetuk kaca jendela bagian belakang.
Dengan wajah datar, Alda dengan perlahan menurunkan kaca jendela mobilnya.
Krek.
Krek.
Suara patahan leher begitu nyaring di dalam mobil. Ya Alda baru saja mematahkan leher musuhnya yang mengetuk pintu mobilnya.
"Mundurkan mobilnya, tabrak mereka," ujarnya lagi tanpa melepas leher musuhnya yang baru saja ia patahkan lehernya.
__ADS_1
Melihat mobil target berniat kabur, dengan segera musuh menembaki mobil Alda. Musuh terus menembaki kaca jendela kursi penumpang, tapi sangat sulit karena tubuh rekannya yang di jadikan tameng oleh Alda.
"Telpon balah bantuan," ujar Alda pada supirnya.
"Baik, Nona," ujarnya sang supir dan langsung menekan tombol di telinganya.
Tubuh musuh yang sudah tak bernyawa itu di lempar oleh Alda setelah mobil sudah lepas dari kumpulan para musuh, dan kini mereka saling kejar.
"Di depan belok kanan," ujar Alda sembari terus melihat pergerakan musuh dari belakang.
"Baik, Nona," ujar supir dengan patuh.
Dor, dor, dor.
Alda melepas tembakan pada musuh yang ingin menyalip mobilnya, dan tembakannya selalu tepat sasaran, membuat mobil para musuh oleng kemudian terjungkal.
Melihat tembakannya tak pernah meleset, Alda bersorak dengan penuh kesenangan. "Yah, uuhhh, Alda di lawan," soraknya dengan bangga. Namun kebahagiaannya itu harus menghilang terganti dengan ringinsan ke sakitan.
Cittt.
Mobil di rem mati oleh supir karena di depan musuh menghadang jauh lebih banyak dari pada yang sebelumnya.
"Auh ... kamu bawah mobil bagaimana sih?, Ha!. Sampai kepalaku terbentur. Sakit banget lagi," gerutunya dengan mengusap kepalanya.
"Maaf, Nona,-" ujar supir meminta maaf pada Alda, dan belum juga selesai dengan ucapannya seseorang sudah ada yang mengedor pintu bagian belakang.
"Turun," ujar seorang musuh yang berhasil membuka paksa pintu mobil dengan sebuah kunci, entah kunci macam apa itu.
"Auh, auh, lepas!" ujar Alda berusaha berontak namun, tangannya di pegang dua pria dengan badan besar.
"Nona," ujar supir dengan lemah karena berhasil di lumpuhkan oleh musuh.
Drttt.
Ponsel Pemimpin pasukan musuh berdering dengan cepat mengangkat telponnya saat melihat nama Sang Pemimpin.
"Apa kau sudah berhasil," tanyanya dengan dingin dari seberang telpon.
"Kami sudah berhasil, Tuan, tapi yang ada di mobil bukan Nona Angel-" ujarnya terpotong karena teriakan keras dari Alda.
"Lepas!."
"Ck. Lepaskan aku. Sebenarnya siapa kau?, Kenapa menculikku. Kalian benar-benar tidak tau malu, beraninya menculik seorang perempuan seperti diriku. Dasar pria pengecut," marahnya dengan berteriak.
"Hei, jika kau berani kita by one. Lepaskan aku!" ujarnya berteriak pada telpon musuhnya.
Karena kesal dan sudah berani berteriak pada pemimpin mereka, pemimpin pasukan mengambil sebuah suntikan dan langsung menyuntikkannya ke tubuh Alda.
Seketika Alda merasakan tubuhnya melemah. "Apa ya-yang kau suntikan padaku," ujarnya dengan suara yang berangsur-ansur menghilang.
"Jauh lebih baik," ujar pemimpin kelompok saat melihat Alda sudah tak sadarkan diri.
"Maaf, Tuan, Nona ini dari tadi tak henti-hentinya berteriak. Dan untuk masalah Nona Angel kami minta maaf atas-" ujarnya kembali ingin menjelaskan kejadiannya tapi langsung di potong oleh orang di seberang sana.
"Segera kau bawah perempuan itu ke hadapanku. Sekarang!" ujarnya dengan begitu tegas.
__ADS_1
"Baik, Tuan," ujar pemimpin kelompok itu dengan tegas.
"Ke mension, pemimpin, sekarang!" ujarnya tegas pada pilot yang mengendarai helikopter agar segera putar balik.
"Baik, Tuan."
......................
"Uncle Bara?"
Angel mengangkat panggilan Bara. "Iya, hallo Uncle. Ada apa?" ujarnya.
Bara di seberang telpon kaget mendengar suara Angel pasalnya ia tadi menelpon Tuan Wisma.
"Hallo, Uncle ... apa Uncle Bara bisa mendengarku?" tanya Angel lagi saat Bara tak menjawabnya.
"Ha, iya Nona, saya mendengar suara Anda," ujar Bara gelagapan.
"Ada apa, Uncle?" tanya Angel lagi.
"Maaf Nona, saya hanya ingin memberikan laporan pada Tuan Wisma.
"Laporan apa?" tanya Angel lagi.
"Siapa yang menelpon sayang?" tanya Wisma yang baru saja dari dapur membuatkan susu untuk cucu tersayangnya.
"Oh, ini Uncle Bara, Pa," ujar Angel memberikan ponsel Papanya.
"Iya hallo, Bar, ada apa?" tanya Tuan Wisma sembari manoel-noel pipi cucunya.
"Saya ingin melaporkan bahwa supir yang membawa Nona Alda di temukan tewas di jalan G," ujar Bara yang berada di lokasi kejadian.
Seketika Tuan Wisma membeku, tangannya berhenti menoel-noel pipi cucunya, melihat perubahan raut wajah Papanya Angel menatap sang Papa.
"Ada apa, Pa? kenapa wajah Papa shock seperti itu," tanya Angel.
"Tidak ada sayang. Ini hanya soal kerjaan saja. Kamu di sini temani cucu kesayangan Papa ini dulu, Papa ingin keruang kerja dulu, ada pekerjaan yang harus Papa kerjakan," ujar Tuan Wisma dengan kembali berekspresi seperti biasa.
Tuan Wisma beranjak pergi, masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Kenapa sikap Papa tiba-tiba berubah seperti itu?"
"Oek, oek, oek," tangisan Franc kecil atau Anggi.
"Ululu, cup, cup, sayang," ujar Angel menenangkan putrinya.
"Katakan bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Tuan Wisma setelah sampai di ruang kerjanya.
"Saya masih tidak tau dengan jelas,Tuan. Tapi anak buah kita mengatakan bahwa mereka di telpon untuk datang ke jalan G karena membutuhkan bala bantuan," ujar Bara.
"Cari tau segera semuanya, dan ingat jangan sampai Angel tau soal ini," ujar Tuan Wisma lagi.
"Baik, Tuan," ujar Bara, setelah itu telpon di antara mereka terputus. Tuan Wisma duduk di kursinya.
"Jangan sampai Angel tau semua ini, kalau tidak semua bisa tak terkendali," gumannya.
__ADS_1
#continue ....
See you the next Episode, Readers.