
"Queen, Princess, silahkan." ujar Lues menyambut kedatangan pemimpinnya.
Franc dan Star berjalan lebih dulu kedepan, dengan pandangan mata tajamnya. Mereka mengunakan topen identitasnya, Tiger Two's.
Franc dan Star masuk ke ruangan yang sudah di bookings oleh Lues.
Franc dan Star fokus memperhatikan layar monitor di depannya, melihat Arga dan seseorang dengan Juba menutupi wajahnya.
"Oh, ternyata rencana kalian cukup matang tapi, Sayang aku sudah mengetahuinya," ujar Franc tersenyum devil saat orang yang memakai juba memperlihat wajahnya.
"Bantu mereka menjalankan misinya," ujar Franc lagi tersenyum manis, tapi sangat mengerikan untuk orang yang sudah mengenal senyuman itu.
"Tapi Queen- " Lues berhenti berujar saat Franc menatapnya dengan sangat tajam.
"Lues kamu lupa cara bermain Klan Tiger Two's?"
Franc berdiri di hadapan Lues, menatapnya dengan tajam. Franc ngitari Lues yang berdiri tegak.
"Kamu harus ingat Tiger Two's tidak akan berjalan kaki, tapi kita selalu memiliki tunggangan, jadi so kita harus ngapain?" tanya Franc bertanyak dengan belati kecil di tangannya, dengan racun menutupi seluruh besinya.
"Kita hanya perlu menunganginya," ujar Star menatap layar monitor, tersenyum manis tapi mematikan.
"Dan ... " ujar Franc menggantung kalimatnya.
"Kita nikmati kemenangan itu," ujar Lues cepat saat belati Franc bertengker di lehernya.
"Bagus. Jangan pernah mencoba mengubah atau melupakan cara bermain Tiger Two's, karena jika tidak itu akan sangat merugikan," ujar Franc kembali duduk.
"Siap Queen."
Dikamar sebelah, Arga menatap orang yang berada didepannya, ia tersenyum puas.
"Aku yakin tak akan ada yang mengenali wajahku ini, dengan begitu kita akan mengalahkan mereka dan menjadi penguasa Klan Jambore," ujar orang itu.
"Tentu. Tapi kamu harus ingat JANGAN SAMPAI KAMU MENYENTUH ATAU MENGORES SEDIKITPUN CALON NYONYA ARGANA," ujar Arga menekang kalimatnya.
"Itu tidak akan terjadi," ujar orang di depan Arga.
"Baiklah, aku percaya, dan semoga itu tidak terjadi. Karena ... " ujar Arga menggantung ucapanya.
__ADS_1
Arga mengeluarkan pedang panjang di bali punggungnya, ia mengarahkan pedanganya ke leher orang itu. "... jika nanti kamu berani sengaja atau tidak, maka kepalamu yang akan jadi biayanya."
Orang itu menelang ludahnya kasar, ia tak mampu mengimbangi aurah membunuh Arga.
......................
"Bersenang-senanglah, aku akan datang sebagai maut-mu yang mematikan. Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Itu sudah pasti."
Franc mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, menatap tajam kearah depan, membuat suasana di dalam ruangan itu berubah menyeramkan.
Star yang duduk di samping Franc, tiba tiba merasakan perutnya seperti di aduk aduk, sangat tidak enak.
Ooeek.
Ooeek.
Star berlari masuk ke kamar mandi, dan langsung muntah.
Star keluar setelah perutnya agak mendingan, ia merasakan tubuhnya sangat lemas.
"Kamu kenapa?, Aku harap apa yang aku pikir tak terjadi?" ujar Franc menatap Star yang berjalan ke arahnya.
Star menjawab dengan tegas, menyanggah pemikiran Franc.
"Bagaimana kamu yakin?"
"Aku selalu meminum ramuan yang Arnas berikan, jadi bagaimana mungkin terjadi."
Star duduk di sofa karena tiba-tiba energinya terkuras habis.
"Pergi ke markas dan lakukan pemeriksaan," ujar Franc dingin tak terbantahkan.
Star menatap Franc. "Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Aku percaya padamu, tapi aku tak ingin ada darah pembunuh Mam Angel di wilayahku," ujar Franc mengalihkan pandangannya kedepan.
"Baiklah, aku akan menemui Arnas dan memeriksakan diri."
"Hueemm."
__ADS_1
"Franc berdiri dari duduknya. "Aku akan kembali, kalian kembalilah juga. Dan Lues tetap pantau terus pergerakan mereka, minta anak buah untuk tetap waspada dan apalagi sampai lengah. Karena jika mereka lengah maka bukan musuh yang akan memisahkan kepala mereka, tapi aku sendiri yang akan melakukannya. Aku tidak mau apa yang sudah aku rencakan kacau. Pembunuh Mam Angel harus segera di hukum."
Franc berkata dengan tegas dan penuh penekanan disetiap kalimatnya.
"Siap, Queen," jawab Lues menundukkan kepalanya.
Franc dan Star keluar dari ruangan, membuat Lues dan anak buah lainnya, bernapas lega.
"Queen, kalau sedang mode pemimpin sangat menyeramkan. Ia terlihat seperti Macan kelaparan, sekaligus seperti iblis yang haus akan darah," ujar salah satu anak Tiger Two's yang berdiri dibelakang Lues.
"Itu benar, aku bisa melihat sifat Queen Angel dalam dirinya. Cantik, beracun, berbahaya, misterius, sangat sulit di tebak," ujar yang lainnya.
Lues berbalik menatap mereka tajam. "Apa kalian ingin kehilangan kepala, karena terus menggosipkan, Queen?"
Mereka semua serempak menundukkan kepala. "Maaf, Tuan Lues."
......................
"Di mana Arnas?" tanya Star yang datang ke markas dan langsung mencari Arnas. Salah satu dokter khusus Klan Tiger Two's.
'Tuan Arnas, sedang berada di laboratorium, Princes," jawab salah satu dari mereka.
"Panggil dia. Katakan aku menunggu di ruang pemeriksaan."
Star masuk kesuburan ruangan, dimana ruangan itu memang khusus buat pemeriksaan Anggota Klan Tiger Two's, jika ada yang terluka.
"Baik, Princes."
Tak lama seorang pria dengan postur tubuh tegak, dengan rahan tegas, berjalan menghapiri Star yang berbaring diatas ranjang pemeriksaan.
"Princes. Kata mereka Anda -" ujarnya terpotong dengan ucapan Star.
"Aku mau kamu periksa keadaanku, apa ramuan yang kamu berikan itu berfungsi atau tidak. Jika tidak maka bersiaplah kehilangan kepalamu," ujar Star dingin menatap tajam Dokter Arnas.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
__ADS_1
...See you bay-bay....