
"Kenapa?, Wajah di tekuk seperti itu, hem?" ujar Franc mendekati sang suami yang terlihat marah.
Vano mengubah ekspresinya, dan tersenyum pada istrinya. "Tidak. Hanya ada beberapa masalah kecil saja."
Franc tersenyum. "Baiklah. Apa sudah makan?" tanya Fran. sembari membantu Vano melepas dasi dan jasnya.
"Belum."
"Mau aku buatkan?" tanya Franc meletakkan jas kotor di keranjang.
Vano tersenyum. "Boleh."
"Iya sudah. Aku akan buatkan dan kamu mandi lah dulu," ujar Franc.
Vano hanya mengangukkan kepalanya saja, sedang Franc keluar menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk suaminya.
"Ini baru awal, bersiaplah untuk kejutan selanjutnya," ujar Franc dengan tersenyum devil.
Franc mengaduk masakannya. "Akan ku pastikan kalian semua tak akan bisa tidur nyenyak lagi mulai sekarang," ujarnya menatap tajam lurus kedepan.
"Siapa yang tidak bisa tidur nyenyak?" tanya seseorang yang membuat Franc terkejut.
"Hu. Mam."
Mama Rena yang kehausan ingin mengambil minuman tapi samar samar ia mendengar gumam menantunya.
"Iya, kenapa kaget seperti itu?, Dan siapa yang tidak bisa tidur nyenyak?"
Franc mengubah ekspresinya seperti biasa dan tersenyum. "Tidak. Franc hanya memikirkan Vano, soalnya di seperti ada masalah besar, dan itu mungkin saja akan mengganggunya dan membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak."
Mama Rena tersenyum bahagia, ia mengusap lengan menantunya. "Kamu tidak perlu khawatir, pasti mereka bisa menyelesaikan masalah yang terjadi."
__ADS_1
Franc yang mendengar ucapan mertuanya, diam-diam dalam hatinya tersenyum miring. " Itu dulu. Tapi tidak dengan masalah ini, karena masalah ini akan selesai setelah kalian semua merasakan hal yang sama yang ku rasakan."
Franc tersenyum manis memegang tangan Mama Rena yang mengusap lengannya. "Iya, Mam. Frnac percaya kok. Mereka pasti bisa nyelesaiin semua masalah ini."
Mama Rena tersenyum hangat, karena berfikir menantunya sosok yang dewasa dan baik.
"Apa itu makanan buat, Vano?"
"Iya, ini makanan buat dia."
"Setelah ini langsung istirahat ya. Mama masuk kamar dulu," ujar Mama Rena air minum.
Franc mengangukkan kepalanya. "Iya, Mam."
"Belum tidur?" tanya Franc pada Star yang berdiri di depannya.
"Belum. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Star balik.
Star mengedikkan bahunya. "Gak. Lagi pula kenapa masak malam-malam."
"Ini buat Vano, dia belum makan."
"Huem."
"Perhatian banget."
"Itu harus. Karena dia harus tetap sehat menyaksikan semuanya," ujar Franc dingin, bahkan ia mencengkeram spatulanya.
"Kamu sendiri ngapain belum tidur?" tanya Franc.
"Sama. Aku juga ingin masak, karena di belum makan," ujar Star terlihat sedikit kesal.
__ADS_1
"Huem."
Mereka sudah selesai memasak, dan siap untuk di sajikan. Tapi pada saat mereka ingin kembali ke kamar mereka, tiba-tiba melihat Vano dan Vino berlari menuruni anak tangga.
"Heii, kalian mau kemana?, Ini makanannya sudah siap," teriak Star.
Vano dan Vino mendekati istri mereka.
"Terima kasih, Sayang. Tapi kami harus pergi sekarang," ujar Vano menyuap masakan sang istri satu kali.
"Mau pergi kemana, ini sudah malam?" tanya Franc.
"Nanti aku jelaskan ya. Kami pergi dulu," ujar Vano, dan mereka langsung meleset pergi.
Franc dan Star saling menatap, lalu mereka saling melempar senyum.
Franc kembali ke kamarnya, dan mengambil ponselnya. Ia mengirim sebuah pesan pada Lues. "📤 : Kerja bagus," isi pesannya.
Star dan Franc menikmati masakan mereka. Mereka terlihat puas, dan bahagia, karena merasa puas akhirnya satu persatu misi mereka berjalan dengan baik.
"Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah mereka saat mengetahui semuanya, dan siapa kita," ujar Star.
"Bersabarlah."
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay. ...
__ADS_1