
"Franc, Star," guman Vano dan Vino saat melihat bodyguard yang mereka tempatkan menjaga kamar istri mereka terkapar tak berdaya di lantai.
Mereka dengan cepat membuka pintu kamar dengan sedikit kasar, membuat Franc dan Star yang berbaring di kasur bangun.
"Ada apa?" tanya keduanya, melepas melukan suaminya.
"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Vano dan memeriksa keadaan istri mereka masing masing.
"Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?"
Vano dan Vino baru bisa bernapas lega saat ia "Tidakkah mendapat lecet sedikitpun di tubuh istrinya. "Tidak. Aku khawatir saja, soalnya di luar bodyguard pada tertembak."
"Tertembak?" tanya keduanya lagi dengan tampang polosnya.
"Iya. Apa kalian tidak tau?" tanya Vano.
Franc dan Star serempak menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Ya sudah tidak usah di pikirin lagi, yang terpenting kalian tidak apa-apa."
Vano yang sudah lega istrinya tidak apa-apa tak lagi memperlihatkan semua.
Star kembali memeluk Vino. Kejadian tadi membuatku sangat takut."
Vino mengusap punggung istrinya. "Tidak perlu takut, ada aku di sini. Aku akan selalu jagain kamu."
Star tersenyum devil dalam pelukan Vino. "Tapi aku akan menjadi maut bagi kalian semua."
__ADS_1
Mereka melepas pelukannya. "Yah sudah, kita kembali ke kamar," ujar Vino tersenyum.
Star mengangukkan kepalanya. "Hueemm."
"Franc aku kembali ke kamar dulu," ujar Star tersenyum.
"Huem."
......................
Di markas Tiger Two's, Arga yang di kurung di kandang Berry, mulai tersadar.
"Huem. Ini aku dimana?" gumam Arga.
Arga bangkit sembari memegang kepalanya yang terasa pusing. Arga perlahan mengedarkan pandangannya, tapi baru saja dia ingin melihat sekelilingnya tiba tiba dikejutkan dengan seekor singa yang begitu besar berdiri di hadapannya.
Berry berjalan mendekati Arga, membuat Arga sedikit panik. Arga merogo kantong jas, dan celananya mencari senjata miliknya tapi tak ia temukan. Sedang Berry semakin mendekat dengan tatapan mata laparnya.
Arga panik dan terus mundur kebelakang, ia melihat sekeliling dan melihat seseorang yang berjaga di luar kandang.
"Heii, lepaskan aku. Cepat buka pintunya," teriak Arga berlari ke arah besi pagar kandang.
Para Bodyguard tak menghiraukan teriakan Arga ia seperti seorang yang tuli.
"Heii, heii. Cepat buka pintu kalau tidak akan membunuh kalian," ujar Arga mengguncang pagar besi dengan penuh amarah, takut, dan panik.
Seseorang baru masuk dengan topeng Macan. "Hahahahha. Tuan Arga, ternyata Anda sudah sadar."
__ADS_1
Pria bertopeng itu berjalan mendekati Arga, dengan sangat tegas. Dia adalah Lues. Lues memang sengaja memakai topen karena belum saat nya Lues tau siapa Queen mereka, karena dia ngasih di butuhkan sebagai tunggangan.
"Heii, kamu siapa?, cepat keluarkan aku," perintah Arga pada Lues dengan sangat marah.
Lues tersenyum sinis di balik topennya. "Oh, itu tidak akan terjadi. kecuali Pemimpin kami yang memberikan perintah itu."
Mendengar hal itu Arga semakin di buat kesal. "Dasar pengecut, kalau kalian berani hadap-"
Arga yang ingin menghina Lues, terhenti saat Lues dengan cepat melepas satu pelurunya, yang di penuhi racun.
Dor.
"Aahh," teriak Arga reflek.
Lues menatap tajam Arga. "Peluruhnya bisa saja meleset kali ini, tapi itu tidak akan meleset lagi jika kembali di lepas. Soo nikmati hari Anda Tuan Arga. Hahahahha."
Lues pergi dari sana dengan tertawa puas. Arga mengepalkan kedua tangan saat mendengar suara tawa Lues.
"Aahhgggrr. Beraninya mereka. Aku akan membalas kalian."
...#continue .......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya ...
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay. ...
__ADS_1