
Selin membuka matanya, melihat wajah Will penuh rasa benci dan rasa sakit. Selin bangun tapi are selangkangnya sangat sakit. "Auhh."
Will terbangun memdengar suara Selin. "Kau mau kemana?"
Selin tidak menjawab, dan tetap berusaha bangkit.
Will menarik tangan Selin, hingga kepalanya terjatuh di dadanya. Selin merintih kesakitan. "Aauhh."
"Aku sudah bilang, kalau aku bertanya jawab," ucap Will dingin menatap Selin tajam.
Selin berusaha melepaskan diri, dan tak menghiraukan ucapan Will.
Will marah diabaikan, dan kembali mengkungkung Selin. Selin menatap mata Will dengan penuh rasa sakit, benci, semuanya bercampur menjadi satu.
Will bangkit, membuang mukanya kearah samping. "Berhenti menangis," ucap Will yang tidak suka melihat wajah Selin yang seperti itu.
Selin bangkit dari ranjang tak menghiraukan ucapan Will sama sekali.
Selin berjalan tertatih tatih, sesekali merintih kesakitan. "Auhh."
Will memperhatikan Selin berjalan kearah kamar mandi, Will bangkit berjalan ke arah Selin.
Selin terkejut saat tubuhnya melayang. "Aahh. Turunkan aku."
Will mengendong Selin ala bridal style.
Selin yang tidak ingin di sentuh lagi oleh Will, terus memberontak. "Turunkan aku."
Will tak menghiraukan ucapan Selin, dan tetap mengendong Selin masuk kedalam kamar mandi.
Will mengisi bathtub dengan air hangat dan beberapa campuran. Will memasukkan Selin ke dalamnya, dan berjalan keluar kamar mandi.
Will menyimakkan selimut, mencari ponselnya. Will melihat ponselnya tapi dia juga terkejut melihat bercak darah di atas spreinya.
"Darah?, Apa dia masih gadis?"
"Pantas kemarin malam sangat susah. Ternyata dia masih gadis tin tin," ucap Will mengangkat bibirnya melengkung keatas.
"Tapi kenapa dia berpakaian seksi dengan make up tebal?, seperti wanita bayaran. Dasar wanita kaleng."
Will meraih ponselnya menghubungi seseorang. "Belikan beberapa Set pakaian wanita. Dan juga **********. Cepat," ucapnya setelah sambungan terhubung.
Will memutus sambungan telpon secara sepihak, Dia melangkah masuk kedalam kamar mandi, tapi terhenti mendengar suara tangis Selin.
Selin menangis tersedu seduh menggosok semua tubuhnya. "Aku kotor, hss. Aku kotor, hhss."
"Ak-aku sudah melakukan semuanya. Berpakain dengan sek-si berdandan tebal agar orang, hss, ora-orang mengira aa-aku wanita murahan, dan mereka akan jijik padaku. Ta-tapi ken-kenpa Pria brengsek itu melakukannya," ucap menangis mengosoki semua tubuhnya.
"Aku kotor, hhss. Kotor, kotor. Aahhh."
Will tersenyum lebar mendengar hal itu. "Ohh. Jadi dia sengaja berpakaian seperti wanita murahan, agar semua orang jijik padanya. Cerdas juga dia melindungi dirinya," ucap Will melangkah masuk.
Selin mendongakkan kepalanya saat Will berdiri di hadapannya, Dengan gerakan refleks Selin mundur.
Will melepas baju mandinya, masuk kedalam bathtub. Selin ingin bangkit keluar dari bathtub, tapi lebih dulu tangannya dicekal oleh Will.
"Diam. Kalau tidak dia akan terbangun, dan kamu yang akan menidurkannya," ucap Will yang memeluk Selin dari belakang.
Selin langsung terdiam tak bersuara. Will menyandarkan kepalanya kebelakang dan menyandarkan kepala Selin kedadanya.
................
__ADS_1
Di kampus Rose dan Merlin keluar dari kelasnya, berjalan ke kantin.
"Mer," panggil Rose.
"Hemm," sahut Merlin memainkan ponselnya.
"Sudah dua hari Selin tidak masuk. Kira kira kemana ya dia?" tanya Rose
Rose masih bingun kenapa Selin tidak masuk kampus selama dua hari berturut turut. Dan tak ada kabar sama sekali.
"Aku juga tidak tau. Kita datang ke rumahnya orang rumah pada tidak tau," ucap Merlin.
"Kamu di kontak tidak sama dia?" tanya Rose.
"Tidak sama sekali, dia tidak menghubungi aku dari kemarin."
Apa Selin diculik yah?" ucap Rose.
Merlin tertawa mendengar ucapan Rose. "Hahaha. Mana ada yang mau culik dia, Rose. Kalau ada yang nyulik dia pasti penculiknya pada tuli semua. Kamu tau kan, suaranya seperti apa. Apa lagi kalau dia sedang marah. Bisa bisa pecah gendang telinga penculiknya."
"Ihhh Merlin. Selin itu teman kita loh. Bagaiamana kalau benar Selin di culik."
"Ya gak mungkin lah. Selin itu sudah besar. Jadi tidak mungkin bisa diculik."
"Tidak. Sepertinya kita harus melaporkan semua ini pada polisi deh, Mer."
"Tapi bagaiamana kalau benar Selin tidak diculik?, kita yang akan dapat masalah. Mungkin saja Selin pergi menenangkan diri, seperti saat kita masih duduk di bangku SMA."
"Itu bisa jadi juga sih. Aku ingin mengasihani Selin tapi posisi kami sama. Sama sama memiliki orang tua yang sibuk hingga tak ada waktu untuk anaknya," ucap Rose yang tiba tiba melow.
"Sudahlah Rose. Kamu punya aku dan Selin. Kita bisa bersenang senang, kamu jangan sedih," ucap Merlin menghibur Rose.
Franc dan Star terlihat baru datang berjalan kearah salah satu meja dekat kasir.
Rose yang lagi bad mood, malas mencari keributan menolak ide Merlin. "Gak ah, Mer."
"Kenapa?" tanya Merlin.
"Lagi malas aja."
"Baiklah. Kamu tidak usah sedih. Bagaimana kalau pulang kuliah kita nongki nongki dulu."
Rose hanya tersenyum. "Baiklah."
"Begitu donk senyum. Ini baru bestyku," ucap Merlin tersenyum.
"Ayo makan," ucapnya lagi memakan makanannya.
Star yang baru duduk melihat kearah Selin dan Merlin.
"Malas banget ketemu mereka. Pasti mereka akan ngerjain kita," ucap Star malas.
Franc mengikuti tatapan Stat, melihat siapa yang dimaksud olehnya. "Ya elah. Pede benar kamu Star."
"Lihat saja. Sebentar mereka akan ngerjain kita."
"Oh ya?"
"Iya. Mau taruhan," tantang Star.
"Ayo. Apa taruhannya.," ucap Franc.
__ADS_1
"Taruhannya jika mereka nganggu kita maka, kamu yang akan bayar makanku. Dan jika mereka tidak menganggu kita maka kau yang akan bayar makanmu," ucap Star curang.
Weeiss taruhannya sangat bagus. Jika kau yang menang aku yang bayar makanmu dan jika aku yang menang aku sendiri yang bayar. Sangat bagus."
"Hahaha. Kamu ternyata sadar."
"Kamu pikir aku bodoh."
"Iya."
"Kamu tuh ya, benar benar ngeselin."
"Baru tau."
"Ngomong sama kamu, percuma," ucap Franc kesal sendiri.
"Iya, iya. Tapi jadi tidak taruhannya," ucap Star.
"Jika penawaran nya seperti itu, yang hanya kau yang akan diuntungkan dan aku yang dirugikan. Aku tidak mau!" ucap Frnac memakan makananya.
"Ya elah. Becanda kali Franc. Mau gak, ni?"
Baiklah."
"Itu lihat mereka berjalan kearah kita. Apa aku bila- bilang."
"Bu, Berapa semuanya?" tanya Rose membayar makanannya.
Setelah membayar semua makanannya, Rose langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan Star dan Franc.
Franc tertawa keras melihat expresi Star. "Hahahahha. Sekarang kamu keluarkan uang mu."
Star menatap Franc kesal. "Iya. Kamu makan saja. Habiskan saja makanannya. Akan aku bayar semuanya."
"Ohoo itu pasti. Aku akan menghabiskan makananku dengan senang hati," ucap Franc masih tertawa.
"Dasar geng Nenek Lampir, membuat kantongku bolong saja."
"Nyam, nyam, nyam," ucap Franc mengunyah makanannya dengan mulut monyong.
"Franc berhenti gak"
"Hahahahha."
Mereka berdua makan dengan damai dan dikujutkan dengan sesorang yang berdiri disamping meja mereka.
Star dan Franc mendongakkan kepalanya keatas melihat siapa orangnya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Star saat melihat orang itu adalah Vino.
"Ayo ikut aku," ucap Vino menyeret Star keluar.
#********continue 👋👉👉👉
...Sarange❤❤❤...
...----------------...
......................
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...