
"Aku tak pernah menyangka ini darimu ( memandang tak percaya Franc, memangku ibunya yang telah di tembak mati oleh), aku fikir kau adalah wanita lembut, penuh kasih sayang, walau terlihat dingin, tapi sayangnya ternyata aku salah besar, kau hanyalah wanita pembunuh, iblis haus akan darah, ambisius," emosi Vano menghina Franc, sedangkan Franc hanya menampilkan wajah dingin, tak merasa bersalah sama sekali.
"Aku sangat menyesal mengenalimu," ujar Vano kembali, namun ucapannya mendapat respon dari Franc.
Bibir Franc terangkat menatap suaminya. "Aku tidak pernah memintamu mengenaliku," ujar Franc dingin, datar.
Perkataan Franc membuat emosi Vano ada di ubun-ubun, seketika memuncak. "Kau!!!" Vano menodongkan senjata di depan Frnac, namun Franc yang tak menampilkan ekspresi apapun.
Dengan penuh amarah Vano menarik platuk senjatanya, bersiap untuk menembak kepala Franc tapi saat melihat bola mata Franc yang selalu membuatnya merasa tenang saat memandangnya, tak kuasa tangannya melepas peluruh senjatanya. Vano menurunkan senjatanya menatap nanar istrinya, masih ada rasa tak percaya, kecewa di hatinya, dan benar di dalam hati Vano paling dalam ia berharap ini semua hanya mimpi semata. Vano dengan rasa campur aduk di hatinya terduduk lesu di atas tanah, dia benar- benar berharap ini hanya mimpinya.
__ADS_1
Merasa semuanya sudah selesai Frnac berbalik, melangkah pergi meninggalkan tempat di mana balas dendamnya telah ia tuntaskan, begitupun Star ikut melangkah pergi mengikuti Franc, sedangkan Lues menyelesaikan sisanya bersama dengan anak buahnya.
Semua orang meninggalkan tempat kejadian, begitupun Vano mengangkat mayat ibunya kembali kerumah, sedangkan Vino turun kedalam jurang mencari ayahnya yang didorong turun ke dalam jurang, dengan harapan dapat menemukan ayahnya walau hanya jasadnya saja.
Dari langkah yang dulunya selalu beriringan kini langkah keduanya salin bertolak belaka. Dari kedua sisi tak ada satupun yang menoleh kebelakang, mereka melangkah pergi dengan membawah perasaan yang berbeda, Vano dengan rasa sakit di hatinya atas penghianatan yang di lakukan oleh orang yang di cintanya, sedangkan Franc melangkah pergi dengan rasa lega di hatinya karena dendam, dan rasa sakit di hatinya telah terbalas.
Dengan pandagan sendu Lues menatap punggung kedua pasangan suami istri itu yang semakin menjauh satu sama lain. " Ku harap kejadian ini adalah yang terbaik," ujar lirih Lues.
Sementara Vano sudah sampai di rumahnya, dengan hati-hati ia meletakkan Mamanya di lantai dengan raut wajah yang begitu dingin, sampai para pelayang tak ada yang berani mengatakan apapun, selain dengan cepat mengambil ahli, mengurus jasad Nyonya mereka.
__ADS_1
Pemakaman di lakukan dengan lancar, tak banyak orang yang datang ke pemakaman Ny. Rena, karena Vano menyembunyikan kematian Mamanya dari publik, yang tau hanya orang-orang di mension saja selebihnya tidak ada. Bahkan Vano dengan sangat tegas memberikan peringatan pada semua orang-orang di mension untuk tidak menyebarkan berita ini pada publik, jika tidak maka orang itu akan menghadapai kemarahannya, di mana membuat semua orang ketakutan apalagi perubahan sikap Tuan Muda mereka yang sangat berubah 180° dari biasanya.
......................
Hari terus berganti, kini satu tahun telah berlalu atas kejadian kelam itu. Seseorang dengan penampilan stelan hitam, rambut di tata rapi, tanpa senyum dan raut wajah, tak berekspresi apapun hanya ada raut wajah dingin, yang membuat setiap orang yang bertemu dengannya menundukkan kepalanya, bahkan orang-orang sangat berusaha agar tidak bertemu ataupun berpapasan dengan orang ini, Vano Albarta pria dingin, tak tersentuh, pria yang tak segang-segang membunuh siapapun yang berusaha mengusik diri, bahkan hukuman dari pemerintah tak membuat dirinya tunduk dan malah dialah yang membuat pihak berwajib dalam gengamannya. Sosoknya begitu di segangi, tak ada satupun orang dari kalangan bawah sampai kalangan atas yang berani mengusik kehidupan dari Vano Albarta, kecuali orang itu sudah bosan hidup dan ingin segera menemui kematiannya. Bahkan mungkin orang yang sudah bosan dengan hidupnya tak berani mengusik seorang Vano Albarta, karena kematian yang di berikan oleh Vano sangatlah sadis, dan itu semua sudah menjadi rahasia publik.
...#continue ......
...Readers selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin....
__ADS_1
...See you the next episode....