
Vano membawa Franc naik keatas panggung. Sedang Franc terlihat memasang wajah bingun.
Vano menatap Franc dengan lekat, menggenggam kedua tangannya.
"Franc. Satu nama ini yang membuat jiwaku resah saat tidak mendapati kamu di sampingku. Namun, galauku semakin menjadi ketika tidak mampu bahagiakanmu. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu."
"Malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Will you marry me?" ujar Vano berlutut di depan Franc dengan cincin ditangannya.
"Aahhh. Aku juga mau. Sweet bangetttt sihh," teriak Star.
"Kamu juga mau?" tanya Vino menatap Star.
Star mengangukkan kepalanya tanpa melihat Vino. "Heeumm."
"Jika nama aku membuat jiwamu resah saat mendapati diriku tidak berada disamping kamu, maka ketahuilah hatiku sepi tanpa kehadiran sosok dirimu. Dan jika dirimu galau saat memikirkan apa aku bahagia berada disampingmu, maka ketahuilah juga, kamu adalah sumber kebahagianku. Tanpa kamu sadari perhatian kecil dan ke khawatir yang kau lakukan sangatlah berarti untukku. Mungkin bagi orang hal–hal tersebut adalah hal kecil yang tidak memiliki arti, tapi bagi saya hal tersebut telah cukup membuat saya percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan sehidup semati saya ..." ujar Franc menggantung ucapanya.
Franc merenggangkan kedua tangannya, dan berucap dengan kearas, "Oleh karena itu lamaran ini saya terima dengan segaal pertimbangan yang ada."
Semua orang bertepuk tangan, setelah mendengar jawaban Franc. Vano berdiri dan segera memeluk Franc dengan erat.
"Terima kasih, terima kasih."
Vano managis dalam pelukan Franc. Franc mengusap pinggung Vano, mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
"Heuum."
Vano melepas pelukannya, menatap lekat Franc dengan penuh cinta, membuat Franc salah tingkah.
"Apa kamu hanya akan menatapku, tak ingin memasangkan cincinnya," ujarnya mengalihkan perhatian Vano, untuk tidak menatapnya terus.
Vano tersenyum. "Ha. Maaf, maaf."
"Selamat Tuan Alberta, selamat atas pertunangan putra sulungnya," ujar salah satu kolega bisnis keluarga Alberta.
"Terima kasih, Tuan Martin," ujar Papa Al menjabat tangan Tuan Martin.
"Selamat, Tuan Alberta," ujar Yang lainya.
"Selamat.Tuan Alberta."
"Hai, Jeng Rena. Aduh Selamat ya, akhirnya putramu sebentar lagi akan nikah," ujar teman-teman arisan Mama Rena.
"Iya, Jeng. Terima kasih ya," ujar Mama Rena tersenyum pada teman-teman sosialitanya.
"Tuan Devano selamat atas pertunangannya," ujar Arga yang datang memberikan ucapan selamatnya.
"Terima kasih, Tuan Arga," ujar Vano menyambut jabat tangan Arga.
__ADS_1
"Sama-sama," ujar Arga tersenyum menatap Franc.
"Tapi apa boleh saya mengatakan sesuatu," ujar Arga masih menatap Franc.
Vano yang menyadari tatapan Arga pada Franc, mengepalkan kedua tangannya, ia berusaha menahan emosinya.
"Silahkan, Tuan Arga, mau tanya apa," ujar Vano menahan amarahnya.
Arga melirik sekilah Vano dan kembali menatap lekat Franc.
"Tapi maaf sebelumnya, Tuan Vano. Sepertinya Anda harus berhati-hati menjaga tunangan Anda, jangan sampai ada orang yang mengambilnya menjadikannya sebagai ratu di istananya. Karena dia begitu cantik, aku yakin tak sedikit yang menginginkannya, apa lagi dia bukanlah wanita sembarangan," ujar Arga tersenyum manis pada Franc.
Franc mengepalkan kedua tangannya saat mendengar kalimat terakhir Arga. "Kurang ajar, ternyata pria brengsek itu sudah memberitahunya," ujar batin Franc.
"Aku harap orang itu bukan Anda, Tuan Arga," ujar Vano tersenyum tapi ucapannya penuh penekanan.
"Hahaha, itu bisa saja," ujar Arga tertawa menatap Vano.
"Ok, kalau seperti itu saya permisi, Tuan Vano dan Nona cantik," ujar Arga lagi, dan turun dari panggung.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya....
__ADS_1
...Agar, Author juga semakin semangat update....
...See you bay-bay....