LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 49


__ADS_3

Trin.


"Prances, Queen ingin bermain. Kami izin mencegat mobil Tuan Devano."


"Baiklah. Tapi ingat jangan sampai mereka terluka, jika tidak kepala kalian yang akan hilang. Paham!"


"Paham, Prances."


"Cuiit." Vano mengerem mobilnya saat sekelompok mobil Sport tak dikenal menghadang mobilnya.


Vano membunyikan klakson mobilnya, tapi mobil yang didepannya tak bergerak sama sekali.


Pin.


Pin.


Pin.


Vano turun dari mobilnya, berjalan mendekati mobil tersebut. "Tok, tok, tok," Vano mengetuk pintu kaca mobil, tapi tak dibuka oleh pemilik mobil.


Vano merasa marah, dia kembali ke mobilnya mengambil senjata. "Buka pintunya," ucap Vano menodongkan senjatanya.


Pemilik mobil tak bergeming sama sekali didalam mobilnya.


Dor.


Vano melepas tembakan, tapi tetap tak membuat Pemilik mobil bergeming.


Vano kembali mengarah kan senjatanya kearah kaca mobil.


Dor.


Dor.


Vano menembak kaca mobil orang itu, tapi jangankan pecah tergores pun tidak.


Vano benar benar marah, disaat yang bersamaan mobil Vino datang.


Melihat kakaknya menembaki mobil, dia pun turun dari mobil.


"Kamu jangan turun, berbahaya. Tetap di mobil. Paham!" ucap Vino pada Star.


Star menganggukkan kepalanya saja. "Hmm."


Vino keluar dari mobilnya berjalan mendekati Kakaknya.


"Kak Vano, kenapa?" tanya Vino.


"Haii, keluar kalian," ucap Vano tak menjawab Vino.


................


Disisi lain di kediaman Albarta. Terlihat pria paruh bayah itu berjalan kearah kamarnya.


Paman Albarta membuka pintu kamarnya dengan senyum di bibirnya.


Pintu terbuka lebar menampakkan sosok wanita berdiri menatap keluar jendela.


Paman Albarta mendekati wanita itu, ingin memeluknya dari belakang.


Saat sudah dekat wanita itu berbalik menghadap paman Albarta. Seketika wajah paman Albarta berubah pias.


"Kam-kamu, ba-bagai-bagaimana, a-ada di-disini."


"Hai," ucap Wanita Bertopeng Macan.


"Qu-queen Tig-tiger Two's," ucap Paman Albarta terpotong potong.


"Oh, ternyata kamu mengenaliku," ucap Wanita itu.


"Aap-apa yang mem-membawa Que-Queen datang?"


"Apa yang membuatku datang?, Kamu lucu sekali pria tua."


"Bukannya kamu yang membawaku kesini. Memerintahkan anak buahmu menculikku," ucapnya terus berjalan kearah Paman Albarta.


"Mak-maksud Queen Ap-ap, aku tidak per-pernah memint-meminta anak bua-bauhku," ucap Paman Albarta terbata bata dan terus mundur kebelakang.


"Oh, ya," ucap Wanita itu membuka topennya.


"Kam-kamu?" Paman Albarta kaget melihat wajah Franc yang bersembunyi di balik topen macan.

__ADS_1


Iya, aku. Kenapa?, Apa kamu sudah ingat, kalau kamu "sendiri yang membawaku kesini," ucap Franc tersenyum Devil.


Paman Albarta terus melangkah mundur. "Ti-tidak mungkin."


"Tidak mungkin bagaiamana, Paman!" ucap Franc semakin berjalan kedepan, dengan ditangannya memegang belati kecil.


Paman Albarta ketakutan dan memanggil para anak buahnya. "Pengawal."


"Pengawal. Hahahahha," ucap Franc tertawa meniru cara Paman Albarta memanggil anak buahnya.


"Bawah pengawal pria tua ini, masuk kedalam," ucap Franc dingin.


Seorang Pria berbadan besar masuk dengan menyeret mayat beberapa pengawal.


"Kamu!, Dasar penghianat," ucap Paman Albarta marah ketika melihat Asistennya adalah anak buah Franc.


"Heii tua bangka, Kamu pikir kamu bisa menculik Queen kami, Hahaha. Dasar bodoh," ucap Pria berbadan besar.


"Lues," panggil Franc.


"Yes, Queen."


"Apa tugas mu diluar sudah selesai?"


Sudah, Queen.


Bagus.


Kalau seperti itu, giliran Pria tua bangka ini.


Franc berjalan mendekati Paman Albarta. Loes mendorong Paman Albarta kedepan yang terus berjalan mundur.


"Ahhh," ucap Paman Albarta tersungkur ke lantai.


Franc berjongkok di hadapan Paman Albarta. Franc mengangkat tangan Paman Albarta menggunakan belatihnya.


"Tangan ini yang sudah menampar wajahku."


"Sreett."


Franc menyayat tangan Paman Albarta mulai dari lengan hingga ke ujung jarinya.


"Aaaaa," teriak Paman Albarta.


"Srettt."


Frnac kembali menyayat tangan Albarta membuat garis khatulistiwa yang panjang.


Lues berdiri dibelakang Franc memperhatikan apa yang dilakukan oleh Queen nya. Tiba tiba ponselnya berbunyi.


Trin.


"Lues, katakan pada Queen, untuk cepat menyelesaikan semuanya, sebentar lagi kelompok Vano datang kesana," isi pesan.


"Baik Princes," ucap Lues membalas pesannya.


Lues mendekati Franc. "Maaf Queen. Kata Princes sebentar lagi kelompok, tuan Vano akan datang."


"Hmmm. Ambilkan gergaji," ucap Franc meminta gergaji.


Lues keluar dan kembali membawah gergaji ukuran kecil, tapi sangat tajam.


Franc mengambil gergaji itu, mengarahkan pada tangan Paman Albarta.


"AHHHHHHHH," teriak Paman Albarta saat tangannya terpotong, seketika itu juga Paman Albarta pingsan.


"Bakar semuanya, tanpa tersisa," ucap Franc dingin.


"Baik Queen."


"Auhh," rintih Franc mengores wajahnya sendiri.


"Queen. Apa yang Anda lakukan?" tanya Lues saat melihat Frnac menggores wajahnya sendiri.


"Diam!, Dan lakukan tugas cepat."


"Baik, Queen."


Franc dan beberapa anak buahnya yang memang dia tempatkan disetiap sudut kelompok mafia mafia, keluar dari rumah itu. Memperhatikan kediaman Albarta hangus terbakar.


"Queen," teriak Lues saat melihat Frnac pingsan di tanah.

__ADS_1


Franc membuka matanya menatap tajam Lues. "Aku hanya berpura pura, kalian pergi dari sini sebelum ada yang melihat kalian."


Lues pergi tanpa mengatakan apapun, tak lama mobil Vano dan Vino sampai dilokasi kejadian.


Vano dengan cepat turun dari mobil, ketika melihat rumah Paman Albarta hangus terbakar.


"Franc," teriak Vano ingin masuk.


Trin.


Star memeriksa ponselnya yang berbunyi.


"Princes, Queen ada diseblah berat, dibawah pohon. Queen berpura pura pinsang."


"Kak, jangan berbahaya."


"Lepas. Vino lepas," ucap Vano.


Vino tetap berusaha menahan Kakaknya yang ingin masuk kedalam.


"Tidak, Kak. Itu berbahaya."


"Itu benar Pak Vano, berbahaya."


"Pak Vano itu bukannya Frnac ya," ucap Star menunjuk kearah barat dimana Franc terbaring tak sadarkan diri.


Vano dengan cepat mengangkat kepalanya melihat kearah telunjuk Star.


"Mana."


"Disana."


"Frnac," teriak Vano berlari kearah Frnac.


Vano mengangkat kepala Franc kepangkuannya. "Franc, sadar. Heii, sadar."


"Kak sebaiknya kita bawah dia kerumah sakit," ucap Vino memeluk Star.


"Husss. Frnac."


"Sttt. Tenang ya, ok. Sabahat kamu tidak apa," ucap Vino menenangkan Star.


"Queen dan Princes, sama saja. Ratu drama," ucap Lues bersembunyi di balik pohon.


Star melihat Lues dibalik pohon yang terus tersenyum melihat kearah mereka. "Kalian jangan mengumpatku dan menertawakanku," ucap Star mengirim pesan pada Lues.


"Kalian urus sampai bersih jangan sampai ada yang masalah dikemudian hari, pastikan semuanya beres tak tersisa," ucap Star mengirimkan


"Baik, Princes."


"Kamu kirim pesan kesiapa?" tanya Vino melihat Star memainkan ponselnya.


"Tidak ada, aku lagi cari nomor polis buat laporin semua ini," kilah Star dengan cepat.


"Kamu jangan telpon polisi."


"Kenapa?"


"Tidak apa, aku yang akan urus semua ini."


"Baiklah. Husss," ucap Star kembali beractin sedih.


"Ayo."


Vano membawa Franc kemobilnya. "Vin, kamu setir mobilku. Biarkan mobilmu dibawah oleh Angga."


"Baik, Kak."


Mobil Vano melaju menuju rumah sakit terdekat.


................


"Uuhhmm."


"Tuan, Uuhhmm."


"Aaahhh."


"Kamu sudah selesai makan?" tanya Will melepas pangutannya.


"Hmm."

__ADS_1


"Kalau begitu, waktu aku memakan dirimu."


__ADS_2