
Dor, Dor, Dor.
Suara tembakan tiba-tiba terdengar sebanyak tiga kali. Pasta tamu undangan panik dan berteriak.
Aaahhh.
Vano yang berada diatas panggung, bertahta kesalah satu bodyguard di dekatnya.
"Apa yang terjadi?"
"Kelompok bersenggama datang menyerang," jawab bodyguard.
Vano mengepalkan kedua tangannya, bisa diliat dari raut wajahnya yang terlihat sangat marah.
"Vino, jaga mereka biar aku yang hadapi mereka," ujarnya turun dari panggung.
"Tapi, Kak-"
"Dengarkan, Kak," ujar Vano menatap Sang Adik.
"Baiklah. Berhati hatilah," teriak Vino.
Vano mendatangi kelompok orang itu, ia dengan marah menatap tajam mereka semua.
"Siapa kalian?, Dan kenapa kalian mengacau di sini?
"Siapa kami?, Itu tidak penting. Yang terpenting yang harus kalian ketahui adalah bahwa kita awal kehancuran Keluarga Alberta. Hahahaha," ujar pemimpin kelompok itu.
Vano mengepalkan tangannya, ia sangat emosi saat mendengar seseorang ingin menghancurkan dan menyakiti keluarganya, terutama orang tuanya.
"Kaparattt," teriak Vano.
Dengan penuh kemarahan Vano memukuli pemimpin kelompok tersenyum.
Buck, buck, buck.
Perkelahian antar Anak buah Vano dan Kelompok asing tak terelakkan.
Sampai suara tembakan yang sangat keras terdengar, menghentikan perlawanan kelompok itu.
"Hai. Kalian jangan kabur," teriak Vano.
__ADS_1
Dor, Dor.
Vano melepas dua kali tembakan pada mereka, tapi tak tau dari mana sebuah pelindung datang menghalangi peluruh itu sampai pada pemimpin kelompok tersebut.
"Ahhh," teriak Vano pfrustasi.
"Vano, Vano sudah," ujar Papa Al menenangkan putranya.
"Siapa mereka?, Kenapa mereka pergi begitu saja. Kelihatannya mereka hanya pengelih. Apa yang sebenarnya terjadi?, Ini pasti ada sebuah konspirasi. Tapi apa?" tanya batin Vano yang merasa ada yang ganjal.
"Kak," panggil Vino mendekati Kakaknya.
"Hueehmm," ujar Vano tersadar dari lamunannya. Ia menatap Vino.
"Kenapa?" tanya Vino, kenapa Kakaknya sampai melamun.
"Tidak. Kakak hanya berfikir mereka datang tiba tiba melepas tembakan ke langit, membuat orang panik dan ketakutan. Setelah itu mereka pergi tanpa kata, setelah suara tembakan yang sangat keras. Kak pikir ini sebuah pengalihan. Ada sebuah konspirasi di dalamnya."
"Pengalihan?, Konspirasi?"
"Hueemm."
"Tapi pengalihan apa?, dan siapa di balik semua itu?"
"Tapi Kakak, juga sudah meminta para pengawal untuk memeriksa sekitar yang mencurigakan. Tapi mereka mengatakan tak ada satupun yang mencurigaka," lanjut Vano.
"Mungkin perasaan, Kak, saja," ujar Vino.
"Semoga saja."
"Lalu dimana Franc?" tanya Vano mengingat istrinya.
"Mereka ada di Villa. Mereka shock mendengar suara tembakan. Jadi aku bawah mereka ke sana."
"Apa mereka hanya berdua?" tanya Vano khawatir terjadi sesuatu pada Franc.
"Tidak. Aku sudah menempatkan beberapa bodyguard khusus berusaha di depan pintu untuk berjaga."
"Baiklah. Sebaiknya kita akhiri saja pestanya. Setelah itu kita kembali ke villa."
"Hueemm."
__ADS_1
Di Villa Franc berbaring di ranjang menatap langit kamar.
"Babak baru permainan sudah dimulai," ujarnya dengan tersenyum simpul.
"Kalian yang memulai permainan, dan kami akan mengakhiri semuanya," ujar Star tersenyum simpul juga.
Buck.
Buck.
Buck.
Mendengar suara ribut ribut diluar Star bangun.
"Ada apa diluar?"
"Kamu tak perlu melihat keluar, kita tunggu dia masuk," ujar Franc dengan santai masih berbaring dan tersenyum.
Tak lama pintu terbuka menampakkan sosok pria dengan wajah yang gagah, dengan postur tubuh tegak. Star tersenyum melihat pria itu.
"Woou. Tuan Arga, itu tenyata Anda. Apa Anda datang untuk menculik sahabatku?" ujar Star tersenyum.
"Anda sangat pandai, Nyonya Devino."
Arga melangkah masuk kedalam kamar. Sedangkan mereka hanya tersenyum menatap Arga.
"Oh, ternyata benar. Boleh aku tebak, penyerang yang terjadi di pesta adalah rencana Anda, iya kan?" tanya Star lagi.
Membuat Arga tersenyum. "Itu memang benar, Anda sangat pandai."
Star mengibaskan rambutnya kebelakang. "Oh, jelas. Tapi maaf sepertinya Anda harus pergi dengan tangan kosong."
"Oiya, Itu tidak akan terja- aaa ," belum selesai berucap seseorang memukul kepalanya dari belakang.
"Bawah dia. Kurung di kandang Berry," ujar Star tegas dengan senyum manisnya. Tapi sangat mengerikan bagi mereka yang tau arti dari senyuman itu.
"Baik, princess," ujar Lues menyeret Arga keluar.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...
__ADS_1
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay. ...