
"Pa," panggil mama Rena.
Papa Alberta yang fokus membaca surat kabar menjawab Mama Rena dengan deheman saja. "Hmmm."
"kira kira seperti apa yah calon mantu mama," ucap Mama Rena menoleh kearah Papa Alberta.
Papa Albertameletakkan surat kamar diatas meja mengambil kopinya, lalu menjawab pertanyaan istrinya dengan cuek. "Papa sih gak yakin putra mama punya kekasih."
Mama Rena sedikit kesal dengan apa yang dikatakan oleh Papa Alberta tentang Putra mereka. "Kenapa Papa ngomong seperti itu. Anak Mama itu ganteng pasti banyak cewek yang suka sama Vano dan Vino."
"Papa tau anak Mama memang ganteng, tapi dingin. Pasti semua wanita takut dengan putra Mama itu." uap Papa Alberta santai menyeruput kopinya.
"Itukan gen turunan Papa. Dan Papa juga dingin. Apa Mama juga harus pergi juga?" ucap Mama Rena kesal.
Papa Alberta langsung melihat kearah istrinya. "Kenapa sekarang jadi Mama yang ingin pergi. Jangan donk Ma. Iya, iya anak Mama yang ganteng itu pasti punya pacar yang cantik."
Papa Alberta memeluk istrinya itu. Sedang Mama Rena tersenyum. "Gitu don. Kan, enak didengarnya."
Papa Alberta hanya tersenyum. "Kenapa aku bisa jatuh cinta dengannya. Uuhnm," batin Papa Alberta
Di kampus tepatnya diruangan Vano sudah ada Franc dan Star duduk berhadapan dengan Vano.
Vano menyerahkan amplop coklat pada Franc dan Star untuk.
Franc mengambil amplop itu. "Ini apa, Pak?"
"Kalian baca saja."
Franc dan Star membuka membaca isi map yang diberikan oleh Vano.
Franc mengangkat kepalanya menatap Vano dengan bingun setelah dia membaca isi dari amplopnya. "Maksudnya apa ini, Pak?"
"Iya apa maksud dari semua ini apa ya, Pak?, Kami tidak mengerti?" tanya Star yang juga bingun.
"Sebentar malam kalian akan ikut bersamaku dan menemani aku keperjamuan keluargaku." ucap Vano.
"Tapi- " ucap Franc terpotong karena Vano lebih dulu menyerganya.
"Kamu akan jadi kekasih pura pura aku," lanjut Vano menunjuk Franc.
"Dan kamu akan jadi kekasih pura pura adik aku," ucap Vano lagi menunjuk Star.
"Dan jika nanti setelah Mama ku melihat kalian dan ingin kalian menjadi menantunya, maka kalian akan menjadi Istri kontrak aku dan adikku," sambungnya yang membuat Franc dan Star tak terima dan protes.
"tidak bisa begitu don, Pak. Kita, kan hanya menabrak mobil Bapak. Masa iya kita harus jadi istri segala. Tidak,tidak. Kami tidak mau," protes Franc.
"Benar, Pak. Tidak bisa begitu, masa kita harus jadi Istri hanya karena menabrak mobil Bapak. Tidak adil namanya, Pak," timpal Star yang juga tak terima.
sedang Vano terlihat santai mendengar protes Franc dan Star.
"Terserah saya mau minta tanggung jawaban seperti apa, yang salah kalian," pangkasnya santai.
"Kalian mau tidak mau harus mau. Karena jika tidak kalian tidak akan kululuskan dimata kuliah ku. Dan kalian juga harus mengganti mobil ku, jadi pilih mana mau Tanda tangani itu Map atau tidak mau lulus, serta menganti mobil milikku," lanjutnya lagi santai.
Franc dan Star tak punya pilihan lain selain terpaksa menandatangani Surat Perjanjian. Karena mau bayar tidak juga tidak mungkin.
Vano tersenyum puas setelah Franc dan Star menandatangan surat perjanjiannya. Vano mengambil kembali map tersebut.
"Bagus. Kalian boleh keluar," ucap Vano cuek.
Star dan Franc yang ingin membuka pintu berhenti. Mendengar Vano memanggil mereka.
"Tunggu," ucap Vano.
Star dan Franc berbalik melihat kearah Vano.
"Sebentar saat pulang, kalian tunggu aku di parkiran," ucap Vano.
__ADS_1
Franc dan Star langsung keluar tanpa menjawab.
Franc berteriak setelah berada diluar. "Aahhhhh dasar dosen killer. Ku jadikan perkedel baru tau rasa."
"Ingin kupecak pecak kepalanya sampai hancur," ucap Star memperagakan gerakan tangan.
Mereka berdua terus mengerutu disepanjang jalan menuju kelas mereka.
Ponsel Vano berdering dan di layar ponsel terlihat tertera nama Vino.
"Halo kak bagaimana?" tanya seseorang disebrang telpon.
"Kamu tenang saja semuanya sudah beres. Kamu hanya perlu datang ke mall dekat rumah Kakek," ucap Vano.
"Baiklah kak." ucapnya orang itu memutus sambungan telpon.
Dikantor, Vino kembali menekang tombol telepon yang ada diatas meja kerjanya. Dan beberapa saat ada suara ketukan dari luar pintu ruangannya.
Tok, tok, tok.
"Masuk," ucap Vino dari dalam ruangannya.
Seorang Wanita cantik melangkah masuk kedalam. Dia adalah sekretaris Vino. "Permisi, Pak. Bapak memanggil saya," ucap Sekretaris sopan.
"Iya. Cancel semua jadwal saya hari ini," ucap Vano fokus pada laptopnya.
"Tapi, Pak- " ucap Sekretaris terpotong karena Vino menatapnya dengan dingin.
"Kamu tidak dengar apa kataku," ucap Vino dingin.
"Baik, Pak," ucap sekretaris.
"Kalau tidak ada lagi, saya permisi, Pak."
Setelah selesai kelas, Franc dan Star berjalan keluar dari kelas tapi di hadang oleh Selin thegeng.
"Mau apa lagi kalian ganggu kita?" tanya Star.
Selin tertawa mendengar ucapan Star. "Haahaha. Gays si cupu bertanya Kita mau ngapain. Kasih tau dia, kita mau ngapain."
"Kita mau kalian berdua minta maaf berlutut didepan kami dan didepan semua mahasiswa kampus ini," ucap Melin mendorong Franc dan Star kebelakang.
Dorongan tiba tiba itu membuat Star dan Franc mundur sedikit, tapi tidak membuatnya jatuh.
"Kalau kita tidak mau, kalian mau apa?" ucap Star dan tangan nya dia lipat kedepan dadanya.
"Berani juga kamu," ucap Selin.
"Nampar kamu saja kemarin aku berani. Kenapa tidak dengan hari ini. Bahkan bukan hanya kali ini tapi seterusnya," ucap Star tegas dan tak takut sedikitpun.
Mendengar hal itu selin benar benar kesal apalagi mengingat kejadian kemarin.
"Kamu," ucap Selin ingin menampar Star.
Star dengan mudah menangkap tangan selin, kemudian kembali menampar Selin.
"Sudah kuperingatkan jangan mengangkat tangan padaku. Karena jika tidak kamu akan merasakan sendiri akibatnya. Enak, kan? " ucap Star.
"Kamu," ucap Selin ingin kembali mengangkat tangannya tapi suara seseorang menghentikannya.
"Ada apa ini," ucap seseorang yang ternyata adalah Vano.
Vano tadinya berniat ingin melihat Franc dan Star kekelasnya. Pasalnya dia sudah menunggu lama di mobil tapi Star dan Frnac belum juga datang.
"Pak Vino. Liat lah, Pak mereka- " ucapnya dengan membuat suara yang lemah seperti orang yang tersiksa.
"Kalian bubar!" ucap Vano tegas.
__ADS_1
"Dan kalian ikut aku," lanjutnya menunjuk Star dan Franc.
Melihat hal itu Selin mengira Vano akan menghukum Star dan Franc.
Franc dan Star mengikuti Vano dari belakang. Vano membawa Franc ke parkiran dan menyuruh mereka masuk kedalam mobilnya.
"Kita mau kemana, Pak ?" tanyak Franc saat mobil sudah membelai jalan.
"Diam dan ikut saja," ucap Vano dingin.
Franc dan Star diam membisu melihat keluar jendela mobil, tak ada suara hanya ada keheningan.
Mobil Vano berhenti disebuah Mall besar, dan disana juga sudah ada seorang pria yang berdiri di samping mobilnya yang ternyata adalah Vino.
"Ayo turun," ucap Vano melepaskan sabuk pengamannya.
"Kenapa kita dibawah kesini, Pak?" tanyak Franc bingung, kenapa mereka dibawah ke Mall bukankah Vano sendiri mengatakan akan bertemu dengan keluarganya tapi kok mereka dibawah ke Mall fikir Frnac.
"Bukankah kita mau menjadi kekasih pura pura dan bertemu dengan keluarga Bapak. Kenapa kita kesini ?" tanya Star yang juga tidak mengerti.
"Sudah ku bilang kalian nurut dan diam saja. Ayo turun," ucap Vano dingin keluar dari mobil.
Star dan Franc keluar dari mobil mengikuti Vano dari belakang.
Vano berjalan kearah adiknya. Vino hanya tersenyum tipis pada kakaknya.
"Dia yang akan jadi kekasih mu didepan mama," ucap Vano nunjuk Star yang sudah ada dihadap Vino.
Vino melirik Star dari atas sampai bawah membuat Star kesal. "Kenapa kamu melihatku seperti itu, Ha."
Vino hanya tersenyum miring. Star melihat hal itu menjadi semakin kesal, karena Star berfikir Vano sedang rendahkannya.
Franc mencubit lengan Star untuk mengendalikan emosinya.
"Aauhh," ucap Star dengan mengusap lengannya.
"Kenapa kamu berteriak?" tanyak Vino.
"Tidak ada," ucap Star cuek tanpa melirik Vino sama sekali.
"Gila ini cewek. Baru kali ini ada perempuan yang cuek, bahkan tidak melirikku sedikitpun. Biasanya perempuan melakukan segala hal hanya untuk mendapat perhatianku. Tapi cewek cupu ini berani cuekin aku, liat saja nanti," batin Vino kesal cuekin.
"Sudah, ayo," ucap Vano berjalan masuk menarik tangan Franc.
"Aduh Lepas, kita bisa jalan sendir," ucap Star dan Franc yang melepas tangan Vano dan Vino.
Vano dan Vino menatap mereka berdua, membuat Star dan Franc diam dan pasrah di tarik kedalam mall.
"Tadi barusan apa?, Sorang perempuan menolak aku memegang tangannya?, Ini bukan mimpi, kan bisanya aku yang nolak dan sekarang aku yang ditolak," batin Vano.
"What dia menolak saat ingin memegang tangannya, berani sekali dia. Tadi cuekin aku dan sekarang menolak ku apa apaan itu," batin Vino tambah kesal.
#continue ππππ
...Like πππ readers harapan author...
...comments πππ readers harapan author...
...see you bay bay...
...Sarangeβ€...
...----------------...
......................
...****************...
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...