LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 38


__ADS_3

"Aduh, aduh. Vino tolong buka borgolnya, aku ingin ke Wc," ucap Star membuat alibi untuk kabur.


Vino tak menghiraukan ucapan Star. Star kesal dan kembali berucap. "Vino! Ini seduh kebelet."


Dengan cuek Vino menjawab Star, "Kamu bisa melakukannya disitu."


Star yang mendengar jawaban Vino dibuat dongkol. "Ha. Kamu gila yah, nyuruh aku pipis di celana. Gak!, Cepat buka."


Vino tak menghiraukan Star sama sekali, dia hanya fokus pada pintu ruangan nikah.


"Aaaaaaa. Percuma aku ngomong, dia tidak akan membuka borgolnya. Huuum," ucap batin Star.


Beberapa saat dua orang yang baru saja resmi manjadi suami istri keluar dari ruangan nikah.


Di mobil Star memeriksa surat nikah mereka kembali. "Ini benar benar gila, aku sudah menikah, dan menjadi seorang istri. Aaaaaaaa."


Star masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Seakan semuanya hanya mempi.


Vino tersenyum lebar melihat ekspresi Star, yang baru saja dia nikahi.


Star yang melihat Vino senyum senyum menjadi kesal. "Kenapa kamu senyum senyum. Puas!"


"Puas banget. Dan sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Devino Alberta," ucap Vino tersenyum.


Star membuang mukanya kearah samping jendela mobil. "Dasar gila."


Wajah Vino seketika berubah menjadi serius. "Sekarang kamu jawab pertanyaanku."


"Pertanyaan apa."


"Kamu ngapain di hotel malam itu?" tanya Vino yang ingin mendapatkan jawaban.


"Cari om om," ucap Star menatap keluar jendela.


Mendengar ucapan Star Vino marah, dan menatap tajam Star bahkan sangat menakutkan.


"Aku tanya sekali lagi. Kamu ngapain di hotel malam itu?" tanya lagi penuh penekanan.


Star melihat kearah Vino, menatap wajahnya dengan tatapan yang marah. "Aku cari om om. Kenapa kamu menyesal nikah sama aku."


Vino semakin tersulut emosi dengan jawaban Star. "Star!"


"Jawab aku. Jangan sampai kesabaranku habis. Kamu ngapain di hotel malam itu!" tegas Vino memegang lengan Star.


Star melepas tangan Vino yang mencengkram lengannya.


Star menatap mata Vino dengan sangat marah. "Aku ikutin pria brengsenk, yang sudah merenggut kehormantaku."


"Maksud kamu apa?"


Star tersenyum miring. "Aku ngikutin kamu. Ya kamu. Kamu adalah pria brengsek," ucap Star berteriak dengan air mata.


"Kamu mengambil kehormatanku, setelah itu kamu jalan berdua dengan wanita lain bahkan masuk ke kamar hotel berduaan."


"Kamu adalah pria brengsek. Aku membencimu. Aku benci. Kamu dengar itu aku, BENCI!" ucap Star berlinan air mata.


Vino termenung mendengar ucapan Star. Star keluar dari mobil Vano.


Vino ikut turun mengejar Star. Dia berlari mencekal tangan Star yang ingin berlari.


"Lepas, lepas, lepas," teriak Star saat Vino menyeret dia kembali kemobilnya.


"Masuk kedalam."


"Tidak!, Lepas!"


"Masuk kedalam!" tegas Vino tak terbantah.


Star tak peduli dengan ucapan Vino dan tak ingin masuk kedalam mobil. Star mengigit tangan Vino, dan berlari keluar.


"Aauuhh."

__ADS_1


Star baru saja ingin keluar dari pagar, tapi tangan Vino lebih dulu mencekal tangannya.


Vino menarik tangan Star, mengendongnya seperti karung beras.


"Lepas, lepas, lepas. Turunkan aku. Aku tidak mau. Aku membencimu," ucap Star memberontak dan menggigit punggung Vino.


Vino tetap berjalan tak memperdulikan punggungnya yang habis digigit Star.


Vino masuk kedalam mobilnya, Vino mengendarai mobilnya meninggalkan kantor KUA.


Star terdiam dalam tangisnya menatap keluar jendela. Sama sekali tak menatap Vino.


................


Sebuah mobil Van terparkir dipinggir jalan mengamati pintu keluar kampus.


"Bos. Target sudah keluar, tapi dia hanya sendiri," ucapnya melalui earphone.


"Biarkan saja. Kamu bawah dia saja kesini," ucap orang diseberang telpon.


"Baik, Bos."


"Hahahahha. Keponakanku tersayang. Sebentar lagi kita akan ketemu, Hahahaha," ucap Pria Paruh bayah.


"Tuan. Apa Anda baik baik saja," ucap seorang Pria yang baru saja datang.


"Iya. Aku sangat baik baik saja."


"Kamu pergilah, persiapkan penyambutan untuk keponakanku tersayang. Devano. Hahahahha," ucapnya lagi kembali tertawa.


Franc keluar kampus mengendarai motornya sendiri. "Hemm. Tidak seru banget pulang sendir- kalian siapa?" ucap Franc terpotong saat beberapa pria berbadan besar menghadang jalannya.


"Ayo turun. Ikut kami," ucap salah satu dari mereka.


Mereka menarik Franc turun dari motornya.


Franc memberontak dan berteriak meminta tolong "Tidak. Lepas. Tolong, hmmm," ucapnya terpotong saat mulutnya dibekap.


Mereka menyeret Franc ke mobil mereka.


Franc kembali berteriak saat Pria itu melepas bekapan mulutnya.


"Tolong. Hmm," teriak Franc tapi mulutnya kembali dibekap.


Mobil Vano baru saja keluar dari kampus, melihat kejadian itu. "Franc."


Vano keluar dari mobilnya berlari ke mobil penjahat.


"Frnac," teriak Vano memanggil Franc.


Para penjahat berbalik melihat Vano yang berjalan kearah mereka.


"Ayo masuk," ucap ketua penjahat memaksa Franc masuk kedalam mobil.


"Pak Vano. Tolong," teriak Franc.


Vano baru saja sampai tapi mobil penjahat sudah lebih melaju.


"Franc. Heii kalian berhenti," teriak Vano.


"Ahh."


Vano kembali kemobilnya, mengejar mobil yang membawa Franc. "Halo Angga, cepat bawah anak buah kita ke lokasi yang aku sudah kirim."


"Baik Tuan."


Vano sangat marah dan terus mengejar mobil yang membawah Franc. "Paman Albarta. Jika Franc terluka, aku bersumpah. Aku sendiri yang akan menghabisimu," ucapnya marah.


"Franc kamu tenang, aku akan datang."


Vano beberapa kali membunyikan klakson mobilnya, menyalip pengendara lain.

__ADS_1


Pin


Pin


Pin


"Bos. Target sudah bersama kami. Tapi Devano sedang mengikuti kami," ucap Pemimpin Penjahat melapor.


"Biarkan dia mengikuti kalian, itulah yang aku mau," ucap orang diseberang sana.


"Kalian akan mendapat bonus lebih tinggi," ucapnya lagi.


"Baik, Bos. Terima kasih," ucap Pemimpin Penjahat tersenyum.


..........


"Will berhenti. Kamu akan membunuhnya," ucap Bara.


"Iya, aku akan membununhya."


Buck


"Will berhenti. Andy ini sahabat kita. Lo kenapa sih," ucap Bara membantu Andy berdiri.


"Kalian pergi!, Jangan sampai aku menghabisi kalian," ucap Will membuang pandangannya ke samping.


"Kamu itu gila tau gak. Hanya gara gara wanita ini kamu menjadi- " ucap Bara terpotong karena Will langsung menyerga ucapannya.


"Bara stop!"


"Kenapa?, Kamu ingin memukulku juga. Pukul," ucap Bara marah.


"Aku tidak tau. Jamu disihir apa dengan wanita ini, sampai- " ucapan Bara kembali terpotong saat seseorang menyiram wajahnya dengan air.


Byuuarr.


"Beraninya kamu," ucap Bara pada Selin.


"Iya. Kenapa?, Enak saja mengatakan aku penyihir. Aku ini wanita cantik buka wanita tua penyihir," pangkas Selin tegas tak suka dikata penyihir.


Will, Karan, Andy dan Bara merasa dongkol dengan ucapan Selin. "Ha."


"Kenapa?"


"Cewek Kaleng, masuk kedalam," ucap Will menatap Selin.


"Tidak. Aku tidak mau," ucap Selin.


Will menatap Selin dengan tajam. Membuat Selin menundukkan kepalanya.


"Aku tidak bisa jalan. Sakit," ucap Selin lirih.


Will melirik teman temannya, lalu mengendong Selin kembali naik kamarnya.


"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Selin setelah diturunkan oleh Will.


"Kenapa?, Mulai sekarang kamu akan tinggal disini. Paham!" ucap Will tak terbantah.


"Tapi kena- " ucap Selin terhenti saat Will kembali mengkungkung.


"Kamu selalu membantah perkataanku. Apa perlu aku menghukummu lagi?" ucap Will menatap Selin.


Selin dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Bagus. Kamu tetap disini. Pelayang akan mengantarkan makanannya," ucapnya bangkit tapi kembali mengkungkung Selin lagi.


Will mencium Selin. "Huumm."


Setelah beberapa saat Will melepas panutannya. "Manis," ucapnya mengusap sudut bibirnya.


"Ha," ucap Selin.

__ADS_1


Will melangkah keluar kamar. Turun ke lantai satu melihat sahabatnya.


Will berdiri tegak dihadapan sahabatnya menatap tajam dan dingin para sahabatnya.


__ADS_2