
Franc duduk di depan meja rias, ia dengan perlahan melepas semua pernak pernik di kepala, leher dan yang lainnya. Tapi di kejutkan dengan seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bukankah malam ini sangat indah," ujar Vano memeluk Franc dari belakang.
Franc menatap Vano di cermin, sembari mengedipkan bahunya. "Mungkin. Ada apa? Kenapa tiba-tiba tanya cuaca?"
"Tidak. Hanya saja ini malam yang akan bagus jika kita melaku- "
Ucapan Vano harus melayang di kala Franc menyerga ucapannya. "Oohhmm. Ini memang malam yang bagus," ujar Franc berdiri berbalik menatap suaminya.
Vano langsung terlihat sumringah, tetapi senyum sumringah itu hanya sesaat di kala mendengar kalimat lanjutan istrinya.
"Iya malam yang bagus untuk tidur nyenyak setelah pesta yang melelahkan. Bukankah begitu?"
"Ayo tidur," ujar Franc lagi, lalu melangkah ke tempat tidur mereka yang berhias bunga mawar.
Vano melongo melihat istrinya yang sudah berbaring dengan mata tertutup. "Ha."
Vano menarik napas dalam dalam mengatur napasnya, lalu mendekat ke istrinya.
"Sayang," panggil Vano dengan menusuk nusuk gemas lengan istrinya agar bangun.
"Huem."
"Bukankah kita harus melakukan sesuatu," ujar Vano mengusap lembut pipi lembut istrinya.
"Sesuatu apa?" jawab Franc dengan suara rendah karena ngantuk.
"Sesuatu yang membuat kita tambah bisa tidur nyenyak."
Vano membelai pipi istrinya terus berharap sang istri bangun tapi di luar dugaan Franc malah tambah nyenyak.
"Sayang ... Sayang ... Franc," panggil Vano tapi Franc tak menjawab ucapan suaminya karena sudah lebih dulu tertidur.
Vano menghembuskan napas kasar, karena istrinya tak ingin bangun.
"Sudahlah, mungkin dia lelah. Good night Honey."
Vano ikut berbaring di samping Franc, ia memeluk istrinya dari belakang dan ikut terlelap.
__ADS_1
......................
"Kemana dia?, kenapa tidak mengangkat telpon," umpat sesorang.
Trin, trin, trin.
Orang itu terus mencoba menelpon tapi orang yang dia telpon tak mengangkat sekalipun panggilannya.
Orang itu menulis dan mengirim pesan, 📤. "Kenapa kamu tidak mmengangkat telpon dariku?, Cepat jawab panggilan telpon ku."
📩 : "Berhenti menganggu aku pria tua, jika tidak aku akan membunuhmu," balas orang itu melalui pesan singkatnya.
Membaca balasan dari pesannya, membuatnya sangat kesal.
:Apa katanya?, Dia ingin membunuh, ku?, Hehe, aku yang akan membunuhmu bersama serangga-serangga ini," ujarnya menatap ponselnya dengan penuh amarah.
📤Cepat angkat telpon aku?, Aku ingin memberi tahu informasi penting, dan langkah apa yang selanjutnya kita lakukan?" ujarnya lagi kembali mengirim pesan.
Orang itu kembali membalas pesannya. "Jangan bertingkah bodoh, dan gunakan otakmu. Bukankah kita sudah membicarakannya?, Jadi lakukan semuanya sesuai rencana. Dasar pria tua, bodoh."
Orang itu dengan penuh amarah berteriak keras. "Aarrgg."
Orang itu berbalik, mentap istrinya. "Hu. Mama," ujarnya sedikit panik, tapi segera ia mengendalikan diri.
"Papa kenapa teriak teriak seperti itu?" tanya Mama Rena menatap Papa Al.
"Tidak. Papa hanya memikirkan soal tadi, Papa benar benar kesal karena di acara penting anak kita sesuatu terjadi. Itu membuatku kesal karena keamanan kita masih bisa di bobol dengan orang tak di kenal."
Papa Al memeluk istrinya, tapi membuat Mama Rena mengerutkan keningnya.
"Papa ganti parfum?" tanya Mama Rena melepas pelukan suaminya.
"Tidak," geleng kepala Papa Al cepat.
"Lalu kenapa bauh Papa berbeda?, Tidak seperti biasanya."
"Masa sih?"
"Iya, coba Papa cium sendiri kalau tak percaya."
__ADS_1
Papa Al mendengus ketek dan lengannya, mencoba mencium bauhnya sendiri.
"Haa, tidak kok. Bauh Papa seperti biasa. Mungkin Mama kecapean makanya berhalusinasi," ujar Papa Al tak mencium bau aneh.
Mama Rena yang memang sedikit lelah tak ingin memperpanjang pembahasan, ia langsung saja mengangkat kedua bahunya keatas acuh tak acuh. "Mungkin saja."
"Iya sudah, ayo tidur."
"Huem."
Papa Al mengandeng tangan Mama Rena ke atas ranjang.
......................
"Aarrgg. Ini gila. Aku harus keluar dari sini," ujar Arga menghindar dari serangan Berry. 2
"Dasar singa petikilang. Minggir kau," umpat Arga menatap Berry tajam.
Berry yang seakan mengerti ucapan Arga, wajahnya langsung berubah ganas.
"Auuurrr," raung Berry keras.
Arga terkejut mendengar raungan Berry yang terdengar menyeramkan. "Astaga apa dia marah?, oh no, kamu bodoh Arga. Kenapa kau membuatnya marah, Cepat dari cara membuatnya tenang."
Arga terlihat berfikir. "Ok, ok. Arga kamu harus tenang lebih dulu, setelah- " ujar Arga terhenti saat Berry kembali meraung dan berlari mentap Arga layaknya mangsa makanan enak.
"Aauurrrrr."
Berry berlari dengan meraung beberapa kali dengan wajah yang penuh dengan amarah, matanya sunggu sangat tajam.
"Aaaaaaaahhhhh."
#continue ....
Haii, Readers jangan lupa dukungannya.
Agar, Author juga semakin semangat update .
See you bay-bay.
__ADS_1
End.