
"Bangun atau," ucap Vino menatap Star yang masih berbaring.
Mendengar dan melihat tatapan Vano, membuat Star mau tak mau bangun, karena dia tau banget tatapan mata itu yang bisa bisa membuatnya tidak bisa berjalan lagi.
Melihat hal itu Vino tersenyum puas, namun sesaat pandangannya menangkap sesuatu, sebuah foto yang tak biasa membuatnya sangat penasaran.
Star mengikuti tatapan Vino, betapa terkejutnya saat dia tau apa yang sedang ditatap Vino.
"Aduh mati aku, kenapa aku lupa taruh kembali sih," batin Star ketar kerir saat Vino mengambil foto tersebut.
"ini foto apaan," ucap Vino membalikkan foto itu tapi Star dengan cepat menarik kembali dan menyimpannya didalam laci.
"Ini koleksi Franc," ucap Star.
"koleksi Franc?, coba aku liat," ucap Vino.
"Iya, calon kakak ipar mu," ucap Star sambil mengalihkan pembicaraan.
"Dan kamu calon istriku," timpal Vino.
"Siapa?, Aku ?" ucap Star menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, iyalah siapa lagi," ucap Vino santai dan tersenyum.
Tapi jawaban Star membuat Vino kesal dan marah. "Ogah, aku gak mau," ucap Star sembari ingin berdiri.
Mendengar hal itu Vino menarik tangan Star, sehingga membuatnya terjatuh dan kembali tertidur.
"Kamu bilang apa," ucap Vino mengkungkung Star.
"Ogah, aku gak mau jadi istri mu," ucap Star dengan memiting ****** milik Vino, sehingga dengan mudah Star mendorong Vino lalu menggunakan jurus seribu langkah menjauh.
Vino bangun dengan kesal dan mengejar Star.
"Berani kamu menolak ku, dengar yah kamu itu sudah menjadi milikku dan itu akan tetap sama selamanya," ucap Vino saat berhasil menangkap Star yang ingin membuka pintu.
"iyakah, aku gak merasa tuh," ucap Star tersenyum meremehkan yang membuat Vino kesal.
"Sudah sana keluar, aku mau mandi," ucap Star membuka pintu kamarnya.
"Katanya harus buru buru," lanjutnya lagi yang melihat Vino tak bergeming.
Vino keluar dari kamar, berjalan kearah kakaknya. Pintu kembali terbuka, Star membalikkan badannya dan melihat Franc yang masuk.
Franc melihat wajah Star yang pucak, berkeringat seperti sudah melihat hantu membuat Franc mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa ?"tanya Franc berjalan kearah lemari.
"Kenapa si drakula itu bisa masuk kesini ?" tanya Star yang memberikan julukan baru pada Vino karena seringkali mengingitnya.
"Drakula?, siapa?" tanyak Franc yang tak tau siapa yang dimaksud oleh Star.
"Iya adiknya pak Vano, siapa lagi," ucap Star.
"Iya jalan lah dia kan punya kaki," ucap Franc dan kembali menutup pintu lemari.
"Lalu kenapa kamu tidak mencegahnya masuk?" tanya Star.
"Aku tuh tadi udah mau mencegahnya, tapi tuh si killer menahanku. Kenapa sih?," ucap Franc bertanyak.
"Tuuhh," ucap Star sembari menunjuk kearah meja.
__ADS_1
Franc berjalan kearah meja samping tempat tidur dan membuka meja.
"Hah, kenapa kamu tidak menyimpannya kembali ketempatnya," ucap Franc terkejut.
"Yah aku lupa, semalam terlalu melelahkan," ucap Star.
"Jadi apa dia melihatnya?" tanya Franc serius.
"Tidak. Baru dia akan membalikkan, dan aku dengan cepat merebut itu dari tangannya dan menyimpannya kembali," ucap Star menjelaskan semuanya pada Franc.
Karena merasa bosan Vano berteriak, karena Franc sangat lama tidak keluar keluar
"Kenapa kalian lama sekali, cepatan," teriak Vano karena kesal.
Sedang didalam kamar Star dan Franc sudah selesai memakai baju, berjalan kearah pintu.
Mereka berdua keluar menemui dua pria kulkas sebelum mereka menjadi korban kekesalan kakak beradik itu.
"Yah namanya juga perempuan, yah dandan lah," ucap Star setelah sudah berada berdiri didepan Vino.
"Dandan dari mana, muka kamu aja tidak ada bekas bedak," ucap Vino melihat wajah Star yang tak ada setitik pun bekas bedak.
"Maksudnya pilih baju, cewek kalau pilih baju juga lama. Sudah ah, ayo berangkat," ucap Frnac ikut membuat alasan.
Star dan Franc berjalan duluan tapi berbalik lagi setelah sampai di depan pintu.
"Apa lagi yang kalian tunggu?, Mau berangkat atau kalian pulang dan kami akan kembali istirahat," ucap Frnac.
Star yang memang masih malas dan ngantuk ingin kembali berjalan masuk kedalam kamar, tapi tangan Vino lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Dasar kebo," ucap Vino.
"Enak saja. Mana ada kebo secantik diriku, iya gak bestie," ucap Star yang tak ingin di bilang kebo.
"Iyalah. Memangnya situ yang jelek plus dingin seperti beruang kutub," ucap Star masuk kedalam mobil Vino.
Vino yang ingin menutup pintu mobil job penumpang tak jadi setelah mendengar jawaban dari Star.
"Coba di ulang sekali lagi," ucap Vino menundukkan kepalanya kedepan wajah Star.
"Dasar tuli," ucap Star menatap Vino.
"Kamu- " ucap Vino terhenti karena Star lebih dulu mendorong Vino dan menutup pintu mobil.
"Apa lagi?, Mau di kasih jalan atau aku turun," ucap Star kesal karena Vino tidak menjalan kan mobilnya dari tadi dan terus bermain ponsel.
"Iya, Kebo. Sabar sedikit kenapa sih," ucap Vino menyimpang ponselnya.
"Kamu bilang apa," ucap Star menatap Vino kesal.
"Kebo," ucap Vino dengan menatap Star dan tersenyum mengejek.
"Dasar kulkas 10 pintu," ucap Star kesal.
"Kebo," ucap Vino membalas ucapan Star.
"Kulkas 10 pintu," ucap Star yang tidak ingin kalah.
Mereka bertengkar seperti anak kecil, salin mengejek dengan memberikan nama panggilan.
__ADS_1
Sedang di mobil Vano hanya ada keheningan, hingga Franc membuka suara.
"Pak," panggil Franc.
Ciitt.
"Auhh. Ada apa pak, kenapa di rem mendadak," ucap Franc mengusap kepalanya yang terbentur.
"Sudah kukatakan jangan panggil aku Pak atau Bapak kalau sedang berada di luar kampus. Aku bukan Bapak mu. Paham!" ucap Vano kesal yang tidak menyukai dirinya dipanggil Pak.
"Tapi pak- " ucap Franc.
"Tapi apa," ucap Vano menatap Franc dengan tajam.
"Tidak ada," ucap Franc dan melihat keluar jendela.
"Kenapa matanya sangat menakutkan sekali. Uuhhh," ucap Franc bergumam sendiri dan membuang nafas dengan melihat keluar jendela mobil.
Franc yang bosan didalam mobil kembali menoleh melihat Vano yang sedang fokus nyetir, Frnac terus memperhatikan Vano.
"Kalau diliat liat dosen killer ini tampan juga," ucap Franc mengagumi wajah Vano.
"Cool, dingin, tapi juga penyayang," ucap Franc lagi saat mengingat kejadian tempo lalu saat dia memberikan makannya sendiri untuk anak jalanan.
"Eeettt, Franc apa yang kamu pikirkan, tidak, tidak," ucap Franc mengeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa?, Aku ganteng yah," ucap Vano yang sedari tadi melihat Franc memperhatikannya.
"Iya. Maksud aku, kamu tidak ganteng," ucap Franc salah tingkah.
"Sudah akui saja tidak perlu di pendam," ucap Vano dengan sombong dan kepedeannya.
"Ini. Ini nih yang membuatku kesal, sombongnya minta ampun," batin Franc yang jengah melihat tingkat kepedean Vano.
"Kamu tuh harusnya bersyukur bisa jadi pacar pura pura aku," ucap Vano dengan sombong.
"Maaf ini yah, Pak- " ucap Franc terhenti saat melihat tatapan Vano yang tajam.
"Maksudku Vano. Tadi aku menatapmu karena berfikir bagaimana ada orang seperti kamu," ucap Franc.
"Memangnya aku kenapa," ucap Vano melirik Franc.
"Kamu itu seperti Beruang kutub dinginya, pemaksa, suka ngancam, sombong, kepedean, sok ganteng dan masih banyak lagi yang jelek jelak," ucap Franc dengan tangannya menghitung semua.
"Ha," ucap Vano yang seperti orang bodoh
#******continue ππππ
...Like πππ readers harapan author...
...comments πππ readers harapan author...
...see you bay bay...
...Sarangeβ€...
...----------------...
......................
__ADS_1
...****************...
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...