LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 87


__ADS_3

"Tuan Alberta, selamat datang," ujar seorang pria tampan menyambut kedatangan Alberta.


Alberta berjalan ke pria itu yang merupakan salah satu temannya. "Ah, Tuan Arka, terima kasih sambutannya," ujar Alberta, sedangkan Angel di sampingnya berdiri dan tersenyum.


Mereka berjalan kearah yang lainnya di mana di samping mereka berdiri seorang wanita cantik yang merupakan kekasih mereka semua.


"Oiya, Bert, siapa cewek cantik ini, kok gak di perkenalkan," ujar salah satunya di antara mereka.


"Ah, iya, aku lupa ... kenalkan wanita cantik ini pacar aku," ujar Alberta memperkenalkan Angel dengan sedikit membusungkan dadanya sombong.


"Woah, masih sih?, Itu benar, Nona?" tanya Arka pada Angel.


Angel yang di tanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis. "Iya. Itu benar."


"Waoh, Albert, harus aku akui malam ini kekasihmu yang paling bersinar," ujar yang lainnya menatap Angel dari atas ke bawah.


Sedangkan Angel merasa canggung di tatap seperti itu, membuat dia memegang lengan Albert dengan sedikit keras, namun Albert seakan tak peka dengan ke adaan malah menjawab sahabtanya dengan sangat santai. "Itu jelas, siapa dulu."


"Baiklah, baiklah, berhubung semua orang sudah hadir, bagaiamana kalau kita mulai pestanya sekarang," ujar Arga selaku pemilik pesta.


"Itu benar. Mari mulai pestanya ... Cers," ujarnya salah satu di antara mereka dengan mengangkat gelasnya keatas.


"Cers ..." ujar yang semua orang mengangkat gelasnya dengan mendentingkannyang.


Ting.


Mereka semua minum-minum sembari terus ngobrol, sedangkan para wanita juga saling ngobrol.


Bert, dari mana kau dapatkan dia?, Liatlah dia begitu ..." bisik salah satu teman Alberta dengan menelisik Angel dari atas ke bawah, deegan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Sangat Woah ..." bisiknya lagi.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu, dia itu kekasihku," ujar Alberta dingin menatap tajam temannya itu.


Temannya itu menepuk pundak Alberta, dan kembali berbisik. "Ah, come on, Bert, aku tau kamu ... jadi jangan berbicara seperti itu, gak pantas untuk mu," ujarnya dengan masih menatap Angel.


Alberta mengepalkan tangannya, dan langsung berdiri. Ia juga menyeret tangan Angel dengan sedikit kasar, membuat Angel terkejut dan sedikit merasa sakit. "Eh ... Sayang," ujarnya namun Alberta tak menghiraukannya dan terus berjalan keluar dari ruangan itu.


Angel masuk kedalam mobil, dan terus menatap Alberta dengan tatapan bingung. Ia mau bertanya tapi takut saat melihat raut wajah marah Alberta. Lama hening hingga pada akhirnya Angel memberanikan diri untuk bertanya. "Sayang," panggilnya menjeda sebentar ucapannya lalu kembali melanjutkan pertanyaannya. "Ada apa?, kenapa kita keluar?, Kan pestanya belum selesai," ujar Angel lembut berusaha tidak membuat amarah Alberta semakin naik.


Alberta tak menyahuti pertanyaan Angel, sedangkan Angel terus menatap raut wajah dingin Alberta. Keadaan mobil kembali hening, hingga akhirnya terdengar suara Alberta setelah mobil berhenti di depan sebuah bangunan tinggi.


"Ayo turun," ujar Alberta membuka pintu mobil untuk Angel.


Angel turun dari mobil, dan menatap bangunan di depannya. "Bert, kenapa kita ke hotel," tanyanya namun Alberta kembali tidak menjawab dan hanya menarik tangan Angel, mau tak mau Angel mengikuti langkah sand kekasih.


"Auh, Bert, sakit," ujarnya saat tangannya di genggam dengan sedikit kuat.


Mereka berdua berjalan masuk kedalam lobi hotel dan mereka langsung di sambut oleh resepsionis cantik. "Selama datang, Tua ... n," ujar resepsionis itu melayaamlayaan saat sang atasan berlalu begitu saja.


Off film.


"Hentikan," teriakan sesorang dari belakang namun tak di hiraukan.


On film.


"Albert, aku homon jangan," mohon Angel saat Alberta ingin membuka bajunya.


Alberta merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk Angel dengan tubuh setegah tel****nya. "Sitt, kamu jangan takut percaya padaku aku akan bertanggung jawab, hum?" ujarnya pada Angel.


Angel terus menolak namun Alberta terus saja membujuk dengan bujuk rayuannya dan sentuhan sentuhannya, membuat Angel tak berdaya dan hanya bisa menyetujui ke inginan Alberta.

__ADS_1


"Aku bilang hentikan! Hentikan!!" teriak Albarta dari belakang bangku penonton, namun itu hanya wajah Albarta saja dan dia sebenarnya Alberta.


Alberta berteriak lantang saat akan melihat scen dimana dia akan membuka baju Angel. Pria bertopeng itu menatap tajam Alberta namun berwajah Albarta.


Yah memang pada saat dia di bakar di sebuah bangunan itu, ia berhasil lolos dan melarikan diri, ia pun mencoba memperbaiki wajahnya yang rusak, dan memilih untuk mengambil wajah saudaranya, sekaligus untuk melalukan balas dendamnya.


"****, siapa yang berteriak seperti itu, Ha!" sarkas Pria bertopeng itu yang merupakan Lues.


"Aku kenapa?" ujar Alberta tanpa takut, semua orang kaget terutama Mama Rena yang berfikir Alberta adalah Albarta suaminya.


"Pa, apa yang Papa lakukan?" tanya Mama Rena ikut berdiri namun pertanyaan Mama Rena tak mendapat respon dari Alberta.


Sedangkan Pria bertopen itu berdiri dan berjalan mendekati Alberta. "Oh, ho, ternyata kamu ... kenapa?" tanyanya menaik turunkan alisnya. "Kamu takut kejahatan mu terbongkar atau kamu takut merasa bersalah atau ... " lanjutnya namun ucapannya harus melayan begitu saja saat satu pukulan melayan pada wajahnya.


Buck.


"Auh," rintih Lues, mengusap sudut bibirnya, ia menatap tajam Alberta, namun Alberta tak gentar sama sekali.


"Aku peringatkan dirimu, hentikan ini semua, dan katakan apa mau mu," ujar Alberta dingin menatap Lues tak kalah tajam.


Lues tersenyum devil di balik topengnya namun Alberta bisa melihatnya melalui matanya yang menyipit. "Mau ku?, bukan aku tapi orang lain," ujarnya dan kembali membenarkan cara berdirinya.


Kening Alberta mengerut. "Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Maksudnya ... jika ingin tau kamu harus menonton filmnya. So please re-sit," ujar Lues dan berjalan kembali ke tempat duduknya. "Lanjutkan," ujarnya lagi pada anak buahnya.


...#continue .......


...Jangan lupa berikan dukungannya, Readers. ...

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2