LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 97


__ADS_3

"Heum. Sudah bangun?" tanya seseorang yang duduk di kursi dengan posisi membelakangi Alda.


Orang itu memutar kursinya. "Kamu!?!" ujar Alda kaget, marah dan benci melihat wajah orang itu.


"Iya ini aku. Pacar kamu, Honey," ujar orang itu yang ternyata Albarta.


Alda berdecak kesal menatap Albarta. "Ck. Lepaskan aku!. Lepas!" teriaknya.


"Sttt ... tenang, Honey," ujar Albarta berjalan mendekati Alda, dan menarik dagu Alda membuat kepala Alda mendongak ke atas.


"Ck," bercaknya, menarik kepalanya.


"Aku suka ini," ujar Albarta tersenyum simpul menatap Alda.


"Lama tidak bertemu, dan kamu semakin cantik. Dan ... semakin liar," ujarnya kembali menarik dagu Alda, tapi Alda lagu-lagi menarik kembali kepalanya dengan kasar.


Alda menatap benci Albarta. "Lepas!, Lepaskan aku brengsek," ujar Alda tegas.


Bukannya takut dan gentar, Albarta mala tertawa puas. "Hahahaha ... sejak kapan mulut manis ini ( mengusap bibir ) bisa berucap kasar seperti ini, hum. Apa pak tua itu yang mengajarimu?" tanyanya.


"Diam kau!. Lepaskan aku," ujar Alda dengan mata tajam.


"Baiklah, baiklah, aku akan melepaskanmu," ujar Albarta, dan perlahan membuka ikatan tali yang mengikat Alda.


Begitu ikatannya lepas Alda dengan cepat berdiri, menatap tajam Albarta.


"Ka-kamu," ujar Alda terbata-bata saat tiba-tiba Alabarta memeluknya dengan erat.


"Aku merindukanmu. Sangat," ujarnya Albarta dengan suara serak.

__ADS_1


Pelukan itu membuat Alda ngeh seperdetik, tapi langsung tersadar saat mendengar pembicaraan Albarta dengan Ayahnya.


"Lepas," ujar Alda ingin melepas pelukan Albarta tapi pelukan Albarta terlalu kuat membuat usahanya sia-sia.


"Biarkan begini, sebentar. Aku mohon," ujar Albarta memohon yang terdengar tulus.


Dada Alda berdetak dengan cepat, bergemuruh, seperti ada sebuah sengatan di hatinya, terasa sakit dan nyeri.


Lama mereka berpelukan, sampai dengan kasar Alda mendorong tubuh Alabrta ke belakang.


Albarta menatap Alda, dengan tatapan yang jauh berbeda dengan tatapan yang pertama kali mereka bertemu lagi. Kali ini ada sebuah tatapan senduh, cinta, dan kerinduan terpancar di matanya.


"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Albarta menatap Alda dengan tatapan penuh kerinduan.


Alda membuang muka, lalu kembali menatap Albarta dengan datar. "Jangan bicara omong kosong!. Cepat katakan apa mau mu, dan lepaskan aku cepat," ujar Alda dengan tegas.


Melihat hal itu, Alda berdecak kesal. "Ck. Kamu budek atau apa?!, aku bilang katakan apa mau dan lepaskan aku," ujar Alda.


Tapi lagi dan lagi Albarta kembali mengulang pertanyaannya tanpa menghiraukan ucapan Alda. "Kamu tidak merindukanku?" tanya kembali.


Alda mengepalkan tangannya menahan kekesalannya dengan sikap Albarta yang dari dulu selalu saja keras kepala dan selalu ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"Tidak," ujar Alda tegas menatap Albarta.


"Sungguh?" tanya Albarta berjalan mendekati Alda.


"Iya," jawab Alda tegas membalas tatapan tajam Albarta.


Albarta semakin berjalan mendekati Alda, membuat Alda gugup dan berjalan kebelakang. "Diam di situ. Jangan mendekat," ujar Alda tegas, tapi Albarta sama sekali tak menghiraukan ucapannya dan tetap berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Tapi aku merindukanmu," ujar Albarta menatap mata Alda.


"Aku tidak," jawab Alda kembali dengan tegas.


"Kenapa?, Apa di hatimu sudah ada seseorang yang kau rindukan?" tanya Albarta menatap tajam Alda.


Mendapat tatapan tajam Albarta, Alda di buat tambah gugup. "Iy-iya."


Seketika wajah Albarta berubah merah padam, dengan cepat meraih tangan Alda dan melemparnya ke atas kasur. Memang benar Alda di sekap di kamar pribadi Albarta.


"Aaah ..." teriak Alda.


"Al, kamu mau ngapain. Jangan macam-macam," ujar Alda saat Albarta perlahan melucuti pakaiannya.


"Uehm ... Al, uehm ..." ujar Alda saat Albarta menciumnya dengan sangat brutal.


Alda terus mendorong dada Albarta kebelakang, namun semuanya hanya sia-sia saja, tubuh Albarta tak bergeming di atasnya.


Ciuman Albarta berpindah ke leher jenjang milik Alda. "Aahh," de*ah Alda.saat Albarta mengigit dan meberikan stempelnya.


Alda yang sudah tak berdaya, dan tangan Albarta juga semakin liar. "Jika kamu teruskan maka, di kehidupan selanjutnya bahkan di alam kematianpun, hanya akan ada kebencian untukmu," ujar Alda dengan dingin.


Dan benar saja Albarta menghentikan aksinya, Albarta mengangkat wajahnya menatap wajah Alda yang di penuhi dengan air mata. "Arrgg," teriaknya lalu pergi dari sana.


Alda bangun dan duduk di tepi ranjang memeluk lututnya, dan menangis tersedu-sedu. "Hiks, hiks, hiks."


#continue ....


Enjoy the reading and see you the next episode, Readers.

__ADS_1


__ADS_2