LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 27


__ADS_3

Vano dan Vino terus melawan sekelompok pembunuh bayaran dengan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki.


Mereka berdua berhasil menumbangkan seluruh anggota pembunuh bayaran, setelah bertarung beberapa saat.


Vino berjongkok didepan pemimpin kelompok, memegangi dagu pemimpin kelompok. "Hanya segitu kemampuan kalian?"


"Jika ingin menggonggong, maka liat siapa yang akan kau gonggong. Paham, tikus kecil," ucap Vino lagi, menghempaskan dagu pemimping kesamping.


Vino berdiri berbalik dan berjalan kearah kakaknya, Pemimpin kelompok pembunuh bayaran terkekeh, "Heee," kekehnya pemimpin kelompok mengangkat tangannya keatas.


Tak lama sebuah suara tembakan terdengar sebanyak tiga kali dari arah belakang Vano.


Dor, Dor, Dor.


"Kak awas," teriak Vino saat melihat tiga peluru terarah pada kakaknya.


Vano yang mendengar teriakan adiknya langsung membungkukkan badannya.


"Kamu hati hati," teriak Vano pada adiknya dan bersembunyi dibalik tubuh musuh yang sudah mereka habis.


Tidak tau dari mana dan kenapa begitu banyak musuh berdatangan dalam sekejap.


Semuanya terlihat seperti sudah direncanakan dengan matang


"Sial, ternyata ini semua sudah di rencanakan dengan baik," ucap Vano mengumpat menyadari semuanya telah direncakan oleh seseorang.


Mereka berdua terus berusaha bertahan, melawan dengan sisa kekuatan mereka, sembari menunggu bala bantuan dari anggotanya.


Suara tembakan terus terdengar tanpa henti dan semakin lama semakin banyak musuh yang berdatangan, membuat Vano dan Vino kewalahan bahkan mereka juga sudah terluka.


Dor.


Dor.


Dor.


Saat Vano dan Vino benar benar kehabisan tenaga bahkan kehabisan peluruh, datang sekolompok pria dengan topen menutupi sebagian mukanya dan di lengkapi senjata ditangan setiap anggota.


Dor, dor, dor, dor.


Melihat sekelompok pria bertopeng menembaki musuh, Vano merasa terkejut karena awalnya dia berfikir bahwa mereka semua adalah komplotan dari musuh.


"Siapa mereka, kenapa membantu kita," ucap Vano bergumam sendiri.


Karena tak fokus hampir saja Vano kembali terkena tembakan, untung Vino menyadarinya dan langsung menembak balik.


"Kak, fokus aja dulu," ucap Vino.


Kelompok pria asing terlihat menembaki musuh musuh dengan lihai dan benar saja, hanya dalam beberapa menit saja semua musuh bisa mereka lumpuhkan, bahkan mereka tak terluka sama sekali.


Pemimpin kelompok bertopeng melihat keadaan sudah aman dan tak ada lagi musuh yang berdatangan berbalik berjalan kearah mobilnya, begitu juga dengan semua anggotanya berjalan dan kembali ke mobil mereka masing masing.


"Kalian siapa?, kenapa membantu kami," ucap Vano setelah kembali berdiri.

__ADS_1


Pria pemimpin kelompok bertopeng berbalik dan tersenyum simpul, lalu masuk kedalam mobilnya begitu pun anggota yang lainnya.


Setelah kepergian kelompok bertopeng, datang beberapa mobil mendekat kearah mereka.


"Wahhh, Tuan anda hebat, bisa menghabisi orang sebanyak ini," ucap seorang pria yang baru turun dan memperhatikan sekitar yang di penuhi dengan darah dan mayat. Dia adalah Angga asisten Vano dan Vino di dunia bawah.


"Bukan kami yang menghabisi mereka semua," ucap Vano memperhatikan semua musuh yang sudah mati tertembak.


"Lalu kalau bukan, Tuan lantas siapa?" ucap Angga bertanyak.


"Aku tidak tau. Tapi jawab aku kenapa kalian bisa terlambat padahal kalian semua berada di dekat sini," ucap Vano menatap tajam Angga, karena hampir saja mereka mati jika tidak ada bala bantuan datang.


"Maaf, Tuan tapi tadi di jalan ada masalah dan menimbulkan kemacetan," ucap Angga menundukkan kepalanya.


"Kak, pasti hanya alasan dia saja," ucap Vino pada kakaknya yang membuat Angga ketakutan.


"Tidak, Tuan. Aku tidak bebohong, Itu- " ucap Angga yang ingin menjelaskan semuanya tapi dipotong langsung oleh Vano.


"Sudah. Kamu urus saja mereka dan cari tau siapa dibalik semua ini," ucap Vano tegas dengan menatap tajam Angga


Angga yang di tatap seperti itu merasa sangat takut. "Baiklah, Tuan. Apa anda teruka?: ucap Angga tegas dan bertanyak apa Vano terluka karena ada darah yang mengalir dari lengannya.


"Iya sedikit, tapi tidak apa," jawab Vano.


"Kalian beres kan saja sisanya," lanjut Vano dan berbalik berjalan kearah mobilnya..


Didalam mobil Vano, terlihat Franc duduk dengan menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan kepalanya.


Vano yang melihat hal itu tersenyum. "Cewek cupu buka matamu," ucap Vano dengan memasang sabuk pengamannya.


"Apa kamu takut?" tanya Vano menyalakan mobil nya.


"Hmmm," jawab Franc menganggukkan kepalanya.


"Ayo buka matamu dan perbaiki cara dudukmu, mereka semua sudah tidak ada," ucap Vano menjalankan mobilnya.


"Sunggukah?," ucap Franc bertanyak dan mengangkat kepalanya sedikit mengintip keadaan diluar.


"Iya, ayo cepat buka matamu," ucap Vano yang gemas melihat Franc mengintip keluar.


Franc yang melihat keadaan sudah aman dan tidak ada lagi pria berbadan besar dan bersenjata yang mengejar.


Franc mengangkat kepalanya dan memperbaiki cara duduknya. Pada saat dia berbalik ingin melihat siapa yang ada dibelakangnya.


Betapa terkejutnya, saat banyak darah yang mengalir dari tangan kiri Vano. "Ahhh."


Franc berteriak menjauh dari Vano, karena takut melihat darah Vano yang terus mengalir dan menetes.


Vano yang fokus nyetir kaget mendengar teriakan Franc


"Heii. Kamu kenapa?" ucap Vano kaget khawatir Franc kenapa-napa.


"It-itu, itu," ucap Franc terbata bata dan menunjukk lengan Vano.

__ADS_1


"Itu apa?," ucap Vano bertanyak tak mengerti dengan ucapan Franc.


"Darah," ucap Franc memperhatikan terus luka Vano.


"Oh," jawab Vano yang hanya berOh ria saja.


"Kamu terluka?," ucap Franc bertanyak dengan lembut.


"Iya," jawab Vano melirik Franc.


"Apakah itu sakit?" tanya Franc lagi sembari mendekat dan menyentuh luka Vano.


"Hmmm," ucap Vano menganggukan kepalnya saja dan terus mandangi Franc.


"Kenapa dia terlihat cantik saat lagi dekat begini, dia juga sangat manis saat bersikap lembut begini," batin Vano sesaat terpesona dengan sikap lembut Franc.


"Aduh aku ini kenapa sih, tidak, tidak, tidak," bantin Vano lagi menyangkal dan kembali fokus ke jalan.


"Kita kerumah sakit," ucap Franc melihat wajah Vano.


"Tidak perlu," ucap Vano dengan pandangan kedepan.


"Tapi, Pak- ," ucap Franc terpotong karena mendapat tatapan tajam Vano.


"Heehe. Maksudku Vano. Darahnya mengalir terus dan kamu akan kehabisan darah nantinya," ucap Franc setelah memperbaiki ucapan nya.


"Itu tidak mungkin hanya seperti ini," ucap Vano cuek.


"Bagaiamana tidak mungkin, kamu pasti akan kehabisan darah ," ucap Franc kekeh ingin ke ruang sakit dan kesal karena Vano seperti menganggap remeh lukanya.


"Pokoknya kita kerumah sakit, sekarang!" ucap Franc tegas pada Vano.


Mendengar ucapan Franc, Vano menghentikan mobilnya lalu menatap Franc dengan intes.


"Kenapa kamu tiba tiba cerewet sekali dan sekarang kamu terlihat sudah berani memerintah diriku," ucap Vano menatap Franc, membuat Franc yang kesal jadi salah tingkah.


"Yah sudah, kalau kamu tidak mau, tidak usah," ucap Franc membuang muka keluar jendela pintu.


#******continue πŸ‘‹πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


...Like πŸ‘πŸ‘πŸ‘ readers harapan author...


...comments πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡ readers harapan author...


...see you bay bay...


...Sarange❀...


...----------------...


......................


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2