
"Morning, Pa," sapa Aliya pada sang Papa yang baru bergabung di meja makan.
Tuan Gio tersenyum pada putrinya menyambut pelukan putri tersayangnya. "Morning, Princes," ujarnya setelah itu Tuan Gio menarik kursi yang biasa ia pakai, tapi sebelum itu Tuan Gio menarik tungkuk leher istrinya memberikan morning kiss.
Cup.
Semua orang tak mengatakan apapun karena itu memang sudah menjadi kebiasaan Gio saat telat bangun dan tak mendapat morning kiss dari Star. Melihat kemesraan kedua orang tuanya Liya kembali bercelutuk. "Entah sihir apa yang Mama gunakan pada Papa ku, sampai-sampai membuat Papa bersedia menikahi Mama."
Lantas perkataan dari Liya, membuat emosi Star kembali memuncak. "Apa maksudmu, ha!!!" kesalnya, dengan tatapan tajam ke arah putrinya. Star benar-benar tak tau lagi menghadapi putrinya yang setiap saat membuatnya kesal.
Bukannya merasa bersalah Liya dengan santainya kembali berucap, "Ya kalau di lihat-liat kan, Uncle Geo pasti menikahi Aunty Anggi karena sudah pasti karena kecantikan Aunty, tapi Mama ..." ujarnya dengan melirik ibunya sembari menggelengkan kepalanya.
Tau maksud dari gelengan kepala putrinya, Star mengeram kesal. "Apa kau fikir kau bisa cantik karena siapa ha!!, kau bisa cantik hanya karena Mama cantik. Camkan itu," kesal Star tingkat dewa.
"Ini juga, apa haa!!!, lepaskan aku," kesal Star pada suaminya karena menariknya keatas pangkuannya. Tanpa aba-aba Gio kembali mencium istrinya dengan cukup lama.
Beberapa saat Tuan Gio melepas pangutannya. "Sudah tenang?" Star langsung bangkit dari pangkuan suaminya, pipinya sangat memerah malu, karena suami dinginnya benar-benar tak mengenal tempat.
Star menatap semua orang yang menunduk dan terlihat menahan senyum. Star yang malu berusaha mengendalikan dirinya dengan mengendalikan raut wajah kesal. "Entah kenapa kau menanam bibit sepertinya di rahimku. Sangat menyebalkan," gerutunya, berbalik ingin pergi kedapur mengambil hidangan penutup.
Baru akan berbalik tangannya kembali di cekal oleh Tuan Gio."Jika seperti itu sebentar malam kita akan menanam bibit baru," ujar Tuan Gio dengan enteng.
Ucapan dari suaminya berhasil membuat Star terpaku tubuhnya merasa tegang, mulutnya kaku, wajahnya pucat, terlihat jelas ketakutan di wajahnya.
"Wajah Mama kenapa terlihat takut begitu?, Apa Mama takut enjoknya kambuh lagi?" tanya Liya dengan menaikkan alisnya sebelah, menggoda sang Mama. Fikirnya kapan lagi bisa menjahili sang Mama yang terus-terus mengomelinya setiap saat, itung-itung pembalasan dendam.
Semua orang kembali tertunduk dengan menahan tawa karena perkataan dari Liya. "Puhff ..."
__ADS_1
"Diamlah, Ngi!!!" kesal Star dengan kesal karena Anggi tak berhenti ingin tertawa.
Dengan wajah polos tanpa beban, Anggi kembali berucap. "Lah, lah, kenapa aku?, aku tidak mengatakan apapun? aku juga ...." sebelum menyelesaikan ucapannya Star berbalik pergi masuk kedalam dapur.
"Arrgggh ... sudahlah!. kalian semua makan setelah itu berangkat ke kampus, nanti telat lagi," gerutunya, kembali naik kedapur mengambil masakan lainnya.
Setelah kepergian Star, semua orang melepas tawa mereka yang sedari tadi mereka tahan-tahan. "Hahahahahaha ...."
Semua orang nikmati sarapan pagi dengan khidmat, sesekali bercanda satu sama lain, lebih tepatnya Zarina dan Aliya terus bertengkar dan yang menjadi korban tak lain Tuan Geo ,karena berapa di dekat mereka.
"Pa ..." panggil Liya.
"Hum?" dehemnya, tetap menyantap sarapannya.
"Pinjam motor Papa yang kemarin donk ... Boleh ya? please ...." pintanya, dengan raut maka memelas.
Belum menjawab suara dingin sudah terdengar. "Kalian akan ikut bersama kami pergi kekampus, begitu pun saat akan pulang nanti," ujar seorang pria tampan di sebelah Tuan Gio. Dia adalah putra Star dan Gio, Ed atau Edward Aritonang. Pria dengan sifat dingin, cuek, dan tak tersentuh. Semua saudaranya takut padanya, bahkan putra Anggi dan Geo, Rasyad atau di kenal dengan R, pun takut padanya yang juga masih di kenal dengan ke pribadian dingin, datar, dan cuek, namun sangat menakuti amarah sang Kakak Sepupu nya.
"Ha?" Zarina dan Liya ingin protes tapi tak jadi karena sang Kakak kembali berucap dengan dingin, tegas, tak ingin di bantah sama sekali. "Tidak ada penolakan!!!"
Langsung saja Zarina dan Liya merengek pada sang Papa. "Pa ...." Zarina berharap mendapat pembelaaan dari sang Papa yapi sang Papa malah melirik pada Anggi, lalu mengelengkan kepalanya.
Saat Tuan Gio hendak mengatakan sesuatu Star dengan cepat cepat menyela. "Lebih baik kalian mendengarkan Kakak kalian. Tidak ada naik motor, motor dan segala macam ...."
Liya memanyungkan bibirnya, karena jika sang Mama sudah memutuskan percuma membujuk sang Papa, semuanya akan sua msia-sia karena sang Papa pasti akan tetap mendengarkan Mamanya. Begitupun dengan Zarina tak lagi mengatakan apapun karena Mamanya pasti tidak akan mendebat Auntynya.
"Ok," pasrah mereka.
__ADS_1
Berapa saat terlihat Ed sudah selesai dengan sarapannya. ""Kalian cepatlah, aku akan tunggu di luar," ujarnya dingin.
Sebelum bertanyak pergi Ed menghampiri sang Mama. "Aku berangkat dulu, Aunty ..." Ed menyalami Mama dan juga Aunty nya setelah itu Papa dan Unclenya.
"Iya sayang. Ingat jangan ngebut, dan jagain mereka berdua," ujarnya dengan memberikan tatapan maut pada Putrinya.
"Ma ... Aunty ..." protes Lisya dan Zarina bersamaan. Mereka tau jelas bagaiamana sikap Kakak mereka saat di berikan Mandat (amanah) oleh Star ataupun Anggi pasti sang Kakak akan menjadi bayangan mereka kemanapun itu. Masih sangat teringat jelas di kepala mereka saat mereka masih di sekolah menegah pertama dan menengah atas, Star dan Anggi pernah memberikan Mandatnya, membuatnya sangat tidak bebas, sang Kakak lulus hari setalh itu mereka mendapatkan sedikit kebebasan dan sekarang lagi? ....
No!!!. Liya dan Zarina tak akan membiarkan hal itu lagi. Namun lagi, dan lagi Star dan Anggi dengan kompak menatap tajam gadis cantik penghuni rumah mereka. Mengalah tatapan tajam dari sang penguasa Liya dan Zarina menelan silvanya sudah payah, lalu dengan kompak mengangukkan kepalanya. "Baiklah,: pasrah mereka.
"Good grill. Sekarang kalian berangkat ini sudah hampir jam 8, kalau tidak kalian akan terkena macet," ujar Star puas.
"Apa itu mungkin untuk kedua batu es ini ..." celetuk kedua Saudari itu dengan kesal. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata mendapat tatapn horor ke arah mereka.
Merasa suasana menjadi tiba-tiba mencekam, dengan kompak kedua Saudari itu menoleh kearah saudara laki-laki mereka, dan benar saja tatapan Ed dan R(ar) sangat tajam setajam belati milik mereka.
Dengan memberanikan diri Liya menatap keduanya. "Ng-ngapain menatap kami seperti itu?, ayo kita berangkat," ujarnya gugup, setelah itu dengan cepat berlari keluar bersama dengan Zarina.
Ed dan R kembali berpamitan pada orang tua mereka. Setelah itu menyusul kedua Saudari mereka.
Di bagasi Zarina dan Liya kembali aduh mulut. "Enak aja nyalahin aku, ini itu semua gara-gara kamu. Jika saja tadi tidak usah pakek izin segala mau minjam motor uncle, Kak Ed akan mengantar kita dan kita pun akan bebas ngapain saja," kesal Zarina.
Liya yang di salahkan ikut kesal. "Iya, kamu bisa ngomong kek gitu karena aku gagal, coba kalau berhasil ka-" belum selesai, dehem keras dari belakang membuat mereka berhenti berdebat, lalu secara bersamaan menoleh ke arah belakang. Wajah datar, tanpa ekspresi membuat rm tubuh mereka membeku.
"Berangkat?" tanyanya datar, sedangkan kedua Saudari itu hanya mampu menganggukkan kepalanya walau dalam hati mereka sangat ingin mengelengkan kepalanya, namun apalah daya mereka tak berani membantah ucapan kedua makhluk dingin di depan mereka.
#continue.......
__ADS_1