
Dengan perlahan dua wanita itu wajahnya mulai terlihat jelas, mereka terkejut melihat wajah itu, terutama Mama Rena, yang terlihat sangat shock. Ia dengan cepat mencengram lengan suaminya. "Tidak, itu tidak mungkin, ini tidak nyata," racaunya terus mengelengkan kepala.
Dengan mulut tergagap berusaha mengatakan sesuatu. "A ... A ... Al-Alda?" ujarnya dengan perasaan campur aduk, ada rasa bahagia, sedih, kangen, dan bersalah semuanya bersatu menjadi satu. Albarta ingin mendekati Alda namun langsung di lumpuhkan oleh anak buah Lues.
"Selamat datang kembali, Mr," sambut Lues, menundukkan kepalanya begitupun dengan yang lainnya.
"Selamat datang kembali, Bunda," ujar Star berlari memeluk Alda, yang menjadi guru buat mereka selama ini.
Alda saat itu tidaklah meninggal ia masih bisa di selamatka dengan obat penemuan terbaru dari dokter khusus klan Tiger, namun Alda menjalani perawatan dengan sangat lama selama 10 tahun, baru setelah itu ia kembali sadar dan pulih. Setelah dia sadar ia mendapati sahabatnya Angel telah tiada karena di bunuh oleh orang, dia juga menjadi guru dalan mengajari Frnac dan anak angkat sahabatnya Star, dalam bertarung, semua jenis bela diri, sampai akhirnya mereka kembali ke kota dengan tujuan membalas dendam atas kematian ibu mereka.
"Kemana istriku?" tanya Vano namun tak di jawab oleh siapa pun.
"Tidak, ini tidak mungkin kau sudah meninggal dengan racunku, itu mustahil kau bisa hidup lagi," ujar Ny. Rena masih tak percaya.
Melihat wajah Ny. Rena Alda merasa puas, Alda berjalan dengan pasti, senyum devil di wajahnya, membuat semua anggota Tigers Two's selalu merinding melihat senyum itu. "Tapi sangat di sayangkan, aku sedang berdiri di hadapanmu sekarang, bagaimana donk Nona Rena Truc, ups salah maksudku Ny. Rena Albarta. Lagi pula kamu tidak mungkin lupakan apa isyarat mataku sebelum aku menutup mata, bahwa aku akan kembali dan saat itu aku adalah bentuk dari kematianmu," ujar Alda dingin, menatap tajam Ny. Rena.
__ADS_1
Alberta berjalan mendekati Frnac yang telah membuka topennya. Ya dulu Frnac menggunakan wajah seseorang yang sudah lama meninggal, menyembunyikan wajahnya yang begitu mirip dengan Mamanya, agar tak ada satupun yang mengenalinya dan tau maksud dari tujuannya sebenarnya.
Kepala Alberta menggeleng-geleng, menatap wajah wanita yang sangat mencintainya tapi ia bunuh hanya demi kekuasan, sekaligus iming-iming dari Rena dulu. "Ini tidak mungkin," ujarnya percaya ingin menyentuh wajah yang begitu familiar di hatinya.
"Kau jangan berani menyentuh wajahku," ujar Frnac dingin, menghempas tangan Alberta yang merupakan ayah kandungnya.
"Ku katakan di mana istriku?!!" teriak Vano sibuk mencari istrinya, ia masih sangat khawatir dengan jeritan dari Frnac.
Frnac menatap Vano, lalu dengan dingin melempar topeng wajahnya yang ia gunakan ke hadapan Vano. Vano melihat topeng yang begitu mirip dengan wajah istrinya, pandangan Vano terahlikan menatap mata Franc yang begitu familiar di hatinya.
"Lakukan persis yang dilakukan pada Mama. Lumuru racun di seluruh peluru senjataku, pasang bom dimobil Tuan Albarta, dan untuk ayahku ini ( menatap Alberta ) siap tempat eksekusi yang begitu bagus," ujar Frnac datar, membuat Alberta kaget apa lagi mendengar hukuman yang akan di lakukan padanya.
"Tidak, Nak. Kau tidak bisa melakukan hal itu pada ayahmu sendiri," ujar Alberta panik, namun membuat Frnac emosi.
"Ciuh ( meludah kedepan ayahnya ). Kau jangan pernah menyebut dirimu sebagai seorang ayah, karena itu sangat tidak pantas. Kau hanya mengotori nama yang begitu indah," ujar Frnac dingin, membuat hati Alberta yang tak pernah tersentuh, menjadi teriris sedikit.
__ADS_1
"Senjataku," ujarnya menadahkan tangannya, lalu dengan cepat anak buah Franc memberikan senjata yang peluruhnya sudah di lumuri dengan racun yang khusus di persiapkan Frnac selama 5 tahun.
"Paku dia," titah Frnac pada anak buahnya untuk memaku kedua tangan Ny. Rena di pohon besar.
Seketika Ny. Rena panik ketakutan, ia terus memberontak namun kekuatannya sangat beda jauh dengan kekuatan para anak buah Franc. "Tidak!, lepaskan aku. Vano tolong Mama sayang," pinta Ny. Rena ketakutan.
Vano tersadar dari rasa tidak percayanya jiik wanita yang selama ini dia cintai ternyata adalah wanita palsu yang hanya datang untuk membalas dendam pada keluarganya. Vano mengalihkan pandangannya, dengan emosi memuncak karena melihat Mamanya yang di seret dengan sangat kasar oleh anak buah Frnac. "Lepaskan Mamaku, brengsek," teriak Vano melayangkan bogem pada anak buah Frnac yang berani menyeret Mamanya.
Ny. Rena memeluk putranya, Vano membalas pelukan Mamanya, memenangkannya. "Sudah Ma, tidak apa, Vano ada di sini," ujar Vano.
"Pisahkan mereka dan cepat paku wanita itu di sana," marah Franc pada anak buahnya.
Dengan gerakan cepat anak buahnya melakukan apa yang di katakan Franc selaku Queen mereka. Vano di bekuk oleh sejumlah anak buah Frnac. Frnac membidik Ny. Rena yang terlihat sangat ketakutan.
...#continue .......
__ADS_1
...see you the next episode ...