
"Waoo, Tuan Arga. Tidak pernah terpikir kalau Anda akan mengungkapkan perasaan dengan cara yanng terbuka, itupun didepan pemiliknya," ujar seseorang berjubah hitam menutupi wajah nya.
Dia menyambut Arga yang baru saja datang, dan kembali dari pesta lamaran Franc dan Vano.
Arga mengepalkan tangannya menatap orang itu tajam. "masih belum menjadi milik siapapun, dan akan seperti itu seterusnya, karena yang akan menjadi pemiliknya hanya aku seorang," ujar Arga marah.
Orang itu tersenyum canggung di ditatap tajam oleh Arga. "Aku percaya itu."
Arga berjalan ke kursi kebesarannya. "Siapkan dirimu, karena setelah tanggal pernikahan di tentukan, disitulah celah yang pas untuk menjalankan misi."
"Tentu."
"Bersulang?" ujar orang itu mengangkat gelasnya.
"Bersulang," ujar Arga mendentingkan gelasnya.
......................
"Hallo, Tuan Lues, Mereka akan menjalankan misi setelah penentuan tanggal pernikahan, Queen dan Tuan Vano," ujar seseorang pria.
"Bagus. Terus laporkan semua rencana mereka tanpa terkecuali," ujar Lues.
"Siap, Tuan."
Lues mematikan telpon dan kembali menelpon seseorang. "Hallo, Princes," ujar Lues menelpon Star.
"Ada apa?" tanya Star.
"Anak buah kita baru saja memberikan informasi," ujar Lues, melaporkan apa laporan yang di berikan oleh anak buahnya.
"Informasi apa?" tanya Star di seberang sana.
"Dia mengatakan bahwa mereka akan menjalankan misi setelah penentuan tanggal pernikahan, Queen," ujar Lues memberitahukan semua informasi yang di dapat.
"Kerja bagus. Tetap awasi, jangan bergerak sebelum mendapat perintah, Queen," ujar Star.
"Baik, Princes."
"Princes," panggil Lues di balik telpon.
"Kenapa?"
"Apa, Queen benar- benar akan melakukan semua itu?" tanya Lues ragu.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak akan melakukannya," ujar Star marah.
"Tidak," ujar Lues cepat.
"Dengarkan aku baik- baik.
" ... aku Star, putri Mam Angel, aku tidak akan tidur dengan nyenyak sebelum menghukum setiap pembunuh Mam Angel, jika Queen tak mampu melakukannya, maka aku sendiri yang akan melakukan semua itu. Nyawa harus dibalas nyawa," ujar Star terdengar sangat dingin, bahkan Lues saja merasa merinding mendengarnya.
"Tapi entah kenapa aku pun tahu denganmu, Princes. Aku bisa melihat di matamu selalu ada bayangan Tuan Vino. Aku harap jika nanti kamu melakukan semua ini, tidak akan penyesalan dimasa yang akan datang," ujar batin Lues.
"Hallo!, kamu dengar tidak," ujar Star kesal saat Lues tak bersuara.
"Dengar, Princes, dengar," ujar Lues dengan cepat.
"Ya, sudah tutup telponnya. Aku mau istirahat," ujar Star menaikkan telponnya.
"Sayang," panggil Vino yang baru selesai keluar dari kamar mandi.
"Apa tadi ada orang?" tanya Vino memakai baju.
"Orang?, tidak ada," ujar Star, mengambil baju tidurnya.
"Kenapa tadi aku dengar kamu seperti orang yang sedang ngobrol," curiga Vino.
"Telpon? ( menatap wajah istrinya ), Kamu telpon siapa?" tanya Vino mentapa istrinya.
"Teman aku," jawab Star cepat.
"Franc?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Teman kampus aku."
"Cowok?" tanya Vino yang udah mulai on mode cemburunya.
"Bukan. Cewek," ujar Star cepat memutar boleh matanya jengah.
"Udah yah, aku mau bersih- bersih dulu," ujar Star cepat meleset masuk kedalam kamar mandi.
......................
__ADS_1
Franc duduk didepan cermin dengan memperhatikan terus cincin berlian yang melekat di jemari manisnya.
Franc yang sadar dengan apa yang di lakukan, menampar pelang pipinya. "Apa yang kamu lakukan, Franc. Berhenti tersenyum!"
"Ingat ini hanya bagian dari rencana. Kamu jangan sampai tenggelam didalamnya, atau kamu akan mati seperti Mam Anggel," ujarnya menatap tajam dirinya sendiri di dalam cermin.
Franc menyandarkan kepalnya kebelakang, memejamkan matanya. "Mam, Franc kangen," ujarnya lirih, bahkan tanpa ia sadari air matanya jatuh, dengan sangat cepat Franc menghapus air matanya, ia mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Vano," ujarnya pada dirinya sendiri dan kembali tersenyum.
Dengan cepat ia mengangkat telponnya. "Iya hallo," berusaha terdengar seperti bisa.
"Hallo calon istriku," ujar Vano dari balik telpon dengan suara lembutnya. Terdengar sangat sweet.
"Kamu lagi ngapain?, mikirin calon suami kamu yang tampan ini ya?"tanya Vano menyelong, dengan sangat PD-nya.
Franc tersenyum mendengar ucapan Vano yang sangat PD. "Gak tuh," ujar Franc sok cuek.
"Masa sih?, iya juga tidak apa-apa. Aku malah bahagia."
"Mulai lagi deh, gak puas apa tadi sudah membuatku malu seperti udang rebus."
"Kenapa kamu telpon?" tanya Franc mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada. Hanya kangen saja. Kamu kangen gak sama aku?" tanya Vano.
Franc memutar bola mata malas. "Kamu itu ngomong apa. Kita baru saja bertemu," ujar Franc berusaha bersikap layaknya seorang kekasih pada pacarnya.
"Tap aku sudah rindu. Apa aku datang ke kamar kamu saja," ujar Vano dengan bersemangat.
"Jangan macam-macam kamu," ancam Franc cepat.
"Sudah ah. Aku mau tidur. Capek," ujar Franc lagi, kemudian langsung mematikan telponnya.
"Jangan- , tut, tut, tut," Vano yang masih ingin ngobrol harus berhenti saat telponya sudah mati.
"Ini nih kebiasaan, main matiin saja, kalau lagi malu. Kan makin sayang," ujar Vano pada ponselnya, ia tersenyum menatap langit-langit kamarnya.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya....
...Agar, Author juga semakin semangat update....
__ADS_1
...See you bay-bay....