
Mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam butik.
"Kenapa bengong tadi?" tanya Vano.
"Tidak ada, Pak," sahut Franc singkat.
"Baiklah."
Mereka berjalan melihat-lliat gaun yang terpasang dengan sangat indah.
Dada Franc semakin sesak saat melihat Vano memilih gaun sambil terus tersenyum bahagia.
"Franc kendalikan dirimu!, ingat tujuan awalmu. Balas dendam!" ujar batin Franc pada dirinya sendiri.
Vano terus mencari gaun yang cocok. Setelah sekian lama mencari ia menemukan gaun yang sangat indah.
Vano membawah gaun itu dan berjalan kearah Franc.
"Coba kamu pakai dulu," ujarnya memberikan gaun yang ia pilih tadi.
Franc menatap gaun itu, lalu menatap Vano. "Tapi kenapa, Pak?"
"Biar aku bisa liat ukurannya sudah pas atau belum. Karena dia sepertinya punya ukuran badan yang sama denganmu," ujar Vano santai dan tersenyum lembut.
Dada Franc semakin naik turun, ia mengempalkan tangannya.
"Bahkan ukuran badannya saja kamu tau," ujar batin Franc yang kesal bercampur sedih.
"Franc Stop!, Sudah kukatakan ingat tujuan utamamu," ujarnya saat mengingat kembali tujuan utamanya.
"Balas dendam!, Iya kamu hanya perlu menyimpang balas dendam di hatimu bukan cinta," ujar batin Franc lagi dengan penuh penekanan pada dirinya.
__ADS_1
Vano yang melihat Franc bengong tak mengambil gaunnya, bertanya, "Heii, kenapa bengong lagi?"
"Ha. Tidak ada, Pak."
"Cepat dicoba."
"Baik, Pak."
Franc mengambil gaun itu dan masuk kedalam ruang ganti.
Franc memakai gaun itu dan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ternyata aku cantik juga," ujar Franc tersenyum dengan sedikit berputar-putar.
Franc yang tersenyum mengagumi dirinya sendiri tiba-tiba dikagetkan kemunculan dua sosok yang mirip dengannya. Ada yang berbaju merah dan ada yang berbaju putih.
"Iya. Kamu memang cantik, apa lagi kalau kamu yang pakai sebagai calon Vano," ujar Si baju merah.
"Tapi itu tidak mungkin," ujar Franc lirih.
"Jangan dengarkan dia. Kalau kamu lakukan hal itu kamu akan menjadi wanita jahat. Bukankah kakek kamu berpesan, agar kamu hanya menggunakan kekuatan dan kekusaannya hanya untuk melindungi diri dan orang orang yang kamu sayangi," ujar Si baju putih.
"Jangan dengarkan dia, jika tidak kamu akan melihat Vano dan wanita lain tersenyum bahagia. Apa kamu ingin melihat itu semua. Lagi pula Kakak kamu sudah tidak ada, dia tidak akan tau," ujar Si baju merah.
"Tidak Franc jangan dengarkan dia. Dengarkan aku jangan lakukan apapun karena jika dia jodoh kamu maka dia hanya akan menjadi milikmu," ujar Si baju putih.
"Tidak Franc dengarkan aku," ujar Si baju merah.
"Tidak Franc dengarkan aku," ujar Si baju putih.
"Tidak jangan dengarkan dia," ujar Si baju merah.
__ADS_1
"Tidak jangan dengarkan dia," ujar Si baju putih.
"Stop!, Stop!, Stop!" teriak Franc menutup telinganya.
"Tok, tok, tok."
Vano mengetuk pintu saat mendengar suara teriakan Franc. "Franc kamu kenapa?, You ok?"
Franc membuka pintu dengan wajah yang dingin.
Vano yang ingin bertanya tidak jadi saat Franc memberikan gaunnya kembali dan langsung pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.
"Heii ... Franc," panggil Vano.
Franc tak menghiraukan panggilan Vano, ia tetap berjalan keluar.
"Jemput aku," ujarnya menelpon seseorang.
Vano mengejar Franc keluar tapi Franc dengan cepat masuk kedalam sebuah mobil.
"Heii ... Franc," teriak Vano memanggil Franc tapi mobil yang membawa Franc telah melaju jauh.
Vano mengepalkan tangannya. "Siapa pria itu?, Apa itu kekasihnya?," ujar Vano yang sekilas melihat sosok laki laki di dalam mobil itu.
Dada Vano naik turun. "Tidak!, Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil kamu dariku, walau kekasih kamu sekalipun. Tidak akan pernah!" ujarnya penuh tekanan pada dirinya sendiri.
"Kamu hanya milikku dan akan tetap menjadi milikku selamanya," ujarnya lagi.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya. ...
__ADS_1
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay....