
"Astaga ... apa Tuan Mudah Vano cenayang, bagaimana dia bisa tau kalau aku ini lagi mengumpatnya," ujar Angga kaget membaca pesan Vano.
Ponsel Angga kembali berbunyi, ia melihat Tuan Mudahnya yang kembali mengirim pesan.
Trin.
"Cepat kerjakan!, Jangan sampai mulutmu itu tidak bisa lagi mengeluarkan suara," isi pesan Vano.
Angga dengan cepat membalas pesan Vano saat membaca isi pesan yang terakhir. "Baik Tuan."
Angga kembali menyimpang ponselnya, ia membuang napas kasar. "Huuuu."
Angga dengan cepat melakukan tugas yang Vano berikan padanya. Ia membuka laptop memainkan jari jemarinya dengan sangat lihai.
Angga fokus pada layar monitor dan terus mencari, tapi sudah hampir dua jam ia belum bisa menemukan siapa pemilik dari mobil itu
"Apa-apan ini. Kenapa tidak ada informasi tentangnya selain namanya," ujar Angga kesal karena tak menemukan informasi apapun.
"Aku akan laporkan hal ini pada Tuan Mudah Vano," ujar Angga pada dirinya sendiri.
Angga langsung menghubungi Vano, tanpa mengalihkan fokusnya pada laptopnya.
"Kenapa lama sekali," ujar Vano langsung menyosor.
"Maaf Tuan Mudah," ujar Angga sembari memegang dadanya.
"Sekarang katakan apa kamu sudah menemukan yang aku minta?" tanya Vano langsung pada intinya.
"Sudah Tuan Mudah, tapi ..." ujar Angga mengangtung ucapannya.
"Tapi apa?, katakan dengan jelas," ujar Vano dengan suara yang seperti orang mulai kesal.
"Aku sudah tau siapa memilik mobil itu," ujar Angga hati-hati.
Mendengar hal itu Vano yang tadinya kesal, takut kalau apa yang dia minta tak bisa Angga lakukan.
"Katakan cepat siapa dia," ujar Vano tak sabaran.
"Dia bernama Lues," ujar Angga padat.
__ADS_1
Vano di seberang telpon diam, dan menunggu kelanjutan ucapan Angga.
Vano yang menunggu mengerutkan keningnya saat Angga tak lagi berbicara.
"Apa hanya itu?, Tidak ada yang lain?" ujar Vano.
"Iya Tuan Mudah, saya minta maaf tapi ... saya benar benar tidak tau lagi bagaimana lagi untuk mendapatkan informasinya?" ujar Angga hati-hati dan putus asa.
"Sejak kapan, Kamu tidak bisa mendapatkan informasi identitas seseorang?" tanya Vano kembali kesal mendengar permintaan maaf Vano.
"Maaf Tuan Mudah, tapi itu benar benar sulit. Dia seakan-akan tak mememiliki Identitas?" ujar Angga lagi.
"Bagaiamana mungkin orang tidak memiliki identitas," ujar Vano tambah kesal.
"Jika Tuan Mudah tak percaya, Anda bisa mencoba mengeceknya sendiri," ujar Angga cepat dengan sisa keberaniannya.
"Awas jika aku mendapatkannya, maka kamu akan ku lempar masuk kedalam kandangnya Si kembar," ujar Vano.
"Tidak masalah Tuan," jawab Angga tidak takut.
Vano memutuskan telponnya, dan membuka laptopnya mencari tau sendiri identitas dari seorang Lues.
Di markas Tiger Two's, Lues tersenyum sinis menatap layar monitor.
"Kemana Lues?" tanya Franc pada salah satu anak buahnya.
"Tuan Lues sedang berada di dalam ruangan data, Queen," ujar anak buahnya.
"Ngapain dia disana?" tanya Star.
"Maaf Princes, saya kurang tau," jawabnya.
"Hemm, baiklah. Kamu boleh kembali, lakukan pekerjaanmu," ujar Franc.
"Baik Princess," jawabnya menundukkan kepalanya dan pergi dari sana.
Franc dan Star berjalan menujuh ruang data informasi anggota Klannya.
Star membuka pintu ruangan data, dan melihat Lues sedang tersenyum devil.
__ADS_1
"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Star berjalan masuk.
Lues mengalihkan pandangannya menatap kedepan. "Hu. Queen, Princess," ujar Lues langsung berdiri saat melihat Franc dan Star.
"Kenapa kamu tersenyum seperti tadi?" tanya Star kembali.
"Maaf Princess, saya sedang melihat cara kerja orang bodoh untuk membobol data pribadi saya," ujar Lues memelirik monitor dengan tersenyum devil.
"Memangnya kenapa ada orang yang ingin mencari tau identitasmu?" tanya Franc dingin menatap Lues.
Lues terkekang dengan sikap dindin Franc yang tak seperti biasanya.
Maaf Queen, tapi saya juga tak tau kenapa," ujar Lues menundukkan kepalanya.
"Baiklah lupakan itu yang penting identitasmu aman, Kan?" ujar Star.
"Semuanya masih aman," ujar Lues.
"Dan itu suatu keharusan. Tak ada yang boleh tau setiap identitas anggota klan tiger Two's. Paham, " ujar Franc penuh penekanan.
"Baik Queen," jawab setiap orang yang bertanggung jawab dalam mengamankan data.
"Lues ikut keruanganku," ujar Franc dingin.
Franc keluar dari sana, Star dan Lues mengikuti dari belakang.
"Princess," panggil Lues pada Star.
"Tak usah bertanya jika itu tentang perubahan Queen," ujar Star langsung.
Lues terdiam mendengar ucapan Star, ia tak berani lagi mengeluarkan suara.
Mereka sudah berdiri didepan pintu dengan tag nama Rom Queen.
Mereka masuk, sedang Franc sudah duduk dengan ekspresi yang begitu menakutkan.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya....
__ADS_1
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay. ...