LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 105 S2


__ADS_3

25 tahun kemudian ...


Hari ini tepatnya hari senin, seorang ibu terlihat sangat kesal karena anak semata wayangnya yang tak kunjung ingin bangun, padahal ini sudah jam berapa bisa-bisa mereka akan terlambat untuk berangkat ke kampus.


"Ya Allah .... Aliya bangun!, kalau tidak Mama akan menyeret kaki mu sampai kemeja makan," ancam wanita itu, tapi putrinya masih terus membungkus dirinya dengan selimut.


Wanita itu terlihat mengatur napasnya, karena putri semata wayangnya, selalu saja membuatnya kesal di pagi hari. "Satu! Dua! ..." sebelum hitungan Mamanya selesai wanita cantik keluar dari dalam kepompongnya.


Dengan wajah kesal gadis cantik yang dipanggil Aliya, langsung bangun duduk di atas ranjang. "Iya, iya, Ma. Ini Lia sudah bangun." Gadis yang di panggil Aliya atau yang memiliki nama lengkap Jesely Aliya Putri, terbangun dengan wajah kusut dengan mata masih terpejam, ia membuka sebelah matanya dengan malas, mengintip wajah Mamanya yang sudah memasang wajah sangar dan terlihat menahan emosi.


Tangan menyilang di depan dadanya. "5 menit mandi kalau tidak ..." tiba-tiba pintu terbuka dan seorang gadis cantik, mata bulat, dengan bulu mata lentik, rambut coklat kecoklatan yang di buat bergelombang, bibir kecil yang di poles liptin merah mudah, menambah kecantikan dan pesonanya, menerobos masuk kedalam kamar Liya. "Lari dan push Up seribu kali," seenaknya, dengan memeluk leher wanita yang sudah berumur kisaran 45 tahun tapi masih sangat mudah.


Tak terima, Liya langsung memberikan tatapan maut pada gadis muda di depannya yang menerobos masuk kamarnya. "Heii!! kalau masuk kamar orang ngetuk dulu, ngak sopan banget," kesal Liya, namun tak membuat wanita muda itu tersinggung dan marah, melainkan menampilkan wajah menjengkelkannya bagi Liya.


"Bodoh ...."


Gadis cantik itu menoleh kesamping tersenyum mencium pipi wanita paruh payah yang ia peluk."Good morning Aunty Star," ujarnya manis.


Wanita paruh baya atau Star tersenyum lembut, mengusap kepala gadis cantik di sampingnya. "Good morning to, Nak," ujarnya lembut, sangat berbeda saat beberapa saat tadi.


Pandagan Star kembali terahli ke anaknya. "Liat Adikmu saja sudah siap. Seharusnya kamu sebagai Kakak harus memberikan contoh yang baik pada adikmu, bukannya bermalas-malasan seperti ini," omelnya.


Sebuah senyum mengejek terlihat jelas di wajah gadis mudah yang berdiri di samping Star, bahkan ia menjulurkan lidahnya keluar mengejek sang Kak. "Betul tuh Aunty."

__ADS_1


Gadis muda ini sangat senang mengkompori suasana saat sang Kakak di marahi oleh Mamanya. Di saat sedang menikmati penderitaan sang Kakak, tiba-tiba seseorang dengan keras menarik telinganya. "Ahhh, Ma, Ma, sakit, sakit ..." rintihnya menatap Mamanya di sampingnya.


"Bicara yang baik pada Kakak mu, dia itu lebih Tua dari mu."


Kini keadaan sudah terbalik, sekarang bagi Liya yang tertawa mengejek sang Adik atas penderitaannya, tak sampai di situ Liya membalas memberi kompor pada Auntynya. "Adek Zarina memang sangat suka ngomong seperti itu padaku Aunty, tapi gak apa-apa diakan Adikku, aku tidak masalah kok," ujarnya dengan membuat suara seperti seorang yang menyedihkan dan bijak layaknya seorang Kakak.


Mata gadis muda itu atau yang di panggil Zarina, atau Zarina Salsabila, membulatkan matanya, menatap kesal pada sang Kakak. "Heiii!!, aah ah ..." niat ingin marah, namun itu membuat telinganya kembali di tarik dengan keras oleh Mamanya.


"Mama bilang apa?, bicara yang sopan pada orang yang lebih Tua."


Zarina terus di omelin oleh Mamanya, sedangkan Liya sangat menikmatinya, dia tersenyum sangat puas kearah adiknya dengan wajah songongnya, tak lupa juga ia menjulurkan lidahnya, mengejek adiknya.


Sangat tidak terima, Zarina dengan cepat menunjuk, mengadu pada sang Mamanya. "Liat Ma, Kak Liya mengejekku duluan." Sang Mama menoleh tapi Liya dengan liciknya segera mengubah raut wajahnya menjadi senduh seperti seorang korban pembullyaan.


Tak tega melihat keponakannya terus di jewer, Star turun tangan. "Ngi, sudah lepasin telinga anakmu, nanti putus telinganya," ujar Star, melepas tangan Anggi atau di kenal dengan nama Anggi Frnac Alberta.


"Ada apa ini pagi-pagi ribut sekali," ujar seorang pria paruh baya berjalan dengan sangat santai kearah mereka.


Zarina langsung datang berlari masuk kedalam pelukan sang Papa. "Pa, Mama menjewer telinga aku," aduhnya.


"Oh, anak Papa, sayang," pria paruh bayah itu, dengan lembut memeluk putrinya dengan penuh kasih.


Semua orang memperhatikan interaksi Papa dan anak, Liya memutar bola mata malas melihat adiknya yang sangat manja walaupun dia juga sangat manja pada sang Papa.

__ADS_1


Geo mengalihkan pandagannya ke atas ranjang dan melihat keponakannya masih berwajah bantal, padahal mereka harus ke ke kampus dan ini pun hari pertama mereka masuk. "Princes kok belum mandi?, cepatlah mandi sebelum Kakak mu datang kemari," ujar Gio dengan lembut pada keponakannya, karena dia tau sikap keras kepala keponakannya itu menurun dari sang Kakak yang jika di kerasi akan semakin keras, jadi harus dengan lembut sama sewaktu dia harus mengurus Kakaknya yang malas datang ke sekolah dulu.


Mendengar itu dari Unclenya langsung saja Liya turun dari atas ranjang berjalan ke kamar mandinya, Liya sangat malas berurusan dengan dengan sang Kakak yang super duper dingin dan galak. Liya mengambil pakaian yang sudah di siapkan oleh ibunya.


Melihat putrinya yang selalu saja nurut apa kata Unclenya apalagi setelah dengan menyebut nama sang Kakak, pasti dengan cepat di lakukan, sedangkan dirinya harus berteriak dan bolak balik kedalam kamarnya untuk membangunkan diri tapi tetap tak mau. Star menghembuskan napas kasar. "Kalau Unclenya yang minta langsung di kerjakan," gerutu Star.


"Karena Uncle Geo tampan," celetuk Liya.


Mendengar perkataan putrinya, Star memijat kepalanya karena pusing dengan sikap putrinya. "Entah siapa yang dia tiru, kenapa dia sangat suka pria tampan," celetuknya, tak habis fikir dengan kelakuan putrinya sendiri yang sangat sering menganggumi pria tampan.


Anggi yang mendengar hal itu dengan datar berucap. "Dia anak mu, ya jelas dia meniru kamu. Kau juga waktu muda seperti itu. Jangan lupakan itu," sahut Anggi, setelah itu pergi meninggalkan Star.


Seketika ruagan yang tadinya memiliki suhu normal menjadi sangat panas. "Anggi!!!" teriak Star menggelegar.


Semenjak menikah Star memang menjadi wanita yang sangat mudah marah, apa lagi sudah berurusan dengan anak-anaknya yang satu dinginnya minta ampun, dan yang satu keras kepalanya minta ampun.


Semua orang menutup tellinga mereka, Zarina yang sudah di ujung pintu berbalik. "Aunty!!!"


"Heum ..." sahut Star melotot ke arah Zarina. Melihat mata Auntynya, Zarina yang ingin menegur atas teriakan Auntynya gak jadi dia mengurungkan niatnya, takut kena imbasnya dan berujung di hukum.


Tanduk Auntynya sudah keluar dengan asap di kepalanya, Zarina langsung menampilkan deretan gigi putihnya. "Gak jadi Aunty, lanjutkan saja teriakan Aunty," ujarnya Zarina, dan dengan secepat kilat pergi dari sana.


"AANGGGGIIIIII !!! KEMBALI KAUU!!!!

__ADS_1


...#continue ........


...See you the next episode, Readers....


__ADS_2