
Vino yang fokus dengan jalan di depan, tiba tiba dikagetkan dengan suara Star yang terdengar panik.
"Vino putar balik, kita kejalan Z sekarang. Cepat," ucap Star panik.
Vino menoleh ke Star. "Kenapa?"
"Tidak perlu banyak tanyak. Cepat putar balik!" ucap Star yang sangat panik.
"Iya, katakan dulu Kamu kenapa?" tanya Vino yang ikut panik.
"Aku tidak apa apa, tapi Franc di culik."
"Ha. Franc diculik?"
"Iya. Sudah cepat putar balik."
"Baiklah. Kamu tenang, ok. Pegangan."
"Hmmm."
Vino memaju mobilnya dengan kecepatan maksimal.
"Franc kamu kenapa sih, bisa diculik," ucap Star khawatir pada sahabatnya.
"Kamu tenang, kita akan nyelamatin Franc, ok. Ambil ponselku dan hubungi kak Vano," ucap Vino menenangkan Star yang panik.
"Vano sudah ngejar," ucap Star menatap kedepan dengan gelisah.
"Ngejar?, Dari mana kamu tau?' tanya Vino bingun mendengar ucapan Star.
Star sadar akan ucapannya menjadi salah tingkah. "Ha. itu, itu, itu. Aku tidak tau. Sini biar aku telpon pak Vano," ucap Star berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tadi kamu bilang, kalau Kak Vano sudah ngejar," ucap Vino masih penasaran ucapan Star.
"Aku hanya ngomong ngasal karena panik."
Vino mempercayai ucapan Star, dan memintanya mengambil ponselnya. "Baiklah. Ambi ponselku di dalam saku jasku."
"Iya sudah keluarin."
"Ambil saja, aku lagi fokus nih."
Star memutar bola mata malas mendengar ucapan Vino. "Ya ya," ucapnya merogo saku jas Vino.
"Passwordnya?" tanya Star yang tak tau password ponsel Vino.
"Bintangku."
Star menatap Vino dengan senyum yang dia tahan. "Itu bukannya namaku?"
"Bukan. Nama kamukan Star. Bukan bintang," ucap Vino tersenyum sedetik.
"Tapi artinya Bintang."
"Sudah cepat hubungi Kak Vano dan Angga," ucap Vino mengalihkan topik.
"Iya, iya."
Star mencari nomer Vano, lalu menghubunginya.
Setelah sambungan terhubung suara dari seberang sana terdengar panik. "Hallo, Vino jangan ganggu kak. Kakak lagi sibuk."
__ADS_1
"Kakak kenapa?" tanya Vino mendengar suara panik Kakaknya.
"Aku tidak apa," ucap Vano langsung mematikan sambungan telepon.
"Hubungi lagi," ucap Vino meminta Star untuk menghubungi Vano.
"Hallo Kak. Jangan di matiin dulu," ucap Vino cepat.
"Ada apa? katakan cepat!"
"Apa Kak Vino tau soal Franc?" tanya Vino.
"Franc?"
"Iya. Frnac diculik," ucap Vino memberitahu langsung Kakaknya.
"Dari mana kamu tau, Franc di culik?" tanya Vano.
"Dari Star. Apa Kakak sudah tau?" tanya Vino balik, apa kakaknya sudah tau atau belum.
"Iya, Aku sudah tau. Tapi aku kehilangan jejak, karena ada sekelompok orang yang menghadangku," ucap Vano terdengar kesal dan marah.
"Apa!, Jadi?, Apa Kakak tidak apa apa?" tanya Vino khawatir pada Kakaknya.
"Tidak. Aku tidak apa apa, hanya kehilangan jejak, mobil penjahat yang membawa Frnac."
"Kakak tidak perlu khawatir. Kami tau lokasi Franc sekarang," ucap Vino menenangkan Vano yang marah.
"Apa!, Dimana lokasinya?, Cepat kirimkan lokasinya," ucap Vano.
"Baiklah, Kak. Kakak tenang, aku akan mengirimkannya dan aku juga akan telpon Angga," ucap Vino.
"Baiklah, Kak. Kita ketemu disana."
"Hmm."
Sambungan telpon langsung di putus oleh Vano.
Vano mengendarai mobilnya menujuh lokasi yang dikirim oleh Vino.
................
Ditengah hutan sebuah mobil Van berhenti di depan bangun megah.
"Ayo. Turun!" ucap Pria berbadan besar menyeret seseorang keluar dari dalam mobil.
Orang itu memberontak berusaha melepaskan diri. "Hmmm," ucapnya menggelengkan kepalnya.
Mereka menyeret orang itu masuk kedalam rumah dengan kasar.
Seorang pria paruh bawah terlihat menuruni tangga dengan tertawa puas. "Hahahahha. Akhirnya kalian datang juga."
Pria Paruh bayah itu berjalan keorang yang dibawah anak buahnya. Dia membuka kain dan lakban yang menutupi wajahnya, dan mulutnya. "Hahaha. Ternyata kamu cantik juga."
Pria Paruh bayah itu ingin memegang wajah wanita itu yang ternyata adalah Franc.
Franc yang tidak ingin disentuh meludahi telapak tangan Pria Paruh bayah itu yang tak lain adalah paman Vano, yakni Albarta. "Cuiii."
Albarta sangat marah dengan sikap Franc yang meludahinya. "Kurang ajar," ucapnya mengangkat tangannya keatas.
Plak
__ADS_1
Paman Albarta menampar keras pipi Franc, membuat Franc terpental ke lantai. "Aauh."
"Bawah dia kekamarku," ucap Paman Albarta menatap Franc penuh hasrat.
"Baik, Tuan," ucap anak buahnya.
"Ayo, berdiri," ucapnya menarik Franc dengan kasar.
Franc dibawah masuk kedalam kamar Paman Albarta.
"Dimana Keponakanku?, Kalian mengatakan bahwa Devano mengikuti kalian, sekarang dimana dia?" tanya nya mencari Vano.
"Maaf, Tuan. Tapi tadi sekelompok orang bersenjata menghadang mobil Devano. Kami pikir itu adalah perintah, Tuan," ucap Pemimpin Anak buahnya.
"Baiklah. Biarkan saja, nanti juga dia pasti akan datang. Kalian sambut kedatangannya, aku akan bersenang senang dulu dengan kekasih keponakan tersayangku," ucapnya tersenyum melangkah masuk kedalam kamarnya.
................
Will berdiri menatap tajam ketiga sahabatnya. Andy terlihat berjalan kedepan Will.
"Gue minta maaf, kalau tadi mnyinggungmu," ucap Andy meminta maaf dengan tulus.
Will tak menjawab Andy dan hanya terus menatapnya tajam.
"Lo jangan marah, jika Lo tidak mau memberikannya tidak apa. Aku tidak masalah. Kita ini sahabat, dan Gue tak akan membiarkan persahabatan kita hancur begitu saja, karena wanita, ok" ucapnya merangkul pundak Will.
"Tapi Lo jawab satu pertanyaan Gue. Apa Lo menyukai cewek itu?" tanyanya melihat wajah Will.
"Tidak," ucap Will dingin.
"Lo jangan berbohong Will. Kami ini sahabatmu. Bahkan ini kali pertama Lo memukul Gue, hanya karena Wanita. Biasanya Lo tidak akan marah jika menyentuh wanita sewahan Lo, bahkan Lo memberikannya untukku," ucap Andy.
"Jadi, soo akui saja. Lo suka kan sama tuh cewek. Siapa tadi namanya?" ucap Andy lagi bertanya nama Selin.
"Ha. Cewek kaleng, Iya kan?" ucapnya mengingat nama panggilan Selin yang diberikan oleh Will.
"Jangan manggil dia dengan sebutan itu. Namanya Selin," ucap Will dingin.
"Wisss, bahkan menyebut namanya saja Lo tak membiarkannya," goda Andy.
"Lebih baik kalian pulang," ucap Will menyuruh semua sahabat pulang. Suasana juga masih panas.
"Tidak!, Gue akan tetap disini kalau Lo tidak mengakui perasaan Lo," ucap Andy kekeh.
"Ya sudah. Tapi kamu tidak akan mendapatkan jajanan Senjata Larasakti Lo disini," ucap Will kembali masuk naik kamarnya.
"Lo benar. Gue akan kembali tapi Lo harus akui perasaanmu jika kita bertemu lagi," teriak Andy dari pintu keluar.
Mereka pergi meninggalkan rumah Will, kembali kerumah mereka masing masing.
................
Paman Albarta membuka pintu kamarnya dengan senyum di bibirnya.
Pintu terbuka lebar menampakkan sosok wanita berdiri menatap keluar jendela.
Paman Albarta mendekati wanita itu, ingin memeluknya dari belakang.
Saat sudah dekat wanita itu berbalik menghadap paman Albarta. Seketika wajah paman Albarta berubah pias.
"Kam-kamu, ba-bagai-bagaimana, a-ada di-disini."
__ADS_1