
"Queen," ujar Lues saat melihat Franc berjalan mendekatinya dengan topen macan khas miliknya.
"Semua sudah datang" tanya Franc dengan tatapan dinginnya.
Lues yang melihat tatapan Franc merinding takut, ai bahkan menundukkan kepalanya. "Iya, Queen. Semuanya sudah ada diruangan," ujarnya dengan kepala tertunduk.
"Humm," ujarnya.
Franc kembali melangkahkan kakinya, menyelusuri lorong lorong bangunan, dan diikuti Lues dibelakang.
"Kenapa hari ini, Queen terlihat sangat menakutkan. Semoga saja tidak ada yang membuatnya marah," ujar batin Lues.
Ponsel Lues tiba tiba berbunyi. "Trin."
Lues memeriksa ponselnya, dan melihat ada pesan dari Star.
"Princes," ujarnya membuka pesan Star.
Lues membaca pesan dari Star. "Lues, beri kode pada semua anggota untuk jangan banyak tingkah, karena Queen sedang tidak baik baik saja."
"Baik, Princess. Memang sih saat aku melihat mata Queen tadi, sangat menakutkan," ujar Lues membalas pesan Star.
"Queen, kenapa sih, Princess?, Kenapa terlihat marah, kesal dan sedih," ujar Lues lagi mengirim pesan.
"Kamu gak usah tau itu, yang harus kamu perhatiin adalah para anak buah, jangan sampai mereka melakukan hal konyol. Paham!" ujar Star melalui pesan singkat.
"Baik, Princess," balas Lues.
Vino yang mendengar ponsel Star berbunyi terus dari tadi, menjadi penasaran.
"Kamu lagi kirim pesan sama siapa?" tanya Vino menatap Star tajam.
Mendengar pertanyaan suaminya, Star jadi canggung dan terlihat bingung mau jawab apa. "Hum. In-ini ak-aku kirim pesan pada Franc. Apa dia sudah mendapatkan taksi atau perlu di antar. Ternyata dia sudah menemukan taksi dan pulang ke kosan."
Vino menatap tajam dan curiga pada Star. Star yang ditatap seperti itu tersenyum canggung.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanyanya Star hati hati.
"Apa kamu tidak percaya sama aku?" tanya lagi mencoba membalikkan keadaan.
Vino tak menaggapi ucapan Star dan terus menatap tajam padanya. "Coba aku liat," ujarnya datar meminta ponsel Star.
Star langsung menyimpang ponselnya disampingnya karena tidak mungkin ia memberikan ponselnya.
Star mendekati Vino, memeluk lengannya. "Apa boleh aku keluar sebentar," ujarnya menatap Vino dengan manja.
__ADS_1
"Mau pergi kemana?" tanya Vino.
"Mau ke kosan dulu mengambil pakaian," ujarnya memainkan tangannya di dadan bidang suaminya.
"Tidak perlu. Pakaian kamu sudah banyak di lemari," ujar Vino menangkap tangan nakal istrinya.
"Tangan mu semakin nakal saja," ujar Vino lagi menatap Star dengan mengoda.
"Kenapa?, Nakalnya juga sama suami sendiri," ujar Star menatap menggoda suaminya.
"Oh, jadi sudah berani."
Vino mendekatkan wajah, tapi Star menutup bibirnya.
"Kenapa?" tanya Vino menatap Star tajam.
"Tidak."
"Kamu izinkan aku pergi ke kosan, dan ntar malam kamu mau gaya dan berapa saja, terserah kamu," ujar Star menaik turunkan alisnya.
"Memangnya kenapa kamu mau kesana, bukankah bajumu sudah banyak disini. Kalau kurang biar kutelpon- " ujar Vino terpotong karena Star langsung menyerga ucapannya.
"Tidak. Tidak perlu."
"Sebenarnya bukan pakaian yang ingin ku ambil," ujar Star menatap Vino.
"Lalu?"
"Memangnya Franc kenapa?"
"Begini. Perasan tak ada yang tau, kapan dia datang. Iya, kan?"
Vino mengangukkan kepalanya. "Humm."
"Lalu?" tanya Vino tak mengerti.
"Aku fikir Franc memiliki perasaan dengan Kakakmu. Dan aku bisa melihat dari matanya tadi, ia cemburu saat mendengar ucapan Pak Vano, yang mengatakan dihatinya ada orang yang ia cintai."
Karena itu aku ingin ke kosan dan memastikan keadaannya saja. Karena tak ada orang lain selain aku yang dekat padanya, begitupun sebaliknya. Aku tidak memiliki siapapun selain Franc. Jadi kami harus salin dukung."
"Lalu aku mau kamu kemanakan," ujar Vino kesal mendengar ucapan terakhir istrinya.
Franc tersenyum menatap Vino. "Maaf, maaf, maaf, aku melupakanmu," ujar terkekeh.
Vino semakin dibuat kesal dengan ucapan Star barusan. "Coba ulang!"
__ADS_1
"Hehehe. Tidak, aku hanya bercanda," ujar Star tersenyum kaku.
"Sekarang apa boleh aku pergi?" tanya Star lagi.
"Boleh."
"Benaran," ujar Star bahagia.
"Hemm. Tunggu sebentar aku akan antar," ujar Vino berdiri berjalan ke arah lemari.
"Tidak," ucap Star cepat berdiri.
Vino berbalik menatap Star tajam. "Kenapa!"
"It-itu, it-itu ... ha, karena jika kamu ikut, Franc akan canggung untuk berbicara," ujar Star cepat mencari alasan.
"Aku akan tunggu didalam mobil," ujar Vino kekeh.
"Tapi- " ujar Star yang ingin protes tapi langsung di serga oleh Vino.
"Kalau gak mau, kamu tidak boleh pergi," ujar Vino.
"Baiklah. Kalau begitu kamu juga tidak boleh menyentuh aku selama 1 tahun.
"Tidak bisa seperti itu?"
"Aku tidak peduli. Jadi sekarang pilih mana," ujar Star menatap tajam suaminya.
"Baiklah," ujar Vino pasrah.
"Baiklah apa?"
"Kamu boleh pergi."
Star tersenyum menatap Vino. "Ohh, suamiku. Terima kasih. uumma," ujarnya dan mengecup sekilas bibir Vino.
"Tapi ingat, persiapan dirimu sebentar malam," teriak Vino, karena Star sudah berlari keluar.
"Beres," ujar Star berlari turun.
Ponsel Star berbunyi, "Trin."
Star melihat ponselnya, dan membuka pesan dari Lues.
"Princes, tolong segera kesini. Queen sangat kacau."
__ADS_1
"Baiklah. Ini aku lagi kesana."
#contenue ....