M & L

M & L
Ngidam lagi?


__ADS_3

"Sayang, kalau aku sampai mati aku tidak punya kesempatan untuk melihat tiga anak kembar kita," seru Magma yang berdiri tegak dengan apel di atas kepalanya.


"Kau tidak akan mati. Percayalah!" seru Laura yang tengah membidikkan pistol ke arah apel di atas kepala suaminya. Perempuan itu berdiri di depan Magma, jaraknya tidak terlalu jauh tapi tetap saja Magma khawatir Laura salah tembak.


"Apa ini bagian dari ngidam mu juga?" tanya Magma penasaran.


"Mungkin," sahut Laura membuat Magma menghela nafas kasar.


"Diamlah, atau aku malah menembak kepalamu. Mulai ya ..."


"Satu ..."



"Sayang aku tidak yakin ini akan berhasil." Pria itu mulai ragu dengan jantung berdebar tak karuan. Ia menelan saliva nya susah payah.


"Tiga."


"Say ---"


DOR.


Suara tembakan tersebut memancing mereka yang berada di bawah apartemen mendongak ke atas, mencari arah suara.


"Suara apa itu?"


"Hei itu tembakan. Siapa yang menembak?"


"Apa ada polisi di sekitar sini?"


Mereka semua bertanya-tanya sementara si pelaku penembakan malah tertawa keras melihat ekspresi suaminya yang diam kaku di tempat.


"Hahaha aku sudah bilang aku pasti bisa tau."


"Sayang kau ..." Magma tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia menghela nafas panjang, pria itu benar-benar terkesiap dengan apa yang di lakukan istrinya.


"Aku pikir kau hanya bercanda sayang," lanjut Magma.


"Huh, enak saja bercanda." Laura berjalan ke sofa, menyimpan pistolnya di meja kemudian duduk menyenderkan punggungnya di kepala sofa.


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh.


"Siapa?" tanya Laura.


Magma berjalan untuk membukakan pintu dan ada dua satpam di depan apartemen mereka.


"Tuan ... apa kau baik-baik saja?" tanya nya sambil matanya menelisik ke dalam apartemen, mungkin saja ada darah karena satpam tersebut yakin asal suaranya dari apartemen Magma.


"Aku baik-baik saja!" seru Magma.

__ADS_1


Salah satu satpam itu melihat apel yang sudah hancur di lantai kemudian ia menyikut teman di sampingnya untuk melihatnya juga.


"Apel itu ---"


"Masuklah dan lihat sendiri kalau penasaran. Kalian pikir kami menyimpan mayat di sini?"


Magma dan dua satpam tersebut sontak menatap Laura yang terlihat jengkel dengan dua satpam yang datang tiba-tiba ke apartemennya.


"Maaf sebelummya Nona kalau kami sedikit lancang tapi suara tembakan itu kami dengar berasal dari apartemen ini."


"Masuk," seru Magma.


Dua satpam itu pun akhirnya masuk dan menggeledah seisi apartemen. Melihat itu Laura yang tengah duduk di sofa berdecak.


"Mereka ini tidak tau apa aku kerabat De Willson," gumamnya.


"Bagaimana?" tanya Magma. "Menemukan sesuatu?"


Dua satpam tersebut sontak menggeleng, beruntung Laura sudah menyembunyikan pistol yang di atas meja tadi.


"Kalau tidak ada pergilah, mengangguku saja! Dan kalau mendengar lagi suara tembakan tidak harus datang ke sini. Lihat wajahku baik-baik, aku Laura Zahaira Bachtiar kerabat keluarga De Willson!" seru Laura dengan menekankan suara saat menyebutkan namanya sendiri.


"Maaf Tuan, Nona ... kami tidak bermaksud menganggu kalian. Kami hanya tidak mau ada mayat yang di sembunyikan."


"Apel tuh mayatnya!" sahut Laura dengan jengkel.


"Kalau begitu kami permisi ..."


"Sepertinya emosi istriku ini sedang tidak stabil." Magma berseru sambil mengelus kepala Laura lalu duduk di sampingnya.


"Ya, aku jadi ingin menembak apel lagi," seru Laura membuat Magma sontak terdiam dan memilih memalingkan wajahnya. Jangan sampai ia di minta jadi sasaran kekesalan Laura lagi.


*


Laura tertidur di atas paha suaminya. Magma duduk dengan mengelus kepala istrinya.


Ponsel Magma di meja bergetar, tanda pesan masuk dari seseorang. Pria itu mengambilnya dan langsung membukanya.


Jeni : Om, Jeni punya ide nama buat si kembar. Gimana kalau Al, El, Dul.


Magma mendengus kasar membacanya. Pria itu tidak berniat membalas, ia kembali menyimpan ponselnya di meja.


"Sayang, masa asisten bancimu itu mau memberi nama anak kita," seru Magma kembali mengelus kepala istrinya. "Al, El, Dul. Nama apa itu?"


"Namanya bagus." Laura berseru sambil membuka mata kemudian ia yang tidur menyamping berubah menjadi terlentang, menatap suaminya.


"Al, El, Dul. Bagus kan?" Laura tersenyum.


"Tidak! aku tau, itu nama anak artis di sini."

__ADS_1


"Ya, anggap saja aku Maia Estianty dan kau Ahmad Dhani," seru Laura sambil menahan tawa nya membuat Magma berdecak.


"Lebih baik kau mandi saja dari pada memikirkan itu. Biar aku saja yang memikirkan nama untuk mereka nanti!"


"Menurutmu, apa mereka bertiga perempuan atau laki-laki."


"Aku harap perempuan sayang. Sama seperti Maxime, aku tidak mau anakku menjadi mafia."


"Aku saja perempuan bisa menembak. Kalau anak kita perempuan, ajarkan menembak juga lah agar bisa menjaga diri."


Magma berdecak. "Aku sudah tidak mau berurusan dengan pistol."


*


Lalita tengah duduk seorang diri di balkon dengan meminum secangkir jamu yang di buat salah satu pelayan di mansion. Katanya jamu itu berkhasiat untuk memberi kebugaran pada tubuh agar tidak mudah lelah, apalagi Lalita akan menikah.


Kenzo berjalan menuju balkon mansion calon mertuanya kemudian duduk di samping Lalita. Lalita menoleh.


"Mau jamu?" Ia menawari.


"Tidak, kau saja."


"Huh, ini bagus untuk tubuh tau."


"Aku tidak terlalu suka."


Lalita menyimpan jamu tersebut di meja.


"Lita, setelah menikah mungkin kau harus tinggal di rumahku. Rumahku bukan mansion yang besar seperti ini."


"Lalu?" tanya Lalita menatap Kenzo.


"Aku takut kau tidak nyaman."


Lalita berdecak kemudian memegang tangan Kenzo. Ia menatap dalam iris mata pria itu. "Rumah bagiku itu bukan bangunan yang besar dan luas. Tapi adanya kau sudah cukup menjadi rumah yang nyaman untukku, Ken."


Perlahan Kenzo tersenyum, menatap calon istrinya. Sungguh, kehilangan Laura benar-benar membuatnya beruntung karena mendapatkan pengganti seperti Lalita. Pria itu langsung memeluk Lalita, mendekapnya erat seolah rasa syukur akan ia ucapkan setiap harinya. Sama hal nya dengan Lalita, yang memeluk Kenzo dengan perasaan berbunga.


Sebelum sampai di titik ini, saat di Spanyol mereka bertengkar hebat perkara Kenzo yang masih mengingat Laura. Kebersamaan dan waktu yang mereka lalui membuat Kenzo terbiasa akan kehadiran Lalita dan membuatnya perlahan mampu melupakan perempuan yang ia suka dari kecil.


"Ikhlas itu indah, Lita ..." seru pria itu dengan masih mendekap calon istrinya.


"Indah bagaimana?" tanya Lalita melepaskan pelukan Kenzo.


"Indah, karena penggantinya dirimu," seru Kenzo membuat Lalita mengulas senyum di wajahnya seketika.


"Belajar darimana gombalmu itu." Lalita mencubit hidung pria itu.


"Dari drakor yang sering kau tonton."

__ADS_1


"Astaga! Kau ya!" kali ini pinggang Kenzo yang mendapat sasaran cubitan dari Lalita. Kenzo terkekeh, saat bersama Lalita membuat pria itu jadi ikut-ikutan sering menonton drakor padahal sebelumnya Kenzo tidak terlalu suka menonton.


#Bersambung


__ADS_2