
Byanca menatap dengan perasaan hampa tanah kuburan di depan nya. Tanah kuburan yang masih basah di selimuti bunga yang tampak cantik. Itu kuburan Ayahnya, Bram.
Setelah ia di tinggalkan Ibunya semenjak kecil, sekarang ia harus merasakan kehilangan kembali. Dan Byanca yatim piatu kini.
"Ayo pulang, By ..." Ajak Lia, tante nya.
"Aku sendirian sekarang ..." lirihnya dengan menangis.
"Tidak, kan masih ada tante."
*
Laura kembali makan malam bersama Kenzo, Farel dan Aris. Sementara Jeni sudah pergi entah kemana.
Aris terlihat tidak menikmati makan malam hari ini sebab beberapa kali ia menoleh ke arah Laura. Laura terlihat santai menikmati hidangan, begitupula Kenzo dan Farel.
"Bukan kah tidak sopan melihat seseorang ketika makan," seru Laura tanpa menoleh ke arah Aris.
Aris mengerutkan dahinya darimana Laura tahu ia sedang memperhatikan dirinya. Sementara Kenzo dan Farel menatap Laura karena tidak mengerti maksud dari ucapan perempuan itu.
"Aku tidak melihatmu!" ujar Aris.
Laura menoleh dengan mendelik. "Apa aku mengatakan namamu?" kemudian ia tersenyum miring. Senyuman yang membuat Aris bergidik ngeri melihatnya. Entahlah, ini perasaan dia saja atau bukan tapi melihat Laura setelah tahu dia pernah membunuh seseorang membuat Aris sedikit ngeri sekarang.
"Ada apa?" tanya Kenzo menatap bergantian Aris dan Laura.
"Tidak, makanan nya enak," sahut Laura.
"O-oh."
Selesai makan, Aris mencuci piring sementara Kenzo dan Laura tengah mengobrol di sofa sambil tertawa. Aris yang mendengarnya menggerutu.
"Aku harus menjauhkan Kenzo dari dia, dia berbahaya. Ketawa nya saja terlihat seperti perempuan normal tapi hatinya jahat! pantas saja Kenzo tidak di takdir kan dengan dia, memang tidak cocok. Aku tau Kenzo seperti apa dan sekarang aku juga tau dia perempuan seperti apa!!"
"Memangnya aku perempuan seperti apa, Aris?!"
Aris terhentak kaget sampai kedua bahunya meloncat, ia menoleh ke belakang, Laura berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap dada dan tatapan tajam.
"K-kau ... kenapa ada di sini?" Kemudian Aris menoleh ke sofa, Kenzo sudah tidak ada di sofa.
"Kemana Kenzo? kau tidak melemparnya ke bawah kan?" seru Aris.
"Apa kau mendengar suara jeritan?" Laura balik bertanya.
"B-bisa saja kau melakban mulutnya!"
"Cih!" Laura melengos masuk ke kamarnya. Aris buru-buru mengeringkan tangan nya dengan sapu tangan kemudian bergegas menggedor kamar Kenzo.
"Bos! Bos!"
Pintu terbuka
"Bos, kau baik-baik saja?" tanya Aris khawatir.
"Kau ini kenapa?!" Kenzo balik bertanya dengan heran.
"Bos, aku khawatir denganmu."
__ADS_1
"Menjijikan Aris!"
BRAKH
Kenzo menutup kembali pintunya dengan keras membuat Aris lagi-lagi terhentak kaget. Aris menghela nafas panjang.
"Kenapa harus aku saja yang tau soal perempuan itu, jadi aku sendiri yang tersiksa!"
Laura tengah menatap foto Magma di internet. Beberapa berita membuat artikel tentang Magma yang kehilangan istrinya dan ada artikel baru tentang Magma membuat sayembara untuk siapapun yang menemukan istrinya akan di beri imbalan yang sangat besar.
Laura menarik ujung bibirnya tersenyum. "Merindukanku Tuan?" gumamnya.
"Aku sudah memberi waktu menjadi Lala yang manis. Tapi ternyata kau lebih tertantang jika aku menjadi Laura ... ayo kita putar balik permainan mu sendiri Tuan. Aku atau kau yang akan lebih mengemis!" Laura menyeringai tajam.
*
"Banyak orang yang mendaftar untuk mengikuti sayembaramu Tuan," seru Lail.
Magma mengangguk.
"Apa anda tidak akan kembali ke kantor, Tuan?"
"Selama aku tidak ada, aku serahkan kepadamu Lail."
Lail mengangguk paham kemudian keluar dari kamar Magma meninggalkan pria itu yang hanya duduk di sofa.
"Apa mungkin dia kembali ke Indonesia," gumam Magma memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Magma menelpon Fello.
"Iya Tuan?"
"Lihat data penerbangan ke Indonesia. Apa ada nama Laura di sana."
"Siap Tuan," sahut Fello.
"Kau dimana?"
"A-aku ..." Fello menatap Vincent yang tengah makan karena mereka berdua sedang berada di mall disaat Tuan nya tau kalau mereka sedang mencari istrinya.
"Aku di ..."
Vincent berbicara tanpa suara kepada Fello. "Apatement!"
"Aku di apartement Tuan sedang mencari nama-nama pemilik apartemen disini, siapa tau ada nama Nyonya Laura ..."
"Hm." Magma langsung mematikan panggilan telpon nya.
Magma tidak bodoh ia merasa ada yang di sembunyikan dari anak buahnya itu. Magma segera keluar dari kamar, ia mengendarai mobil untuk pergi menyusul Fello.
Di perjalanan ia menelpon Lail. Lail yang berada di mobil menepi sejenak mengangkat telpon Magma.
"Ya, Tuan."
"Lacak ponsel Fello dan Vincent sekarang!" titah Magma.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Lail mematikan panggilan telpon nya kemudian ia mencoba melacak ponsel Fello dari ponselnya. Tidak lama kemudian ia kembali menelpon Magma.
"Tuan, Fello berada di mall Anggrek."
"Si*l!" Magma memukul stir nya dengan kasar kemudian mematikan panggilan telpon dari Lail.
Ia menginjak pedal gas dengan kuat, mobil melaju cepat menuju mall Anggrek.
Magma memarkirkan mobilnya sembarangan membuat pengendara di belakangnya membunyikan klakson dengan keras, tapi ketika tahu yang keluar dari mobil itu Magma, mereka hanya berdecak.
Magma langsung naik ke lantai dua tempat makan karena tadi saat berbicara di telpon Magma tidak sengaja mendengar suara seseorang yang seperti sedang memesan makanan. Itu sebabnya Magma curiga.
Sesampainya di lantai dua Magma berjalan mengitari beberapa tempat makan di sana untuk mencari anak buahnya itu. Sampai tibalah ia di depan tempat makan Ayam korea.
Magma melihat Fello dan Vincent tengah asik makan ayam sambil tertawa. Ia mendengus kasar kemudian mengambil ponsel dan menelpon Fello kembali.
Fello yang sadar ponselnya berbunyi menyimpan jari telunjuknya di bibir meminta Vincent untuk diam, Magma tersenyum kecut melihat itu.
"Ya, Tuan?"
"Bagaimana? ada nama Laura di apartemen yang kau kunjungi?"
"Maaf Tuan, tidak ada."
"Jelas tidak ada, yang kau kunjungi restaurant ayam bukan apartemen! kau pikir istriku seekor ayam sial*n!!"
"Hah ..." Fello tercengang mendengar itu kemudian ia celengak-celinguk mencari Magma.
"T-tuan ..." Fello menurunkan ponselnya perlahan kala melihat Magma berdiri di luar restaurant.
Vincent mengikuti arah pandang Fello dan ikut terkejut ketika mendapati Tuan nya di luar.
"M-mati kita, Fel."
"Bagaimana ini, Vincent ..."
*
"Minggu depan Byanca catwalk di paris, La." Seru Jeni di telpon.
"Waktu yang tepat segera datang, Jen." Laura tersenyum bahagia.
"Ah Jeni engga sabar Lala sayang ..." seru Jeni yang sedang berada di hotel.
"Huh, apalagi aku ... sudahlah, aku mau tidur dulu."
"Eh sebentar."
"Apalagi?"
"Tuan Arsen mendesak Jeni, sepertinya Tuan Arsen sudah curiga dengan Jeni."
"Ah, kau kan pintar membuat alasan!"
"Iya sih, yasudahlah Jeni bisa mengatasi Tuan Arsen. Selamat tidur Lala sayangku, bye ..." seru Jeni dengan manja.
Bersambung
__ADS_1