M & L

M & L
Marvel, Marsel, Melvin


__ADS_3

Ketakutan dan kecemasan yang sebelumnya tidak pernah Magma rasakan kini menyelimuti pria itu yang duduk seorang diri di depan ruangan. Dengan tangan bersedekap dada ia menunduk seraya memijat keningnya.


Dua kali suster datang meminta Magma masuk, tapi pria itu terus berseru nanti dan nanti.


Magma mendongak kala mendengar teriakan Laura yang memanggil dirinya.


"MAGMA BEDEB*H MASUK KAU!!"


Proses operasi akan segera di lakukan, walaupun sadar Laura sudah di berikan obat bius agar perutnya tidak sakit ketika di sayat untuk mengeluarkan bayinya.


Magma berdiri kemudian seseorang memanggilnya.


"Magma!"


"Ayah mertua," seru Magma.


"Kenapa kau di sini hah? dimana putriku?" tanya Arsen.


"Apa operasinya sudah di lakukan?" tanya Miwa.


"Jangan bilang om tua tidak menemani Lala di dalam karena takut," seru Jeni.


Magma berdecak. "Ini baru mau masuk!" pria itu pun masuk ke ruangan.


"Apa? baru mau masuk!" kesal Arsen.


"Huh, dasar aki-aki!!" pekik Jeni.


"Sudahlah, kita tunggu di sini saja." Miwa duduk di kursi diikuti Arsen dan Jeni.


*


"Sayang ... "


PLAK


Laura langsung memukul bahu Magma.


"Kau darimana saja hah? tega meninggalkanku sendirian!!"


"A-aku..."


"Operasinya kita lakukan sekarang," seru seorang Dokter membuat Magma menghela nafas. Pria itu berdiri di samping Laura sambil mengenggam tangan istrinya.


"Keluargaku sudah datang?" tanya Laura.


Magma mengangguk dengan wajah tegang. "Sudah."


"Apa tidak sakit?" tanya Magma.


"Tidak," sahut Laura.

__ADS_1


Magma mencoba mengintip apa yang sedang di lakukan Dokter. Kemudian ia terbelalak kala melihat jelas perut besar istrinya di sayat.


"APA KAU GILA! KAU MAU MEMBUNUH ISTRIKU!" sentak Magma membuat Dokter dan suster terhentak kaget.


Laura berdecak. "Diam Magma!"


"Operasinya memang seperti ini. Istri anda baik-baik saja Tuan, sudah di beri obat bius yang membuatnya tidak akan merasakan rasa sakit di perutnya."


"Darahnya keluar banyak, kalau darahnya habis bagaimana!"


"Dokter jangan dengarkan suami saya. Lanjutkan operasinya," seru Laura.


Magma mengusap wajahnya gusar, dari pada melihat perut Laura, pria itu memilih mengajak Laura berbicara untuk mengalihkan kecemasan nya.


"Kau punya nama yang lain untuk anak kita sayang?"


"Bukankah kau sudah menyiapkannya?" Laura balik bertanya.


"Iya, tapi mungkin kau ada yang lain."


"Tidak ada," sahut Laura yang percaya dengan nama yang akan di berikan Magma tidak akan jelek.


"Rencana kita punya anak berapa sayang? sepuluh?"


"Enak saja sepuluh!"


Suara tangisan bayi membuat Magma dan Laura kaget.


"Anakku..." seru Magma.


*


Miwa langsung memeluk Arsen kala mendengar tangisan bayi. Akhirnya cucu pertamanya lahir, Jeni berseru. "Asik, penerus Jeni tuh."


Benjamin dan Bayuni baru sampai di Rumah Sakit. Mereka langsung berlari menghampiri Miwa dan Arsen.


"Bagaimana, apa operasinya berjalan lancar?" tanya Bayuni dengan raut wajah khawatir.


"Sudah terdengar tangisan bayi tadi," seru Arsen membuat Bayuni mengelus dadanya lega.


"Syukurlah..."


*


Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Laura di pindahkan ke ruangan yang lain setelah operasinya berjalan lancar.


Mereka menunggu di ruangan dengan tidak sabar melihat bayi Laura dan Magma yang sedang di bersihkan oleh suster.


Kenzo dan Lalita juga baru datang bersama Winter dan Yura. Yura menghampiri Bayuni dan berbisik. "Bayinya laki-laki semua ya, Mom?"


"Katanya sih begitu, Yura."

__ADS_1


"Wuah gawat ... penerus kak Magma semua," seru Yura.


"Ya kan anaknya, tidak apa-apa jadi penerus Magma," sahut Bayuni.


Pintu ruangan terbuka mereka yang ada di ruangan itu menjerit bahagia ketika tiga suster membawa tiga bayi yang mereka tunggu-tunggu. Miwa dan Bayuni langsung menghampiri suster itu dan langsung menggendongnya.


"Astaga tampan sekali," seru Miwa terkagum.


Magma menggendong bayinya yang lain kemudian bertanya. "Mana yang lahir pertama? aku harus menentukan kakaknya!"


"Yang ini Tuan ... " Suster tersebut menunjuk bayi di gendongan Miwa.


Magma langsung menghampiri Miwa dan melihat putra pertamanya. "Kenapa wajahnya sama dengan yang ini?" Magma heran wajah putranya yang di gendong Miwa sama dengan wajah putranya yang lain yang berada di gendongannya.


"Mungkin kembar identik," seru Kenzo.


Bayuni pun berjalan untuk melihat dua bayi itu. "Loh, wajahnya juga sama dengan yang ini," seru Bayuni memperlihatkan putra Magma di gendongannya.


Karena penasaran, semua orang langsung berjalan mengerumuni Magma, Miwa dan Bayuni untuk melihat tiga bayi yang waiahnya sama.


"Apa anakku kembar identik?" seru Laura.


"Sepertinya iya," sahut Arsen.


"Wuah... wuah... wuah... " Jeni menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Dapat tiga wajahnya pasaran semua!"


"Kau bilang apa?!" seru Magma tidak terima putra tampannya di sebut wajah pasaran.


"Hehehe bercanda om tua."


"Berikan kepadaku satu," seru Laura. Magma langsung berjalan menghampiri istrinya di ranjang dan memberikan putranya kepada Laura.


"Sayang, yang pertama namanya Marvel, yang kedua Marsel dan yang ketiga Melvin."


"Nama panjangnya?" tanya Laura.


"Marvel Mahavir ... "


Laura tersenyum seraya menganggukan kepala kemudian ia beralih menatap Lalita yang hanya duduk di sofa dengan Winter. Laura tahu Winter memang sikapnya seperti itu, tidak banyak bicara. Tapi melihat kembarannya hanya diam di sofa, Laura merasa Lalita tidak baik-baik saja.


"Lita kau mau menggendongnya?" tanya Laura.


"Hah? tidak, aku tidak bisa takut jatuh," seru Lalita tersenyum samar.


"Ayolah, aku juga baru jadi seorang ibu. Belum mahir menggendong bayi. Mom berikan kepada Lita," seru Laura kepada Miwa.


"Nih sayang..." Miwa memberikan bayi pertama Magma dan Laura itu kepada Lalita. Miwa juga mengajarkan cara menggendong yang benar sebab Lalita sangat kaku.


"Tenang ya, nanti pasti giliranmu menjadi seorang ibu," seru Miwa dengan tersenyum sambil mengelus kepala Lalita dengan lembut agar Lalita tidak kecil hati melihat kebahagiaan Laura yang sudah mempunyai anak.


"Kau kapan lahiran?" tanya Benjamin kepada Jeni.

__ADS_1


"Nanti sore, udah hamil dua piring tadi," seru Jeni sambil mengelus perutnya. Benjamin terkekeh.


Bersambung


__ADS_2