
Laura masuk ke perusahaan Mahavir group sendirian, beberapa orang membungkukan badan ketika berjalan berpapasan dengan Laura. Mereka tahu Laura istri Magma karena saat pernikahan mereka tentu nya di Negara Spanyol masyarakat juga ikut heboh dengan pernikahan M & L tersebut.
"Wuaahh cantik ya ..."
"Benar-benar tubuh seorang model."
"Kulitnya mulus sekali. Tinggi juga."
Beberapa pasang mata terus memuji Laura yang berjalan dengan pinggang melenggak-lenggok, walaupun sudah tidak menjadi seorang model, dia harus tetap terlihat cantik ketika keluar mansion agar suaminya tidak malu.
Setelah sampai di lantai dua perusahaan Magma, perempuan itu mengetuk pintu ruangan kerja suaminya.
"Masuk!" teriak Magma dari dalam.
Laura pun mendorong knop pintu dengan satu tangan memegang kantung coklat berisi pakaian.
"Hei ..." ujarnya dengan tersenyum.
Magma yang tengah fokus dengan laptopnya pun mendongak. "Simpan di meja," katanya lalu matanya kembali fokus ke laptop, mengacuhkan Laura.
Senyum di wajah Laura memudar seketika, wajahnya kembali datar. Ia menyimpan kantung pakaian itu dengan sedikit kesal di meja kerja Magma.
Padahal Laura berharap ada pujian untuk penampilan nya yang cantik setelah menjadi istri. Tapi ternyata tidak ada.
Laura hendak duduk di kursi depan Magma tapi baru saja setengah duduk ucapan Magma membuat Laura berdiri kembali.
"Kenapa duduk? pulanglah!"
"Lala baru sampai," sahut Laura.
"Lalu?" alis Magma terangkat naik. "Mau apa di sini? hanya melihat orang kerja saja?"
Laura berdecak kemudian memilih untuk duduk saja. "Makannya Lala jadi model lagi saja biar ada kerjaan di sini."
"Sesuai kesepakatan!" seru Magma.
__ADS_1
Perempuan itu menghembuskan nafas, ia diam sambil mengedarkan pandangan nya menatap setiap sudut ruangan yang lebih besar dari perusahaan Magma yang ada di Indonesia.
Sampai sepuluh menit berlalu ia di acuhkan keberadaannya oleh Magma membuat perempuan itu mendengus kasar.
"Lala pulang saja lah!" Laura beranjak dari duduknya hendak pergi dari ruangan Magma.
Ketika ia memegang knop pintu, Laura menoleh ke belakang, ia pikir Magma akan memanggilnya atau menawarinya mengantar pulang tapi ternyata pria itu malah sibuk dengan kerjaannya.
Sabar La, sabar ... nanti juga dia pasti mencintaiku.
*
Baru saja Laura merebahkan dirinya di ranjang menatap langit-langit kamarnya, ponselnya berdering. Laura mengambil ponselnya di dalam tas, kemudian senyumnya mengembang ketika Magma menelpon nya.
Perempuan itu segera beranjak untuk duduk dan mengangkat panggilan telpon dari suami tercinta nya itu.
"Hallo ..."
"Pulang nanti aku mau berendam, bersihkan bathtub nya."
"Hah? bersihkan? memangnya kotor?" tanya Laura.
"Aku lihat tadi bersih loh."
"Bersihkan saja Lala sekalian isi air hangat. Aku mau langsung mandi setelah pulang nanti."
"Kau pulang jam berapa?" tanya Laura.
"Tujuh malam."
"Oh, oke." Sahut Laura dengan tersenyum kemudian panggilan telpon pun di akhiri oleh Magma.
Laura mengerucutkan bibirnya menatap ponsel di tangan nya. "Jam tujuh masih lama, kenapa menyuruhku sekarang. Mendingan tidur dulu saja ..."
Laura akhirnya kembali melentangkan tubuhnya di atas ranjang, ia berguling-guling sejenak sampai akhirnya terlelap karena kelelahan akibat bangun awal harus beres-beres di mansion dan mengantar baju ke perusahaan Magma.
__ADS_1
Bekerja sebagai model cukup bergaya di depan camera, itu menyenangkan tidak ada kelelahan sama sekali yang Laura rasakan. Sangat jauh berbeda dengan menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.
*
Jam tujuh malam langkah kaki pria itu yang baru keluar dari mobil masuk ke dalam mansion. Ia segera menaiki anak tangga setelah sebelumnya mengacuhkan keberadaan Jeni yang tengah menonton tv sendirian sambil makan cemilan.
Jeni menggerutu dengan memonyong-monyongkan bibirnya mencaci maki Magma diam-diam.
Ketika Magma membuka pintu kamar ia terdiam sejenak melihat Laura tidur di ranjang. Kemudian ia menghela nafas kasar, di bukanya pintu kamar mandi dan Magma melihat bathtub yang masih kosong, pria itu pun berdecak.
"Lala!" teriaknya.
Pria itu berjalan mendekati Laura.
"Lala!" teriaknya kembali.
Jeni yang mendengar teriakan keras Magma spontan menyimpan cemilan nya di meja dan bergegas berlari menuju kamar Laura.
"Apa ..." sahut Laura dengan suara serak.
"Kau tidak mengisi bathtub?"
"Aku ngantuk," sahut Laura kembali tanpa membuka matanya.
"Kemari kau, kemari kau!!" dengan geram Jeni menarik tangan Magma.
"Kau apa-apaan sial*n!!" Magma menepis tangan Jeni.
Jeni berkacak pinggang dengan kesal. "Jangan menganggu Lala sedang tidur ya!! kau tidak tau dia sudah kelelahan hah, karena mencuci bajumu dan membersihkan dapur!!" sorot matanya tajam menatap Magma seolah rasa takut Jeni hilang seketika karena Magma berani meneriaki Laura.
"Tidak perlu ikut campur! ini kesepakatan aku dan Laura!!" sahut Magma.
"Oh tidak bisa, Jeni yang cuwantik jelitata ulala ini akan melindungi Laura seumur hidup Jeni dan tidak akan membiarkan siapapun menganggu ---"
Mulut Jeni langsung tertutup rapat tidak berani melanjutkan kalimatnya ketika Magma menodongkan pistol tepat di keningnya. Pertengkaran mereka tidak membuat Laura bangun dari tidurnya, perempuan itu masih tidur terlelap.
__ADS_1
"Eh hehehe ..." Jeni langsung mengangkat kedua tangan nya ke udara.
Bersambung