M & L

M & L
#Sikap Masam Laura kepada Magma


__ADS_3

"Lala ---"


"Ssttt!" potong Laura ketika Magma hendak berbicara. Laura melepas sayap di punggungnya dan memberikan nya kepada Jeni, Jeni terlihat tidak suka dengan kehadiran Magma.


Setelah itu Laura memakai mantel panjang yang di berikan Jeni untuk menutupi tubuhnya.


"Ayo, Jen."


Ketika Laura melangkah Magma langsung mencengkram pergelangan tangan perempuan itu. "Kita belum bicara!"


Laura menghempaskan tangan nya dengan kasar kemudian menatap Magma dengan tatapan tajam dan tangan bersedekap dada. "Aku menunggu moment ini cukup lama, memaki-maki Byanca di depan banyak orang! dan kau menghancurkan semuanya!!"


"Aku tidak suka kau mengumbar tubuhmu seperti itu, Lala!"


Laura tertawa jengkel. "Apa urasannya denganmu?"


"Jelas ini urusanku, kau istriku!!"


"Ouw ... bukankah istrimu sudah mati karena masuk ke dalam jurang?"


"Lala ---"


"Aku La-u-ra!!"


Magma berdecak. "Jangan mempermainkanku seperti ini!!"


"Siapa yang mempermainkan siapa? istrimu itu ..." Laura menunjuk dada Magma dengan kesal. "Lala yang merendahkan harga dirinya untuk membuka sepatumu, Lala yang mau memijatmu setiap malam!! Lala yang mengurus semua pekerjaan rumah!! Dan Lala yang rela melenyapkan karier nya sendiri demi suaminya!! dan dengan biad*b nya kau bermesraan dengan perempuan lain di kantor!!"


"Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku dan Byanca ---"


"Aku tidak perduli soal itu!!" kesal Laura. "Karena aku bukan Lala istrimu lagi!!"


Magma langsung membekap mulut Laura. "Jangan asal bicara!" geram Magma.


Jeni hanya diam dengan tersenyum miring ke arah Magma. Dia suka melihat Laura tak mudah tergoda oleh Magma.


BUGH


"Akkhh!"


Laura menendang burung Magma agar pria itu melepaskan tangan dari mulutnya. "Jangan asal bertindak!!" seru Laura yang tidak suka Magma membekap mulutnya kemudian pergi di ikuti Jeni meninggalkan Magma yang memekik kesakitan.


"Mam-pus!!" Seru Jeni lalu berjalan dengan pinggangnya yang melenggak-lenggok.


"A-awas kau La-la." Seru Magma terbata sambil membungkuk memegang burungnya.


*


Laura menuju apartemen Kenzo tapi ketika hendak masuk mobilnya di hadang oleh beberapa pria. Laura dan Jeni yang duduk di balik kemudi langsung keluar dari mobil.


"Ada apa ini?" seru Laura.


"Maaf Nyonya, Tuan Magma meminta kami menjemput anda."

__ADS_1


"Siapa dia berani menyuruhku?" hardik Laura.


"S-suami mu kan Nyonya," sahut salah satu anak buah Magma.


"Dia saja tidak menganggap ku istri selama ini, enak sekali menyuruhku sesuka hatinya! Aku tidak mau!!"


Tiga anak buahnya itu saling menatap bingung. Apa yang harus mereka lakukan, memaksa atau membiarkan Laura. Apalagi Laura malah menatap mereka tajam seakan menantang mereka.


"Nyonya ---"


"Kau berani memaksaku? kau tidak tau siapa aku? Pamanku, Maxime De Willson!! Ibuku, Miwa De Willson!!"


Ponsel Jeni berdering, Telpon dari Arsen. Jelas Arsen menelpon Jeni karena melihat Laura di tv. Jeni menghela nafas panjang dan akhirnya memilih mengabaikan telpon itu karena Laura masih berdebat.


Salah satu anak buah itu, memberikan telpon nya kepada Laura karena Magma menelpon.


"Apa?" ujar Laura dengan nada tinggi.


"Ikut bersama mereka!" sahut Magma.


"Anak buah baru. Cih, pasti anak buahmu semuanya sudah tidak menurut kepadamu lagi kan." Laura tersenyum miring.


"Ya, mereka lebih menurut kepada ratu nya sekarang." Seru Magma sambil tersenyum.


Ratu yang di maksud adalah Laura. Semua anak buah Magma hampir memihak Laura. Tiga anak buah di depan Laura itu milik teman Magma.


"Berisik!" Laura mematikan panggilan telpon nya.


Pria itu sedang berada di dalam mobil masih di depan stadion berlangsungnya acara para model karena burungnya masih terasa sakit jadi Magma istirahat sebentar.


*


"Lala, bisa-bisanya bermain dengan nyawa!" teriak Arsen di telpon. Kini Laura sudah berada di dalam kamarnya, duduk di kursi sambil melepas heels yang di kenakan. Laura masih diam mendengarkan ocehan sang Ayah di telpon.


"Kau tau, Mommy mu setiap hari menangis dan menangis memikirkanmu. Otakmu ini menurun dari siapa Lala, kenapa licik sekali sikapmu ini!!"


"Ya dari Mommy," sahut Laura enteng membuat Arsen mendengus kasar.


"Biarkan aku bicara ..." Miwa langsung merebut ponsel dari tangan Arsen.


"Lala!" bentak Miwa.


"Iya Mommy cantik. Ada apa?" Sahut Laura dengan lembut berharap Ibunya tidak marah.


"Kau ya, kau tidak tau setiap hari Mommy khawatir dengan keadaanmu!! jangan main-main soal nyawa, Lala! Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi!! Ucapan adalah doa, Laura!!"


Laura berdecak. "Keluarga kita tidak terlalu beriman, Mom. Tidak perlu membawa-bawa doa, kecuali kalau Mommy berbicara dengan Winter."


"Heh, kau ya!"


"Rencana apa yang kau lakukan di belakang Mommy dan Daddy, Lala!"


"Tidak ada, aku hanya ingin menjauh dari Magma saja."

__ADS_1


"Jangan bohong atau Mommy akan meminta bantuan paman mu untuk menyelidiki. Perempuan itu, siapa namanya yang di tv tadi?"


"Byanca, Mom."


"Ya, dia. Itu ulahmu kan? menyebarkan foto-foto seperti itu?!"


"Hm."


"Apa yang kau lakukan selain menyebarkan fotonya?" tanya Miwa kembali.


"Tidak ada, Mom. Aku hanya menyebarkan foto saja."


"Mommy bilang jangan bohong!"


"Aku tidak bohong, Mommy sayang." Sahut Laura dengan lembut sambil berjalan menuju meja rias.


Ia duduk dan mengapit ponselnya dengan telinga dan bahunya karena kedua tangan nya mengambil kapas dan pembersih wajah untuk membersihkan wajahnya dari make up.


Kemudian ia kembali memegang ponselnya dengan tangan kanan membersihkan wajahnya. Laura masih mendengarkan ocehan Miwa di telpon.


"Mommy benar-benar tidak habis pikir denganmu, Lala. Kau membuat rencana separah ini, bukan hanya untuk menjauh dari Magma saja, kau membuat kami benar-benar khawatir. Bagaimana kalau Mommy terkena serangan jantung mendadak."


"Tapi nyatanya Mommy baik-baik saja kan," sahut Laura.


"Kau ---"


"Sudahlah, Mom. Aku bisa menjaga diriku dengan baik, oke. Aku minta maaf, aku sangat menyesal karena membuat Mommy dan Daddy khawatir. Aku sangat sangat menyesal ..."


"Kau bilang menyesal karena rencanamu sudah selesai kan. Iya kan?" tebak Miwa.


Laura tersenyum. "Mommy ini bicara apa sih." seru Laura seolah-olah tebakan Ibunya itu salah. "Sudah dulu ya, Mom. Lala putri cantik Mommy ini mau mandi dulu ... Bye Mommy."


Laura mematikan panggilan telpon nya. Miwa hanya mendengus kasar.


"Putrimu keras kepala," seru Miwa berjalan ke arah dapur.


"Kau yang melahirkan dia," sahut Arsen menatap kepergian Miwa.


Laura hendak berjalan ke kamar mandi tapi suara ketukan pintu membuat perempuan itu akhirnya membuka pintu.


"Ada paket." Aris memberikan kotak coklat kepada Laura.


"Dari siapa?" tanya Laura.


"Mana aku tau." Aris pun berjalan pergi.


Laura mendengus kasar, kembali menutup pintu dan membuka kotak itu sambil duduk di ranjang. Dan isinya ternyata foto Kenzo, Farel dan Aris yang di lumuri darah.


Laura mengambil foto Kenzo itu dan melihat bagian belakangnya yang tertulis.


Ratu, kembalilah ke istana. Atau para penjagamu akan mati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2