M & L

M & L
Kedatangan Jeni


__ADS_3

Magma dan Laura duduk di kursi lipat sambil memakan sate seafood yang mereka bakar. Laura memakai jaket tebal dengan selimut menutupi pahanya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Magma.


"Rasa apa?" Laura balik bertanya.


"Rasa seafood nya lah, masa rasa cium*n yang tadi," seru Magma dengan terkekeh pelan membuat Laura berdecak.


"Berapa hari kita di sini?" tanya Laura.


"Berapa hari? Besok kita pulang, memang mau berapa hari. Aku tidak mengizinkanmu lama-lama di sini."


"Kok Lala ngidamnya mau ke tidur di hutan ya, apa jangan-jangan anaknya monyet?"


Magma dan Laura langsung menoleh ke belakang mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Siapa lagi kalau bukan Jeni. Pria tulang lunak itu datang dengan tas gendong yang besar, memakai jaket tebal dan kupluk yang di pakai di kepalanya.


"Kenapa kau ada di sini?" seru Magma dengan nada tidak suka.


"Jen kau mendaki sendirian?" tanya Laura.


Jeni menghela nafas kelelahan kemudian melepas tas di punggungnya. "Iya La, Jeni naik dari tadi pagi."


"Tadi pagi? tau dari mana kita mau camping?" seru Laura.


"Tau lah, Jeni nguping Lala di Rumah Sakit hehe."


Magma berdecak, ia pikir saat di Rumah Sakit ketika menyuruh Jeni keluar dari ruang periksa pria tulang lunak itu benar-benar pergi, tapi ternyata masih mengikuti dirinya dan Laura diam-diam.


"Ah capenya ..." Jeni duduk di bawah sambil membuka kupluk yang di kenakannya dan mengibas-ngibaskannya di depan wajah.


"Apa tidak ada binatang buas yang menerkam mu? padahal aku berharap seperti itu, cih!" kata Magma dengan nada tidak suka.


"Engga dong, Om. Kan binatang buas nya ada di sini," sahut Jeni sambil tersenyum menatap Magma.


Binatang buas yang di maksud Jeni adalah Magma.


"Sayang, kita tidur saja. Aku sudah bilang jangan bergaul dengan dia!"


"Eh ... eh ... masa Jeni baru sampe udah di tinggalin ih engga sopan deh. Benci Jeni!"

__ADS_1


Laura mendengus kasar. "Sudahlah, Jeni tidak ganggu."


"Sayang, dia datang ke sini saja sudah menganggu kita!"


"Tuh dengerin, Jeni tuh engga ganggu tau. Om Tua yang ganggu hidup Jeni, pake misahin Jeni sama Lala ih gasuka deh! untung Lala bahagia sekarang, kalau engga udah Jeni cakar mulut om tua!"


Jeni semakin berani kepada Magma karena merasa sudah tidak perlu bersikap sopan lagi kepada pria itu. Toh dia sudah bukan asisten Laura lagi.


"Besar omongan!" sindir Magma kepada Jeni. Kalau ia sudah mengeluarkan pistol, ia yakin Jeni langsung ketakutan.


"Jen, Lita ada kasih kabar?" tanya Laura.


"Ada, tadi pagi katanya mau pulang."


"Pulang bagaimana?" potong Magma.


"Lita sama Ken pergi ke bandara tadi pagi. Pasport Kenzo udah di beresin sama Tuan Arsen dan Jeni. Jadi Om tua tidak bisa menyekap Kenzo di Spanyol lagi!"


"Apa maksudmu, kenapa berani menyuruh Kenzo pulang dari sana!"


"Memangnya kenapa sih?" tanya Laura sambil menggeleng kecil melihat Magma yang terlihat kesal ketika mendengar Lalita dan Kenzo akan pulang.


"Ya tapi kau tidak bisa terus menahan mereka di Spanyol."


"Nah betul tuh betul," sambung Jeni mendukung ucapan Laura.


Magma berdecak, beranjak dari duduknya dan masuk ke tenda. Diam di luar juga untuk apa kalau ada Jeni si penganggu.


"Eh La, ini camping atau pesta?" seru Jeni berpindah duduk di kursi bekas Magma. Jeni terus menatap sekitarnya. Banyak lampu, makanan bahkan kulkas kecil.


"Ini camping modern kata Magma. Biar tidak kesusahan."


"Hah?" Jeni tertawa. "Mana ada camping modern. Kesini naik helicopter kan?"


Laura mengangguk.


"Ck ck ck ..." Jeni menggelengkan kepalanya. "Si Om tua itu benar-benar ya!"


"Kalau di pikir-pikir, aku tidak akan kuat jika mendaki sepertimu. Magma benar, ini demi keselamatan anakku."

__ADS_1


"Sayang tidur!" teriak Magma.


"Ish Jeni baru datang, masa Lala udah di suruh tidur aja. Engga seru ah."


"Kau tidur duluan saja!" teriak Laura.


Di dalam tenda, pria itu uring-uringan tidak jelas. Kesal dengan kedatangan Jeni dan kesal karena Laura tidak mau masuk tenda, padahal ia sudah membayangkan bagaimana rasanya memeluk istrinya di dalam tenda.


Terdengar suara tawa yang cukup keras dari Laura dan Jeni. Magma menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, apa yang membuat istrinya tertawa lepas bersama si pria tulang lunak itu.


Satu jam berlalu Laura dan Jeni masih mengobrol dengan makan beberapa snack yang di bawa. Di dalam tenda, Magma membuka resleting tendanya sedikit untuk melihat apa yang di lakukan Laura dan Jeni.


Dan ternyata mereka sedang selfie berdua, beberapa kali keduanya ganti gaya, dari tersenyum berubah memanyunkan bibirnya lalu menjulurkan lidahnya, memasang ekspresi jelek.


"Dia tidak pernah mengajakku selfie berdua. Tapi Jeni ..."


Magma berdecak dan kembali menutup resleting tenda nya. Selesai mengobrol dengan Jeni, Laura masuk ke tenda nya.


Magma terlihat sudah tertidur. Laura membaringkan tubuhnya di samping Magma. Dan seketika itu memeluk istrinya.


"Kau belum tidur?" seru Laura.


Magma perlahan membuka mata dan menatap istrinya. "Bagaimana aku bisa tidur dan membiarkanmu asik berduaan dengan seorang pria?"


"Dia Jeni."


"Ya, dia masih punya bat*ng itu artinya masih pria."


"Kau cemburu?" tanya Laura.


"Bukan sainganku cemburu dengan Jeni, Nona L."


"Ah iya, cemburumu hanya kepada Kenzo."


"Jangan menyebut namanya!"


Laura terkekeh. "Sudahlah, aku mau tidur."


Perempuan itu memeluk suaminya. Dengan senang hati Magma membalas pelukan Laura lebih erat di dalam selimut berdua. Dan rasanya hangat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2