M & L

M & L
Tidak mau kalah saing


__ADS_3

Hari pernikahan itu di selenggarakan di sebuah hotel. Riasannya cukup sederhana, tidak terlalu mewah seperti pernikahan Laura dulu, sebab Kenzo tidak sekaya Magma dan Lalita juga perempuan yang tidak banyak menuntut.


Magma menatap Kenzo dan Lalita yang tengah menyalami para tamu dengan bahagia. Terbesit kegelisahan dalam diri Magma.


"Aku khawatir kalau mereka punya anak lebih dari tiga, sayang. Setelah mereka lahir mari membuat lagi."


"Apa? jangan g*la ya. Kau mau nambah anak karena takut tersaingi oleh mereka, huh!" Laura melengos begitu saja membuat Magma mendengus kasar.


"Aku tidak mau dia punya anak banyak melebihiku!"


Di saat mereka semua asik berfoto, Magma hanya diam dengan segelas minuman di tangannya sambil memperhatikan istrinya yang juga tampak ikut berfoto bersama Kenzon dan Lalita. Magma mana mau berfoto dengan Kenzo, pria itu sengaja jaga jarak.


Laura berteriak memanggil Magma agar berfoto bersama tapi pria itu malah pergi membuat Laura mendengus kasar.


Magma duduk di salah satu kursi dan tanpa ia sadari Arsen datang begitu saja duduk di samping Magma.


"Akrab lah dengan Kenzo. Apa susahnya," seru Arsen.


"Susah, dia pria yang menyukai istriku."


"Lita sudah bercerita. Kenzo sudah tidak menyukai Lala lagi!"


"Tetap saja. Jaga jarak itu harus!"


"Yang jaga jarak kau. Lala tidak seperti itu." Arsen menatap Laura. Pria itu mengikuti arah pandang mertuanya.


Kemudian ia membulatkan mata melihat istrinya berfoto bertiga dengan Kenzo di tengah-tengah antara Laura dan Lalita. Padahal tadi mereka tidak foto bertiga, tapi bergabung dengan keluarga De Willson.


Karena kesal, Magma beranjak dari duduknya menghampiri Laura. Arsen menarik ujung bibirnya tersenyum, cemburu pria itu berlebihan sekarang.


"Laura!" panggil Magma naik ke atas altar lalu menarik tangan perempuan itu. "Siapa yang menyuruhmu berfoto di samping pria itu!"


Melihat itu Lalita memutar bola matanya malas. "Suamiku sudah tidak menyukai Lala lagi!"


"Tetap saja kau seharusnya memberi jarak antara suamimu dan istriku. Kau ini tidak punya rasa cemburu apa!" kesal Magma.


"Kau boleh membawa istrimu turun dari sini. Jangan menganggu acara kami." Kata Kenzo menatap Magma.

__ADS_1


"Heh, bel*gu sekali! Ayo sayang!" Magma menarik tangan Laura membawanya turun dari atas altar.


Laura berjalan dengan langkah cepat untuk mengimbangi langkah suaminya. Miwa dan Arsen yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.


"Kak."


Magma dan Laura menghentikan langkahnya ketika Yura dan Winter menghampiri mereka dengan Tania dan Talia di gendongan mereka.


"Katanya Laura hamil?" tanya Yura.


"Iya Yura," sahut Laura dengan tersenyum.


"Wuah ... akhirnya kakak tua ku punya anak juga."


"Anakku tiga. Mengalahkan anakmu!" sahut Magma dengan bangga membuat Yura dan Winter terkejut.


"T-tiga?" tanya Yura.


Laura tersenyum dengan menganggukan kepala.


"Astaga hebat sekali langsung tiga!"


"Tidak ada yang mau bertanding dengan pemain wanita sepertimu!" seru Winter dengan melengos meninggalkan mereka.


Magma membulatkan mata sempurna mendengar ucapan Winter barusan. Si pria dingin itu sekali bicara membuatnya langsung geram dan ingin memukulnya sekali saja.


"Hehe, maaf ya. Winter bercanda." seru Yura yang merasa tidak enak atas ucapan Winter. Bukan tidak enak dengan Magma, tapi dengan Laura.


"Kenapa suamimu itu!" kesal Magma.


"Aku menyusul Winter dulu ya. Bye Laura."


"Bye Yura."


"Dia tidak tau sedang berbicara dengan siapa!" Mata Magma menatap Winter dari kejauhan yang tengah berbincang dengan Maxime dan Milan sambil menggendong Talia.


"Sudahlah. Kenapa marah? itu kan fakta!" Laura berjalan pergi meninggalkan Magma.

__ADS_1


"Kenapa semua orang di acara ini sangat menyebalkan! sayang tunggu!" teriak Magma menyusul Laura.


*


Sepulangnya dari acara, Magma membuka kancing bajunya satu persatu di kamar. Sementara Laura tengah membuka heels nya di sofa.


"Ayo sayang. Kita mandi." Pria itu tersenyum sambil melentangkan kedua tangan nya.


"Kau saja dulu, aku lelah," sahut Laura lalu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


Magma menghampiri. "Sayang, apa kau tidak ada mual dan muntah?" pria itu duduk di samping istrinya.


Laura menggelengkan kepala dengan wajah lesu. "Aneh, biasanya orang hamil mual-mual. Yasudah, kita mandi saja dulu. Mandi air hangat berdua, bagaimana?"


Laura berdecih. "Modusmu itu! Mandi sendiri-sendiri saja!"


"Berdua lah sayang ... kita jarang sekali mandi berdua."


"Ah ralat, bukan berdua. Tapi berlima, tambah tiga di perutmu."


Wajah Laura yang lesu tiba-tiba tersenyum sambil mengelus perutnya. Ia tidak menyangka sekarang dirinya hamil.


"Mereka ini masih belum di beri nyawa, belum berbentuk. Tapi aku sudah mencintainya ..."


"Hebatkan aku sayang," sambung Magma sambil mengelus perut Laura.


Laura mendelik. "Kau suka sekali membanggakan diri dari tadi!"


"Jelas lah sayang. Aku minta satu dapat tiga, siapa yang tidak bangga. Walaupun aku takut menjadi Ayah, tapi merasa hebat karena mengalahkan pria di keluarga De Willson. Si musim panas anaknya tidak ada yang kembar, Yura kembar dua. Tinggal aku harus berhati-hati kepada si tukang masak itu!"


"Tukang masak?" Laura mengernyit. "Kenzo?"


"Aku bilang jangan sebut namanya! aku tidak suka!"


"Akurlah, kita keluarga sekarang," seru Laura beranjak dari duduknya pergi ke kamar mandi.


"Siapa yang menganggapnya keluarga, aku tidak s*di!" gumam Magma. Terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, Magma menoleh.

__ADS_1


"Sayang aku mau mandi bersamamu!" teriak Magma.


Bersambung


__ADS_2