M & L

M & L
#Pulang ke mansion


__ADS_3

Dua hari sudah Laura di rawat di Rumah Sakit, dua hari pula Magma libur dari kerjanya dan sibuk merawat istrinya itu.


Jeni hanya sesekali datang ke Rumah Sakit, karena Magma meminta pria tulang lunak itu untuk tidak selalu ada di hadapan nya.


"Ayo ..." seru Magma.


Laura mengangguk dengan tersenyum kemudian mereka keluar dari ruangan. Saat berjalan di koridor, Laura sesekali menoleh ke samping, menatap suaminya. Berjalan berdua seperti ini membuat perempuan itu tak henti mengembangkan senyum di wajahnya.


"Bisa lebih cepat?" pinta Magma yang merasa Laura berjalan sangat lambat.


"Dokter bilang tidak boleh kecapean, jadi jalannya pelan-pelan saja," sahut Laura yang menjadikan alasan dari Dokter itu untuk jalan berdua bersama suaminya.


Magma menghela nafas kasar. "Kalau begitu berhenti menatapku seperti itu!"


"Aku tidak menatapmu, huh."


"Aku bisa melihatnya, Lala!"


"Jadi, walaupun kau menatap lurus ke depan tapi diam-diam hatimu memperhatikanku ya."


"Kau ini bicara apa! sudah cepat!" Magma yang kesal akhirnya merangkul Laura dan membawanya jalan lebih cepat, setidaknya dengan merangkul Laura jika perempuan itu pingsan Magma akan lebih mudah menangkapnya.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan memasang seatbealt masing-masing. Lagi, Laura kembali menatap Magma dengan tersenyum.


Ada untungnya aku sakit, dia jadi sedikit baik kepadaku. Dan sedikit perhatian tentunya ...


Magma menoleh, melihat istrinya yang terus tersenyum kepadanya. Kemudian pria itu berdecak lalu mengapit hidung Laura.


"Jaga matamu!"


Laura menepis tangan Magma karena oksigen tidak bisa masuk ke hidungnya.


"Ih kau ini, kau mau aku mati!" cicit Laura.


"Mati karena aku memegang hidungmu. Bisa memang?" tanya Magma.


"Bisa lah, kau menjepit hidungku, Lala tidak bisa bernafas tau!"

__ADS_1


Magma menggeleng beberapa kali kemudian menyalakan mesin dan mobil pun keluar dari garasi Rumah Sakit.


"Makasih ya ..." seru Laura.


Magma menoleh ke samping dengan masih mengendarai mobilnya.


"Karena merawatku," ujar Laura dengan tersenyum.


"Aku hanya tidak mau Arsen menyalahkan ku," seru Magma kembali menatap jalanan di depan nya.


"Huh, panggil Daddy lah bukan Arsen. Aku juga memanggil Ayahmu Daddy, bukan Benjamin."


"Itu kemauanmu sendiri, bukan perintahku," sahut Magma membuat Laura mengerucutkan bibirnya.


*


Sesampainya di mansion, Laura di antar Jeni ke kamar. Sementara Magma tengah berbicara dengan Lail.


"Magma kemana, Jen?" tanya Laura.


"Ada di bawah tuh sama Sekretarisnya," sahut Jeni sambil menuangkan air ke gelas lalu menyimpan nya di atas meja.


"La, Jeni mau tanya deh."


"Apa?" tanya Laura.


"Lala sampai kapan mau tahan dengan si tua bangka itu?"


"Tidak tau."


Jeni berdecak. "Yaudah, ganti pertanyaan aja deh. Lala kepikiran engga, kalau Lala bakalan ninggalin Magma?"


Lala terdiam, menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Pertanyaan yang Laura sendiri tidak tahu bagaimana menjawabnya.


Dengan tersenyum Jeni menunjuk Laura. "Nah kan ... Jeni tau nih jawaban nya, pasti kepikiran kan?"


"Ish apaan sih! engga lah."

__ADS_1


"Huh, bohong ..."


"Yasudahlah, Lala istirahat dulu. Jangan kelelahan lagi, Jeni ke bawah dulu ya. Bye Lala muach."


Jeni keluar dari kamar Laura meninggalkan perempuan itu yang tiba-tiba melamun sendirian memikirkan pertanyaan Jeni.


Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk dari seseorang. Laura mengambil ponselnya di atas meja dan itu pesan dari Kenzo.


"La, satu jam lagi ikan nya di kirim ya. Terimakasih sudah pesan banyak ..."


Laura tersenyum dan membalas.


"Iya, Ken. Sama-sama ... semoga Magma suka ya dengan ikan masakanmu."


Saat di Rumah Sakit tadi Laura memesan ikan goreng yang di masak Kenzo dan memintanya di kirim ke alamat mansion nya. Tidak tanggung-tanggung, Laura memesan seratus ikan goreng untuk di bagikan ke para pelayan dan penjaga. Beruntung Kenzo dan Farel sudah membumbui semua ikan nya, tinggal di masak di bantu beberapa orang di Restaurant.


*


Lauk untuk makan malam hari ini adalah ikan, Magma mengedarkan pandangan nya melihat piring-piring yang di penuhi berbagai macam ikan, dari ikan goreng sampai ikan yang di bakar.


"Kau pesan sebanyak ini?" tanya Magma kepada Laura.


"Lebih banyak dari ini, tapi aku membagikan nya ke para penjaga dan pelayan."


"Kau mau membuat pemilik restaurant itu kaya?" seru Magma sambil mengambil satu ekor ikan goreng dan menyimpan di piring miliknya.


"Ya, aku membantu temanku."


Perkataan Laura tidak terlalu di dengar Magma karena pria itu kini sedang mengunyah daging ikan di mulutnya yang terasa sangat enak. Berbeda dari yang lain, padahal sama-sama ikan goreng.


"Bagaimana rasanya?" tanya Laura dengan mata mengerjap beberapa kali.


Magma mengangguk samar tanpa berkata apapun. Laura tersenyum ketika melihat suaminya makan dengan lahap.


"Pakai nasi," tawar Laura.


"Tidak," sahut Magma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2