M & L

M & L
#Lala kau dimana


__ADS_3

"Kau harus janji untuk menutup mulutmu dari apa yang kau dengar!" tegas Jeni berbicara serius kepada Aris.


"Empshshhs."


"Apa? bicara yang jelas dong, Jeni tidak mengerti ih!"


"Esmmmphshsh."


"Apa sih, ih gemes deh!"


"Dia mau bicara bagaimana kau menutup mulutnya dengan lakban!" seru Laura masuk ke kamar.


Jeni menepuk jidat nya. "Astaga Jeni oon."


Jeni pun yang duduk di sisi ranjang berdiri dan membuka lakban hitam yang menutupi mulut Aris.


"Biad*b!" ujar Aris membuat mata Jeni membulat seketika. Karena Aris berani memaki dirinya.


"Aw ... aw ... aw, berani sekali ya bilang Jeni biad*b!"


Aris di dudukan di kursi dan di ikat oleh tali tambang, tangan nya juga di ikat ke belakang dan tadi mulutnya di perban. Mereka bertiga sempat bertengkar tadi tapi Aris lah yang kalah karena ternyata Jeni tidak selembek yang Aris pikirkan. Laura juga, walaupun wanita dia juga bisa berkelahi ternyata. Dua lawan satu, jelas Aris kalah.


"Kalian berdua ini ... harusnya di laporkan ke polisi!" seru Aris menatap bergantian Laura dan Jeni dengan tatapan tajam nya.


"Jangan melihatku seperti itu, aku tidak takut dengan matamu!" sahut Laura sambil tersenyum kecut.


"Kau biad*b Laura! kau membunuh Ayah orang lain!" Aris berusaha membuka tangan nya yang di ikat tapi ia kesulitan.

__ADS_1


"Masalahnya denganmu apa? Ini bukan urusanmu!" seru Laura.


"Urusanmu itcuh ..." Jeni membelai lembut wajah Aris, Aris sontak menggelengkan kepalanya dengan kasar tidak mau di sentuh Jeni.


"Menutup rapat-rapat mulutmu. Iya kan La?" Laura mengangguk dengan berdiri di dekat pintu sambil tangan bersedekap dada.


"Aku akan memberitahu Kenzo soal ini!" ancam Aris.


Laura tersenyum kecut. "Nama Ibumu Rahmawati biasa di panggil Bu Rahma, adikmu Susan. Iya kan?"


Aris melebarkan mata. "D-darimana kau tau itu?" tanya nya terbata.


"Cukup tutup mulutmu dari apa yang kau dengar. Maka Ibu dan adikmu selamat Tuan Aris ..." ancam Laura.


Gigi Aris menggertak marah, di tatapnya Laura dengan tatapan permusuhan. "Kau bukan manusia Laura!"


"Jadi bagaimana nih, Ibu dan adikmu yang mati atau kau juga mau ikutan mati say?" tanya Jeni.


Aris terdiam sejenak. Ia memejamkan mata mencoba meredamkan amarahnya.


"Kalau kau diam, aku tidak akan menganggumu dan keluargamu," seru Laura.


Aris yang menunduk kembali menatap Laura. "Kau berjanji tidak akan menganggu Ibu dan adikku?"


"Aku tidak sejahat itu Aris. Hanya saja, aku tidak suka ada orang yang ikut campur dengan urusanku!" sahut Laura.


Akhirnya Aris mengangguk samar membuat Jeni dan Laura tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


*


Ingat, dalam satu bulan. Jika putriku masih belum di temukan, aku minta nyawamu!


Magma menyimpan ponselnya di meja setelah membaca pesan dari mertuanya, Arsen. Ia sedang berada di ruang kerjanya di perusahaan. Diam di mansion membuat pikiran nya kalut karena memikirkan Laura.


Di hadapan nya ada dua anak buahnya. Tapi bukan Fello dan Kenzo.


"Ikuti Jeni kemanapun dia pergi, jangan sampai kalian kehilangan jejak!" titah Magma.


"Baik Tuan." Kedua pria itu membungkukan badan kemudian keluar dari ruangan dan bersamaan dengan itu Lail masuk menghampiri Magma.


"Tuan, aku sudah menghukum wartawan yang menyebarkan berita tidak jelas soal Nyonya Laura. Mereka sudah di penjara."


Magma mengangguk.


"Ada hal lain yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Lail kemudian.


"Tidak ada, keluarlah. Aku ingin sendiri."


"Baik Tuan." Lail membungkukan badan sejenak kemudian pergi dari ruangan.


Magma menghela nafas berat memejamkan matanya. Byanca berada di pangkuan nya hari itu karena perempuan itu memohon kepada Magma agar membantu dirinya untuk pura-pura menjadi kekasihnya. Byanca hendak video call bersama Ayahnya hari itu. Ia meminta Magma untuk bersikap romantis di depan Ayahnya.


Magma pun merasa itu juga salahnya karena menuruti kemauan Byanca.


Bukan kah ini yang aku inginkan, dia pergi dari hidupku. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda ... Lala kau dimana ...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2