
"Sial*n manusia biad*b kurang ajar! dia masih saja belum kapok!" gerutu Laura kesal sambil berjalan di lorong kantor. Magma di sampingnya hanya diam mendengar caci makian Laura untuk Byanca.
Langkah Laura terhenti tiba-tiba ketika melihat ada satu mayat tergeletak di depan lift. Ia langsung menoleh ke arah suaminya.
"Kau ya?"
Magma hanya mengangkat kedua bahunya lalu berjalan menekan tombol lift. Ia masuk di ikuti Laura di belakangnya. Mereka seakan tidak perduli dan sudah biasa melihat mayat terkapar di lantai seperti itu.
Jeni dan Lalita langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Laura dan Magma keluar dari dalam lift.
"Lala ..." jerit Jeni berlari menghampiri Laura tapi Magma segera mendorong dada Jeni untuk menjauh dan langsung menarik tangan istrinya untuk melangkah lebih cepat.
"Antar Lita ke apartemen," seru Magma meninggalkan Jeni dan Lalita.
Lalita mengernyit. "Mereka kenapa?" tanya nya.
Jeni mengangkat kedua bahunya tidak tahu.
*
"Aku tidak mau tau, malam ini kita harus menangkap Byanca!" kata Laura dengan kesal sambil memakai seatbealtnya.
"Sabarlah ..."
"Apa? sabar? kau sendiri yang tadi mau membunuh Justin dan sekarang kau sendiri yang memintaku untuk sabar! jangan bilang karena Byanca perempuan kau tidak mau membunuhnya! Oh, atau karena kau mencin ---"
Cup.
Magma langsung mengecup bibir Laura. "Hati-hati kalau bicara Nona L!"
Laura membeku di tempat. Magma menyunggingkan senyumnya kemudian menyalakan mesin dan mobil pun melaju dari perusahaan Jasmine group.
Laura terus menggerutu selama di perjalanan karena masih kesal dengan Byanca. "Padahal aku sudah membunuh Ayahnya, sekarang apa harus aku membunuh dia juga!"
Cittt.
Magma mengerem mobilnya mendadak. Ia langsung menoleh ke Laura dengan eskpresi terkejut. "Kau membunuh Ayahnya?"
"Iya, kenapa?" seru Laura dengan entengnya.
"Dengan cara apa?" tanya Magma.
"Suntik mati, Jeni yang masuk ke ruangan waktu Byanca keluar dari ruangan Ayahnya!"
"Bukan kah kedua orang tuamu melarangmu untuk menikah dengan seorang mafia? lalu darimana sikap mafia mu itu muncul sayang?"
"Dari artikel keluarga De Willson. Aku membaca semuanya dari pemimpin pertama sampai sekarang Paman Maxime yang terakhir. Mereka hebat, aku kagum dengan mereka. Favorit ku itu Grandpa Javier waktu menyerang mudork, di artikel di ceritakan dengan jelas bagaimana mereka menyerang mudork diam-diam, bagaimana grandpa Javier mengatur semua anak buahnya. Dan lagi, kisah cinta mereka benar-benar ---"
Magma langsung membekap mulut istrinya. "Berisik! kau membicarakan De Willson sudah seperti bercerita tentang film saja!" Magma kembali menyalakan mesin mobilnya.
Laura berdecak dan kemudian bersantai di mobil menyenderkan punggunya di sandaran kursi. Soal Byanca, ia akan memikirkannya nanti saja, lagi pula perempuan itu hanya perempuan yang seperti debu, di tiup saja pasti menghilang.
*
Laura duduk di sofa sementara Magma tengah membuat minuman untuk mereka berdua. Perempuan itu sedang menonton tv dan harus terganggu dengan suara ponsel di dalam tasnya. Panggilan masuk dari sang Ayah, Arsen.
"Hallo, Dad."
"Kapan kau akan kembali ke Indonesia? Dad dan Mommy sudah menunggu, harus kah kami yang ke sana Lala?"
"Tidak perlu, Dad. Minggu depan ya, Lala pulang minggu depan. Ada Magma, mau bicara dengan nya?"
Tanpa menunggu jawaban dari sang Ayah, Laura langsung menyodorkan ponselnya ke arah Magma. Magma menyimpan dua gelas minuman itu di meja kemudian mengambil ponsel Laura. Dan Laura mengambil segelas minuman nya.
Ia duduk di sofa. "Hallo, Dad ..."
Laura langsung tersedak mendengar ucapan Magma barusan. Memanggil Ayahnya Daddy? biasanya Magma memanggil Ar kepada mertuanya.
"Dad?" sahut Arsen. "Sejak kapan kau memanggilku Dad?"
__ADS_1
"Sejak hari ini," sahut Magma.
"Jangan memanggilku, Dad! Menggelikan sekali pria tua sepertimu memanggilku Daddy!"
"Tolong kerjasama nya Ayah mertua. Saya sedang belajar menghargaimu!" Magma tersenyum.
Laura yang melihat itu hanya mengerutkan dahi sambil menggelengkan kepala.
"Aku masih belum terima kau menjadikan putriku babu di mansion mu!"
"Sekarang dia sudah menjadi ratu di mansionku, anak buahku lebih tunduk kepadanya, Dad!"
"Aku masih belum percaya kepadamu Magma!"
"Beri aku kesempatan selama satu tahun. Kalau dalam satu tahun aku masih belum memberimu cucu, kau boleh menghukum ku."
"Cucu? kau mau punya anak dengan Lala?"
"Tentu saja, kenapa tidak!"
Tapi putrimu tidak mau buka segel.
Arsen menghela nafas. "Minggu depan pulang ke Indo!"
"Siap, Dad." Magma tersenyum kemudian mematikan panggilan telpon nya.
Magma beranjak pindah tempat duduk di samping istrinya. "Sayang ..." Magma memeluk Laura yang tengah menonton tv.
"Hm." Laura menepis tangan Magma.
"Ayahmu akan membunuhku kalau aku tidak membuatmu hamil."
"Hah?" Laura langsung menatap Magma. "Serius?"
Magma mengangguk. "Bagaimana ini?" Magma memasang wajah sedih.
"Baguslah!" Laura langsung beranjak meninggalkan Magma.
*
Byanca tengah duduk di depan ruang operasi untuk menunggu Justin. Dokter sedang mengeluarkan peluru dari kaki Justin.
Byanca menghela nafas panjang. "Gagal lagi! hanya memperk*sa dia apa susahnya sih!" kesal Byanca.
Jasmine berlari dari lorong Rumah Sakit untuk menemui sang adik dengan wajah khawatir.
"Sus, apa ada nama pasien Justin yang baru masuk ke Rumah Sakit ini?" tanya Jasmine kepada salah satu perawat yang lewat.
"Kalau tidak salah, ada di ruang operasi."
"Ruang operasi? kenapa ada di sana?" seru Jasmine semakin panik.
"Dia tertembak di kakinya. Pelurunya harus cepat di keluarkan, kalau tidak darahnya akan terus keluar."
"A-apa?" Jasmine sampai menutup mulutnya sendiri.
Jasmine langsung berlari menuju ruang operasi dengan pikiran yang kalut memikirkan sang adik.
Byanca yang melihat kedatangan Jasmine langsung berdiri dari duduknya.
"Byanca ..."
"Kak Jasmine ..."
"Kau sedang apa di sini?"
"A-aku ..."
Jasmine menatap ruang operasi lalu beralih menatap Byanca. "Kau sedang menunggu Justin?"
__ADS_1
"I-iya kak. Tadi dari kantor Justin hanya di antar oleh karyawan ke sini, jadi aku langsung ke sini."
"Ah syukurlah ... Aku pikir Justin sendirian di sini. Karena karyawan bilang mereka langsung pulang."
Jasmine duduk di kursi. "Bagaimana Byanca? kau tau apa yang sebenarnya terjadi?"
Byanca dengan ragu-ragu kembali duduk di samping Jasmine. Ia tidak mungkin menceritakan hubungan kerjasama antara dirinya dan Justin untuk menghancurkan Laura.
Kalau Jasmine tahu, pasti Jasmine sangat marah. Apalagi Byanca sudah mempermalukan perusahaan miliknya saat di New Zealand. Sebab foto Byanca yang tidak senonoh terpampang jelas saat catwalk dan hal itu berimbas pada perusahaan Jasmine. Banyak orang yang mengecam Jasmine dan mengatakan jika Jasmine tidak pintar memilih model. Tapi Jasmine sudah memaafkan hal itu.
"Byanca?" panggil Jasmine menunggu Byanca buka mulut.
"Dia yang membuat adikmu masuk Rumah Sakit ..."
Byanca dan Jasmine sontak menoleh ke arah suara. Jeni tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan tangan bersedekap dada.
"Jeni ..." gumam Byanca dengan ekspresi terkejut.
"A-apa maksudmu?" tanya Jasmine menatap bergantian Jeni dan Byanca.
"Dia menyuruh Justin untuk memperk*s Laura tapi Laura marah dan menembak Justin. Begitu ceritanya Nona Jasmine ..."
"Apa?!"
"Ti-tidak ... Tidak. Bukan begitu."
"Byanca kau --"
PLAK.
Jasmine berdiri dengan amarah membabi buta. "Kau sudah mempermalukan perusahaan milikku! dan sekarang kau membuat adikku masuk Rumah Sakit!!" teriak Jasmine.
Jeni di belakangnya hanya tersenyum. Ia tahu apa yang terjadi di kantor Jasmine karena Laura langsung menelpon nya tak lama ketika perempuan itu sampai ke mansion.
Byanca memegang pipinya yang perih.
"Kenapa kau mengajak adikku kerjasama untuk itu, Byanca!"
"Lihat sekarang, adikku masuk Rumah Sakit dan harus di operasi. Kau mau tanggung jawab, hah? Bagaimana kalau adikku tidak bisa berjalan lagi!! BAGAIMANA BYANCA!!"
"Harusnya kau salahkan adikmu yang mau aku ajak kerjasama!" teriak Byanca yang langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak terima terus di salahkan.
"Yang menembaknya Laura bukan aku!"
"Aku tidak pernah mau menganggu Laura karena aku tau siapa suaminya. Tapi kau ..." Jasmine menunjuk wajah Byanca dengan geram.
"Kau menganggu Laura dengan melibatkan adikku!!"
Pintu ruangan terbuka. Seorang Dokter keluar dari sana. Jasmine langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana dengan adikku, Dok?"
"Anda ..."
"Saya kakaknya."
"Oh iya ... begini, ini masih kemungkinan. Adikmu sepertinya akan lumpuh." seru Dokter tersebut dengan wajah lesu.
"Apa ..." Jasmine terkejut dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia memundurkan langkahnya.
"Ini masih kemungkinan, karena tadi pelurunya mengenai tulang kakinya, kita akan memastikan dengan foto rontgen."
Jasmine menggeleng tidak terima. "Dok, tidak Dok. Saya tidak mau adik saya lumpuh ..." Jasmine menangis memegang lengan dokter tersebut.
Byanca diam-diam memundurkan langkahnya kemudian berlari tapi Jeni langsung menangkap Byanca dan mencengkram kuat lengan perempuan itu.
"Mau kemana sih? buru-buru amat!"
"BYANCA!" teriak Jasmine ketika sadar Byanca hendak kabur.
__ADS_1
Bersambung