
Keluarga Arsen sedang makan malam berempat, moment ini hendak di jadikan moment untuk Laura meminta izin kepada kedua orang tuanya perihal ingin menikah dengan Magma.
Jantung Laura seakan berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia tidak pernah merasakan gugup berlebihan seperti ini, ekor matanya melirik bergantian Arsen dan Miwa. Nyali nya menciut seketika melihat wajah datar Arsen walaupun sebenarnya ia yakin yang paling cerewet nanti kalau marah adalah sang Ibu, Miwa.
Laura mendengus kasar sambil memainkan sendok dan garpuhnya. Makan nya seakan tidak nikmat sekarang, padahal Laura makan dengan ikan kesukaannya.
"Kenapa?" tanya Lalita.
Laura menoleh dan menggelengkan kepala.
"La, ikan lagi?" seru Miwa.
"Tidak, Mom. Sudah cukup," sahut Laura.
"Ikan ini sudah seperti menu utama saja di mansion kita sekarang," seru Lalita kemudian mengambil segelas air dan meneguknya.
"Kenzo yang terus mengirim ikan ini," sahut Arsen.
"Kau masih mempromosikan ikan ini, La?" tanya Lalita kemudian kepada Laura.
Laura menggeleng lemah seakan tidak punya semangat malam ini.
Miwa yang melihat sikap Laura seakan tahu kalau ada yang tidak beres dengan putri pertamanya itu.
"Lala kenapa?" tanya Miwa membuat Arsen dan Lalita kini menoleh ke arah Laura yang asik sendiri menusuk-nusuk ikan di piring dengan garpuhnya.
Laura sontak mendongak. "T-tidak Mom ..."
"Mom rasa, pulang dari Spanyol mood Laura jelek terus. Ada masalah?"
"Cerita lah kalau ada masalah," sambung Arsen.
"Eum ..." Bola mata Laura menatap bergantian kedua orang tuanya yang duduk di hadapan nya.
Laura berdehem sejenak, menyimpan sendok dan garpuh miliknya di piring, tangan nya ia simpan di bawah meja untuk menyembunyikan rasa gugupnya kemudian ia menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kalau Laura minta sesuatu yang sedikit berat di kabulkan Mommy dan Daddy ... kira-kira bagaimana?"
Arsen dan Miwa saling menatap sementara Lalita mengernyit heran dengan sikap Laura yang berubah seperti anak kecil yang meminta sesuatu tapi takut di marahi.
"Lala ini kenapa?" tanya Miwa. "Lala dan Lita boleh minta apapun yang kalian mau, selama itu baik Mommy dan Daddy pasti kasih, lagi pula Lala juga sudah dewasa sekarang. Mau minta apa lagi? setau Mommy apapun yang Lala inginkan bisa Lala beli dengan uang Lala sendiri sekarang ..."
"Iya sih ... tapi yang ini, hanya Mommy dan Daddy yang bisa kasih."
"Apa?" sahut Arsen lalu mengambil segelas air dan meneguknya.
"Lala mau nikah."
Uhuk uhuk.
Arsen yang sedang minum sontak tersedak, Miwa spontan menepuk-nepuk punggung Arsen.
"La, Lala serius?" tanya Miwa tak percaya. Lalita juga, dia sampai menoleh ke arah Laura dengan mulut setengah terbuka saking kagetnya.
Jangan bilang dia mau menikah dengan Magma.
Lalita hanya berguman di dalam hatinya. Ini tontonan yang menarik, Lalita penasaran bagaimana reaksi Daddy nya kalau tahu Magma lah yang di sukai Laura. Lalita menyimpan sendok dan garpuh di piring lalu duduk menyenderkan punggungnya di sandaran kursi tak sabar menunggu reaksi sang Ayah.
"M-menikah dengan ..." Laura menggantung kalimatnya menatap kedua orang tuanya dengan nyali menciut.
"Siapa?" ulang Miwa.
"Magma ..." seru nya dengan pelan lalu menunduk.
Mata Arsen dan Miwa membulat sempurna mendengar nama Magma keluar dari mulut putrinya itu.
"Magma putra Benjamin?" tanya Miwa yang di jawab anggukan pelan dari Laura.
"Tidak! Dad tidak setuju!" serga Arsen tanpa basa-basi lagi.
Laura pun mendongak dengan mata memohon. "Tapi Dad aku ---"
__ADS_1
"Cari pria lain Laura!!" sambung Miwa.
"Bukankah kau dan Magma hanya sebatas pekerjaan saja, Lala!! kau sendiri yang mengatakan nya kepada Dad!!"
"I-iya Dad tapi ---"
"Dan lagi, kenapa kau yang meminta izin menikah. Kenapa bukan Magma? apa dia takut bertemu dengan Dad, hah?!!" sentak Arsen dengan emosi yang menyeruak di dalam dirinya.
Tatapan tajam dan penuh intimidasi di layangkan kepada putrinya itu.
Miwa memijit keningnya sambil menggelengkan kepala tak habis pikir. Kenapa harus Magma. Sementara Lalita hanya menatap bergantian mereka semua, toh dia sudah tahu lebih awal Laura menyukai Magma.
"Karena hanya aku yang menyukai dia, Dad. Dia tidak ..." seru Laura dengan pelan.
"Lalu kenapa kau ingin menikah dengan dia, Laura!! Apa kau tidak tau siapa Magma? dia seorang mafia, sampai kapanpun Dad tidak akan setuju kau menikah dengan dia!! Kau tidak akan mengerti bagaimana bahaya nya pria yang di benci banyak orang, Pamanmu Maxime saja dulu hidup dengan banyak musuh!!" Arsen sudah di puncak amarahnya.
"Tapi Paman Maxime bisa melindungi Aunty Milan. Magma juga pasti melindungi ku, Dad."
"Dia saja tidak menyukaimu, Laura!! bagaimana dia melindungi mu!!" sahut Arsen.
"Bagaimana bisa kau menikah dengan dia sedangkan Magma saja tidak menyukaimu Lala, Mom tidak habis pikir denganmu!!" sambung Miwa.
"Asal Dad dan Mom memberi restu aku punya cara sendiri agar bisa menikah dengan Magma ..."
PRANG
Tangan Arsen menyapu habis piring dan gelas di dekatnya sampai pecah ke lantai. Mereka bertiga terhentak kaget dengan amarah Arsen. Arsen tidak berbicara lagi selain beranjak dari duduknya pergi dari meja makan.
Miwa mendengus kasar menatap kesal Laura lalu ikut pergi dari meja makan menyusul Arsen.
Sekarang, hanya tersisa Lalita yang menemani perempuan itu.
"Aku sudah bilang, Dad pasti tidak akan setuju." seru Lalita.
"Aku akan meminta bantuan paman Maxime saja," sahut Laura lalu beranjak dari duduknya pergi ke kamar.
__ADS_1
Lalita hanya menggelengkan kepala melihat kepergian mereka semua dari meja makan.
#Bersambung