
Rasa mual memang tidak di alami Laura selama masa kehamilannya, tapi ngidam untuk belajar menembak mempunyai semangat yang menggebu-gebu membuat perempuan itu kerap kali merengek agar mendengar suara tembakan.
Bukan hanya Magma yang menjadi sasaran, terkadang Jeni di paksa untuk berdiri dengan apel di atas kepalanya membuat pria tulang lunak itu hanya bisa bernafas lega ketika jauh dari Laura saja.
Mengidam makanan yang paling sering adalah mangga muda dan bumbu rujak. Selalu Laura meminta agar mangga muda nya di ambil dari pohon orang lain membuat Magma mendadak berubah menjadi maling jika si pemilik pelit, tidak mau memberikan mangga nya.
Terkadang ada juga sistem barter. Magma memberikan uang lalu mendapatkan mangga.
Usia kandungannya kini sudah masuk sembilan bulan, kandungan yang cukup besar dengan tiga bayi di dalamnya. Saat usia kandungan Laura menginjak enam bulan mereka pindah ke mansion baru Magma, tidak lagi di apartemen.
Setelah menjenguk tiga bayinya di dalam perut Laura. Magma bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Laura tengah tertidur.
Ketika Magma keluar, ia tersenyum menatap perut istrinya. Lalu berjalan kembali mendekati Laura.
Pria itu duduk di samping istrinya sambil mengelus perut Laura.
"Kapan kalian akan keluar? Agar Dad bisa memberikan hukuman karena kalian membuat Mommy mengidam menembak dan mangga muda setiap hari. Sudah Dad kunjungi masih belum mau keluar juga hm?"
Magma terkekeh. Hal gila macam apa ini, dulu ia tidak pernah berpikir akan mempunyai anak dan istri. Tapi sekarang, istri dan anak adalah bagian terpenting untuk Magma.
Ketika Magma memainkan perut Laura, untuk kesekian kalinya ia merasakan tendangan yang cukup keras.
"Cih, siapa yang menendang. Keras sekali, kau tidak takut menyakiti Ibumu hm?"
Magma memilih untuk membereskan beberapa kantung baju bayi yang baru di beli tadi pagi. Ia mengeluarkan semua baju bayinya itu dan memasukannya ke keranjang untuk di cuci terlebih dahulu.
Beberapa sudah di cuci bersih dan di lipat, pria itu tinggal memasukannya ke lemari. Magma menghela nafas kasar ketika membuka lemari bajunya, banyak sekali isinya. Satu lemari yang besar sudah penuh.
"Apa aku harus membeli lemari baru sekarang," gumamnya.
"Harus dong. Itu baru sedikit."
__ADS_1
Magma berbalik dan melihat istrinya kini sudah duduk di ranjang dengan memeluk selimut tebal untuk menutupi bagian tubuhnya yang tidak memakai baju.
Magma tersenyum. "Sudah bangun sayang ..."
Pria itu berjalan mendekati istrinya lalu mencium kening Laura dan duduk di sampingnya.
"Kita akan beli banyak baju lagi, baju mereka baru sedikit."
"Definisi banyak menurutmu itu seperti apa sayang?"
"Minimal sudah ada tiga lemari besar," sahut Laura membuat Magma menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Bukan hanya baju, tetapi sepatu dan mainan pun sudah menumpuk di salah satu kamar. Saat USG di lakukan kemungkinan anak mereka laki-laki dan Laura tidak bisa melahirkan secara normal sebab Magma takut jika istrinya terlalu kelelahan karena harus mengeluarkan tiga bayi mereka.
*
Sementara itu Lalita dengan kesal membuang tespack di tangannya ke tempat sampah setelah puluhan kali ia mencoba mengetes, berharap ia hamil.
Suara ketukan pintu membuat Lalita menoleh.
"Lita, kau sedang apa?" teriak Kenzo.
Lalita menyeka air matanya yang hampir jatuh lalu membuka pintu.
"Lita ..." lirih Kenzo menatap mata Lalita yang sembab.
"Ya, ada apa?" Lalita memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kau menangis?" Kenzo mengelus lembut pipi istrinya.
Lalita menggeleng. "Tidak."
__ADS_1
Perempuan itu berjalan melewati Kenzo dan duduk di ranjang kamarnya. Kenzo menghela nafas, ia sudah tahu Lalita pasti sedih karena hasil tespack nya yang selalu negatif.
"Lita ..." Kenzo menghampiri dan duduk di samping Lalita. Ia memegang tangan istrinya.
"Aku tidak menuntutmu untuk cepat punya anak. Kita punya banyak waktu."
"Tapi ini sudah terlalu lama," sahut Lalita. "Seharusnya aku sudah hamil dari dulu!"
"Lita, orang menikah tidak langsung hamil," seru Kenzo dengan lembut. "Kita tunggu saja dulu. Ada saatnya kita punya anak."
Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya menoleh.
"Kakak ipar, aku bawa sesuatu untukmu," teriak Farel.
Kenzo berdiri dan membuka pintu kamarnya. Sementara Lalita masih duduk di ranjang.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
"Kak, aku bawa jamu. Ini bagus untuk rahim perempuan," seru Farel dengan pelan.
Kenzo berdecak, mendorong pelan tubuh Farel lalu menutup pintu kamarnya agar tidak terdengar oleh Lalita. Lalita mengernyit, kenapa Kenzo membawa Farel menjauh.
"Kau ini kenapa, bagaimana kalau Lalita mendengarnya!"
"Loh, mendengar apa? Aku kan hanya membawa jamu, salahnya dimana?"
"Dia pasti sakit hati kalau kau membawa jamu untuk kesehatan rahim. Dia pasti berpikir ada yang salah dengan rahimnya sampai tidak bisa hamil. Kalau kau ingin memberinya jamu, katakan jamu untuk kesehatan tubuh saja!"
"Iya kak iya, aku minta maaf. Niatku kan baik, jadi jamu nya mau di minum atau tidak?" tanya Farel.
"Biar aku saja yang memberikannya." Kenzo mengambil jamu tersebut dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Bersambung