
Seperti biasa, mendengar deru mobil di halaman mansion membuat Laura berlari menuruni anak tangga dengan langkah semangat untuk menyambut kepulangan suaminya.
Laura lebih dulu membuka pintu menyambut kepulangan Magma dengan senyum merekah di wajahnya.
"Sini ..." Laura mengambil jas Magma dan menyampirkan nya di bahu nya.
Magma masuk dengan wajah datar dan duduk di kursi. Seperti biasa Laura akan duduk di lantai untuk membukakan sepatu dan juga kaos kaki suaminya kemudian mengambil sandal khusus di rak dan menyimpan nya di depan kaki Magma.
Seperti biasa pula, Magma melengos begitu saja setelah memakai sandal nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk istrinya.
Laura kembali melayani suaminya dengan mengambilkan beberapa lauk untuk makan malam nya hari ini dan menyimpan nya di piring Magma.
Laura terlihat sangat ikhlas dan senang melayani suaminya. Terbukti dengan senyuman manis yang terus terlukis cantik di wajahnya, Magma hanya memandang datar Laura sekalipun istrinya itu tersenyum kepadanya.
Selesai makan malam, Laura akan mencuci piring agar besok tidak terlalu kelelahan ketika harus beres-beres. Lalu ia mengambil beberapa cemilan dan minuman untuk menonton film bersama sebelum tidur.
Magma dan Laura kembali nonton film bersama sebelum tidur. Tapi Laura malah asik main hp melihat foto Byanca yang tengah mempromosikan tas limited edition dari mahavir group.
Seharusnya yang menjadi Brand Ambassador Mahavir group adalah dirinya bukan Byanca.
Magma menoleh ke samping kemudian pandangan nya turun ke ponsel Laura. Pria itu pun dengan kasar mengambil ponsel Laura membuat Laura terhentak kaget.
"Tonton film nya bukan main hp!" seru Magma.
Laura berdecak. "Cantik ya foto-fotonya. Pasti kau ikut menemani dia saat pemotretan, kan."
Magma tidak menjawab, matanya fokus ke tv yang menyiarkan film zombie.
"Oh atau ... setelah pemotretan kau makan bersama dengan dia?"
Magma masih diam tidak mau menanggapi.
__ADS_1
"Ah enaknya makan berdua di ruang kerja!" sindir Laura kembali membuat Magma menghela nafas kasar kemudian menatap Laura di sampingnya.
"Apa kau tidak bosan membahas lagi hal yang kemarin sudah berlalu?"
"Membahas lagi? aku baru membahas dua kali tau!" sahut Laura dengan menekuk wajahnya.
"Terus mau sampai kapan?" tanya Magma.
Dengan tangan bersedekap dada Laura memalingkan wajahnya. "Lala tidak mau kau makan dengan dia lagi!"
"La, itu hanya sebatas pekerjaan!"
"Makan bersama di sebut pekerjaan juga kah?" Laura kembali menatap Magma.
Magma menggeleng geram kemudian memilih beranjak dari sofa pergi keluar dari kamar dan mengacuhkan teriakan Laura.
*
Laura juga tidak suka di pijat oleh orang yang tidak di kenal sekalipun itu pelayan di mansion. Kecuali pelayan dari klinik kecantikan.
Perlahan ia bangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa ngilu, Laura berjalan ke meja rias dan duduk di kursi, ia mematut dirinya di depan cermin, sekarang Laura mempunyai lingkar hitam di bawah mata, pasti karena kurang tidur.
Laura mendengus kasar kemudian mengambil eye cream di meja rias dan mengoleskannya di bawah matanya yang hitam. Setelah itu Laura memijat-mijat pundaknya sendiri sambil mendesis kesakitan.
"Kenapa rasanya bukan pegal lagi, tapi sakit ..." gumam Laura.
Saat jadi model Laura rutin pergi ke klinik kecantikan untuk merawat seluruh tubuhnya dan sekalian di pijat oleh ahli di klinik tersebut. Tapi sekarang, keluar mansion saja hanya boleh hari senin.
Pintu kamar terbuka, Magma masuk ke kamar, membuka kancing bajunya satu-persatu lalu menyampirkan nya di sofa dan naik ke ranjang.
"Pijat!" titah Magma yang sudah tengkurap di ranjang.
__ADS_1
Laura menoleh dengan satu tangan yang masih memijat pundaknya sendiri. "Bisa tidak libur dulu, Lala
juga kelelahan ..."
"Berhenti mengatakan kelelahan, aku sangat bosan mendengarnya. Aku juga setiap hari bekerja apa kau pikir aku juga tidak kelelahan! Kau tidak bekerja, hanya diam di mansion!"
Laura berdecak, beranjak dari duduknya sambil menggerutu. "Kenapa Ibu Rumah Tangga selalu di sebut tidak bekerja, padahal kerjaanya jauh lebih berat!"
"Berhenti menggerutu Laura!" ucap Magma dengan masam.
Perempuan itu kembali memijat suaminya seperti malam-malam sebelumnya, walaupun sesekali tangan nya berpindah ke pundaknya sendiri karena merasakan sakit di pundaknya dan juga tubuhnya terasa lemas.
Satu jam berlalu Magma sudah terlelap tapi dia tidak sadar jika Laura juga ikut terlelap, tidur di punggung Magma.
Pria itu perlahan membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang panas di punggungnya. Kemudian ia berdecak ketika melihat kepala istrinya tidur di punggungnya.
Perlahan Magma bergeser sedikit demi sedikit sampai akhirnya kepala Laura jatuh ke ranjang. Tapi perempuan itu tidak bangun sama sekali.
Magma duduk dan menatap Laura yang tengah tertidur. Ia memegang kening Laura dengan punggung tangan nya, Laura demam.
"Lala ..." Magma menepuk-nepuk pelan pipi Laura. Gadis itu masih tidak bangun.
"La ..." Magma mencoba menepuk-nepuk lebih keras. Tapi Laura masih belum bangun.
Magma mulai panik, ia mencoba untuk mendudukkan Laura, bahkan ketika perempuan itu duduk di pelukan nya, Laura masih belum bangun. Laura pingsan.
Magma kembali menidurkan Laura sebentar, ia memakai kemeja nya terlebih dahulu dengan tergesa-gesa kemudian segera menggendong Laura untuk membawanya ke Rumah Sakit.
Deru mobil di halaman mansion tidak membuat pria tulang lunak alias Jeni bangun dari tidurnya. Karena ini sudah pukul dua pagi, Jeni sudah sangat terlelap bahkan sampai mengorok.
Bersambung
__ADS_1