
Perdebatan mereka berlanjut di kamar, Magma yang tetap dengan pendiriannya untuk melarang istrinya memakai baju seenaknya tanpa seizinnya. Dan Laura yang selalu menjadikan profesional dalam bekerja sebagai alasan.
"Bajumu terlalu s*xy!! orang-orang melihatnya, kau tidak akan sadar berapa banyak orang yang akan menatapmu dengan tatapan n*fsu mereka Laura!!"
"Aku tidak perduli dengan tatapan mereka!! Ini pekerjaanku, pekerjaan yang aku lakukan bertahun-tahun dan aku baik-baik saja dengan pakaian apapun yang aku pakai!!"
"La ---"
"Kau berlebihan Magma!" potong Laura dengan sirat kesal di dalam bola matanya. "Aku Laura bukan Lala!" seru Laura penuh penekanan.
"Aku bukan Lala yang akan menurut kepadamu, aku bukan Lala yang selalu menganggukan kepala atas perintah apa yang kau ucapkan kepadaku!!"
Magma mendengus kasar. "Lalu apa tugasmu sebagai seorang istri kalau begitu? apa hah? membantah suamimu? iya? tidak perduli kau Lala atau Laura, statusmu sebagai istri harus tunduk dengan perintah suami selama aku tidak menjadikanmu babu lagi Laura!!" Magma tak kalah kesal dengan rahang yang mengeras dan tatapan tajam kepada istrinya.
Mereka sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
"Aku berjuang untuk karirku ini tidak mudah Magma, kau tidak tau aku ketakutan saat aku menjadi Lala dan kau memintaku berhenti menjadi seorang model!! sekarang, aku kembali menjadi model tapi banyak peraturan yang kau berikan. Karir ku akan hancur kalau begitu!!"
"Aku hanya memintamu berpakaian sewajarnya!!"
"Tapi ---"
"Berhenti membantah kalau kau masih ingin menjadi istriku!!" potong Magma membuat mulut Laura merapat seketika.
Keduanya saling memandang, tersirat rasa kecewa di bola mata Laura. Magma berjalan melewati istrinya tapi langkahnya terhenti tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku tidak mau jadi istri yang merelakan karir yang aku perjuangkan selama ini. Aku bukan Lala, kalau kau mau bercerai, bercerai saja!!"
Tangan Magma mengepal seketika, amarahnya memuncak sampai ubun-ubun. Pria itu berbalik dan langsung menggendong istrinya yang seketika menjerit, Magma membaringkan Laura di kasur.
Amarahnya di redamkan oleh tubuh istrinya walaupun Laura sempat menolak tapi tenaga pria itu tidak mudah di kalahkan.
*
Pagi harinya mereka berada di bawah selimut tanpa busana. Laura tertidur di pelukan Magma sementara pria itu hanya diam dengan tatapan kosong kala otaknya berusaha mencerna ucapan istrinya.
Cerai? kenapa Laura berani mengatakan hal itu sekarang setelah dirinya bisa mencintai perempuan itu. Apa Laura sedang mempermainkan dirinya.
Magma menghela nafas panjang, tidak tahu setelah Laura bangun perdebatan semalam akan terus berlanjut atau berlalu begitu saja.
Satu jam berlalu, ketika sedang menghidangkan masakannya di meja ia mendengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki menghampiri dirinya.
Laura menatap punggung suaminya sejenak lalu memilih menarik kursi dan duduk di meja makan.
Magma pun tidak banyak bicara, ia duduk di depan Laura. Keduanya sarapan dengan keheningan, tidak ada yang memulai bicara ataupun bertanya sesuatu.
Selesai sarapan Magma menonton tv sendirian sementara Laura kembali masuk ke kamar. Lima menit kemudian perempuan itu keluar dan berjalan mengacuhkan Magma.
"Mau kemana?" tanya Magma dengan ekor mata melirik istrinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi sedikitpun.
Laura berbalik. "Ke mansion Daddy!"
__ADS_1
"Aku bisa pergi sendiri!" seru Laura kala melihat Magma hendak beranjak dari duduknya.
"Oh." Magma mengangguk samar dan kembali mengalihkan pandangannya ke tv.
Laura bergegas pergi meninggalkan Magma dengan langkah kesal. Magma pun tak kalah kesal, bahkan ketika istrinya sudah keluar, pria itu melempar remot di tangan nya dengan keras ke pintu.
*
Dia pikir aku masih mau menuruti semua perintahnya. Sudah cukup aku bodoh ketika menjadi Lala, sekarang aku tidak mau jadi istri yang di penuhi aturan seperti dulu. Menyebalkan.
Laura terus menggerutu di dalam hatinya ketika berada di dalam mobil yang di kendarai oleh salah satu anak buah Magma. Entah kenapa, Laura merasa benci yang luar biasa terhadap Magma.
Rasa bencinya seakan menggebu-gebu ketika Magma melarangnya sesuatu apalagi yang berhubungan dengan karier nya.
Anak buah Magma menatap Laura dari spion depan kemudian menggelengkan kepala beberapa kali kala melihat wajah kesal Laura yang duduk di belakang sambil mengalihkan pandangan nya keluar jendela.
Setibanya di mansion Arsen, Laura langsung masuk dengan langkah cepat. Miwa yang duduk sambil membaca majalah terkejut kala melihat putrinya datang dengan wajah kesal.
"Lala ..."
Laura tidak menanggapi suara Ibunya, perempuan itu malah menaiki anak tangga dan pergi ke kamarnya.
Miwa tadinya tidak mau menyusul, melihat wajah kesal putrinya ia tahu pasti Laura sedang bertengkar dengan Magma. Tapi masalahnya yang Miwa tahu Laura sedang hamil, tidak boleh stress. Jadi Miwa segera menyusul putrinya ke kamar.
Bersambung
__ADS_1