
"Kita beneran pulang sekarang?" tanya Jeni yang melihat Laura tengah menyisir rambutnya di meja rias. Laura mengangguk mengiyakan
Jeni menghela nafas lega, akhirnya tidak sampai seminggu ia dan Laura tinggal di mansion ini. Kalau sampai seminggu entah bagian tubuh mana lagi yang akan di timpuk oleh Magma.
"Ayo ..." ajak Laura dengan menyeret koper miliknya. Jeni membuntut dari belakang dengan menyeret koper miliknya juga.
Mereka menuruni anak tangga dan terlihat Benjamin, Bayuni dan Magma tengah duduk di sofa.
"Tidak mau pulang bareng kita saja, Laura?" tanya Bayuni tepat ketika Laura menginjak anak tangga terakhir.
Laura menghela nafas kelelahan karena harus menuruni anak tangga dengan menyeret kopernya. Kemudian ia menggelengkan kepala. "Tidak, Mommy. Aku dan Jeni pulang sekarang saja."
"Siapa yang menyuruhmu memanggilnya Mommy?" Magma yang sedang bermain ponsel mendongak.
"Memangnya kenapa?" Laura balik bertanya.
"Sudahlah Magma ... seperti anak kecil saja!" hardik Bayuni. Magma berdecak dan kembali fokus ke ponselnya.
"Jeni ikut pulang juga?" tanya Benjamin.
"Ah Tuan ini, pake di tanya segala. Ya pulang dong, Jeni kan ekornya Lala, masa Lala pulang Jeni di sini."
"Eummm Yasudah ... Lala dan Jeni permisi dulu."
"Dad sudah menyuruh supir untuk mengantar kalian ke bandara."
Laura mengangguk. Benjamin dan Bayuni beranjak dari duduknya untuk mengantar Laura dan Jeni sampai depan sementara Magma terlihat tidak perduli dengan kepulangan Laura.
"Hati-hati Laura ..." Bayuni melambaikan tangan ketika Laura sudah berada di mobil dengan Jeni.
Laura tersenyum membalas lambaian tangan Bayuni. "Iya Mommy ... Bye ..."
Mobil pun melaju pergi, Bayuni menghela nafas. "Dia sangat menyukai Magma."
Benjamin berdecak. "Sudahlah, jangan terlalu di dukung. Bisa-bisa kita bermasalah dengan Nyonya Miwa." Benjamin masuk kembali meninggalkan Bayuni yang menatap kepergiannya dengan gelenggan kepala.
"Dia itu, katanya mau punya cucu dari Magma!"
*
Ketika di pesawat, Laura hanya diam memalingkan wajahnya ke luar melihat cuaca yang cerah serta awan yang terlihat indah. Sementara di sampingnya, Jeni sedang makan.
__ADS_1
"Tadi semangat mau pulang. Sekarang diam seperti ini, huh." sindir Jeni.
Laura menoleh. "Jen ..."
"Hmm," sahut Jeni tanpa menoleh ke arah Laura.
"Menurutmu ... kalau aku minta izin menikah dengan Magma kepada Daddy dan--"
Uhuk uhuk.
Jeni tersedak dan segera menyambar minuman miliknya. Laura menghela nafas, ia sudah tahu Jeni pasti kaget. Perempuan itu tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih kembali memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.
Jeni sontak menatap Laura. "La, jangan bilang Lala kembali ke Indonesia karena mau minta izin menikah kepada Tuan Arsen!!"
Hening, Laura tidak menjawab. Dari wajahnya terlihat Laura begitu kalut dengan pikiran nya sendiri. Belum bertemu Arsen saja dia sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya sang Ayah.
"Lala tau konsep melamar tidak sih?"
"Hmmm ..."
"Melamar itu, pria datang menemui orang tua wanita. Meminta izin dengan baik dan sopan. Ini kok malah Lala minta izin sendiri ke Tuan Arsen tanpa adanya si harimau jantan itu. Tidak bisa begitulah, La!! aneh ih!!"
Laura berdecak lalu kembali menoleh ke arah Jeni. "Memangnya Magma mau melamarku?"
"Kalau sudah dapat izin dari Mommy dan Daddy. Lala punya ide agar Magma mau menikahi Lala."
"Apa tuh?" tanya Jeni.
Laura pun sontak membisikan sesuatu ke telinga Jeni, menjelaskan ide nya kepada Jeni. Mata Jeni membulat sempurna mendengar ide dari Laura.
"LALA!!" bentak Jeni mendorong tubuh Laura. "Lala gila ya!!"
Jeni yang khawatir menempelkan punggung tangan nya di kening Laura. "Atau Lala sakit? makannya isi pikiran nya jadi aneh begini."
Laura menepis tangan Jeni. "Apaan sih Jen!"
Laura duduk dengan mengerutkan dahi nya dan tangan bersedekap dada. Jeni saja sudah terlihat tidak suka dengan ide nya, apalagi Ayahnya nanti.
"Dasar cinta, bisa saja buat orang jadi gila!!" sindir Jeni yang kemudian kembali makan saja dari pada ikutan gila kalau harus membahas ide Laura untuk bisa menikah dengan Magma.
*
__ADS_1
Sesampainya di halaman mansion, Laura dan Jeni keluar dari mobil. Miwa sudah menyambut putri pertamanya itu di depan pintu dengan senyuman.
"Lala ..."
"Mom ..."
Keduanya berpelukan sejenak. "Bagamana di Spanyol. Selain kerja, jalan-jalan kemana saja?" tanya Miwa setelah melepas pelukan nya.
Laura dan Jeni saling menoleh bermain kode mata untuk menjawab pertanyaan Miwa. Miwa menatap bergantian mereka.
"Kemana?" tanya Miwa.
"K-kita ke Granada, Nyonya."
"Granada?" satu alis Miwa terangkat naik.
Laura dan Jeni mengangguk.
"Kita ke Alhambra palace," sahut Laura.
"Alhambra palace? kalian pergi ke kastil merah itu?" tanya Miwa.
"Iya, Nyonya. Alhambra kan banyak sejarahnya jadi kita pergi ke sana ..."
"Wuaahhh ... Lala suka sejarah sekarang." Miwa tersenyum bangga kepada Laura.
"Hehe ... iya Mommy."
"Mana coba Mommy lihat foto-foto nya," pinta Miwa dengan membuka telapak tangan nya meminta camera atau ponsel Laura.
Lagi, Laura dan Jeni saling menatap karena tidak ada foto di Alhambra.
"Hehe Mommy ..." Laura memeluk lengan Ibunya. "Lala kan baru pulang. Cape banget ... Lala mau istirahat dulu ya, nanti lagi bahas foto nya, oke. Lala ke kamar dulu ya."
"T-tapi ..."
"Bye mommy." Belum selesai bicara Lala sudah berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya karena takut di pinta masalah foto lagi.
"Jeni juga nyonya, Jeni ke apartemen dulu ya. Bye Nyonya ..."
Jeni langsung masuk ke mobil untuk menghindari pertanyaan atau permintaan Miwa lagi. Jeni memang seperti itu, setelah memastikan Laura sampai ke mansion dia akan kembali pulang ke apartemen nya walaupun tadi dari bandara mobil melewati apartemen Jeni.
__ADS_1
Miwa mendengus kasar. "Dasar, mereka berdua ya!"
#Bersambung