
Laura pelan-pelan keluar dari kamar agar langkahnya tidak Membangunkan Magma yang sedang tidur. Jeni terus mengirim pesan meminta Laura keluar dari kamar.
"La ---"
"Sssttt!" Laura menutup pintu nya perlahan. Jeni sudah berdiri di depan kamar sedari tadi dengan kesal akibat membaca pesan Laura.
"Apa sih, kalau si tua bangka itu bangun kenapa. Biarkan saja lah!"
"Pelan-pelan Jen bicaranya!" sahut Laura dengan nada bicara berbisik.
"Huh, seperti menjaga anak kecil saja. Padahal baru menikah sehari!"
"Sudah-sudah ... kau mau apa menyuruhku keluar?" tanya Laura.
"Masih berani tanya mau apa?" Mata Jeni membulat sempurna. "Ck ck ck ..." Jeni menggelengkan kepala tak habis pikir dengan tangan bersedekap dada.
"Bagaimana Jeni menjelaskan kepada Nyonya Miwa kalau Lala berhenti jadi model, La!"
"Ya tinggal jelaskan Lala sudah menikah, sudah punya suami dan mau fokus menjadi istri Magma."
"La astagaa!!" Geram Jeni. "Dengar ya, si tua bangka itu bukan meminta Lala fokus jadi istri. Tapi dia mau menjauhkan Lala dari karier Lala. Dia mau merebut hidup Lala tau. Ngerti tidak sih? Model itu kan hidup Lala, model itu seperti jantung di tubuh Lala, Lala pernah mengatakan itu dulu. Ingat?"
"Dan sekarang ... jantung Lala adalah Magma!"
Jeni terbelalak sampai mulutnya terbuka setengah mendengar ucapan Laura barusan. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa cinta bisa mengubah sikap seseorang sebegitu beda nya.
__ADS_1
"Jen, dengar ya. Lala mau fokus jadi istri Magma, Lala mau membuktikan ke Daddy dan Mommy kalau pilihan Lala untuk menikah dengan Magma bukan pilihan yang salah."
"Anj*ng ih tua bangka bedeb*h lutung!" Geram Jeni dengan penuh penekanan memaki-maki Magma di depan pintu kamarnya. Jeni kesal, seharusnya Magma tetap membiarkan karier Laura berjalan, bukannya menghentikan karier perempuan itu.
"Ih Jeni!" tegur Laura dengan nada tidak suka karena suaminya di maki-maki oleh Jeni.
"Sabar Jen sabar ..." Jeni mengelus-ngelus dada nya sendiri dengan mengatur nafasnya.
"Sudahlah, kalau itu pilihan Lala. Jeni mau tidur saja!" Jeni pun berjalan dengan pinggang nya yang melenggak-lenggok menuruni anak tangga menuju kamarnya. Laura yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala kemudian kembali masuk ke kamarnya.
*
Pagi harinya sudah terdengar keributan di halaman mansion yang membuat Magma berdecak sebal. Ia menyibakan selimutnya kemudian bangun perlahan dari tidurnya.
Magma melihat kesamping, Laura sudah tidak ada di ranjang. Perempuan itu pasti sedang memasak sarapan.
Jeni menari dengan selendang merah sambil menengadah menatap Magma di balkon. Dengan terus menari ia menggerutu kesal dalam hati.
Si tua bangka itu yang membuat Lala berhenti jadi model. Padahal potensi Lala jadi model sangat di acungkan jempol, dia tidak tahu bagaimana Lala dulu berjuang menjadi model internasional sampai harus belajar cara berjalan ala-ala model, diet ketat, merawat tubuhnya setiap hari, perawatan wajah sana-sini, sekarang malah di suruh jadi Ibu rumah tangga. Kalau dia seekor semut sudah Jeni injak biar mati sekalian, sayangnya ... dia seekor macan.
HOBAHHH
SEEEERRRR
AYEEEE
__ADS_1
Para anak buah Magma terus berteriak sambil ikut berjoged bersama Jeni.
Ini lagi, anak buah sial*n. Wajah bule tapi tau darimana kata Hobah. Untung kalian ini tampan jadi Jeni mau menari di depan kalian, huh.
Semangat di tubuh Jeni semakin membara, caranya menari jaipong membuat para anak buah Magma terpesona dengan pinggang lentur Jeni ketika menari tarian tradisional dari Indonesia itu.
Magma yang melihat itu menghela nafas kasar. Apalagi ketika Jeni menari tatapan nya terus tertuju ke arahnya dengan tatapan tajam dan tidak suka.
Pria itu pun pergi dari balkon dan keluar dari kamarnya.
"Lala!" panggil Magma ketika menuruni anak tangga.
"Di dapur," sahut Lala sambil memasak.
"Bisakah kita kembalikan dia ke Indonesia saja?" kesal Magma.
Lala yang tengah memasak pun berbalik lalu melebarkan mata ketika melihat Magma tidak memakai baju. "Pakai dulu bajumu ..."
"Aku ingin dia kembali ke Indonesia atau semua anak buah ku menjadi tidak waras karena dia!" Magma mengalihkan ucapan Laura yang menyuruhnya memakai baju.
"Siapa? Jeni?" Laura mematikan kompornya lalu berjalan mendekati Magma yang berdiri di dekat pantry.
"Tidak bisa, Daddy ku sudah menyuruh dia untuk ikut bersamaku. Lagi pula dia tidak ganggu ..."
"Tidak ganggu katamu? lihat keluar!"
__ADS_1
"Ah sudahlah ... Jeni hanya main-main saja," sahut Laura membuat Magma berdecak dan dengan langkah kesal pria itu kembali naik ke kamarnya untuk mandi karena harus bersiap-siap pergi ke kantor.
Bersambung