
Nonton film bersama sudah seperti sesuatu yang wajib di lalukan oleh mereka sebelum tidur. Kali ini Laura terlihat sangat senang, ketika ada adegan lucu ia tertawa keras seolah sedang mengeluarkan kebahagiaan di hatinya malam ini sebab Magma bersikap berbeda tidak seperti biasanya.
Magma sendiri menonton film dengan sesekali melihat istrinya yang tengah tertawa dengan memeluk toples popcorn.
"Aku bosan dengan film ini." Magma berujar tanpa menatap Laura.
"Kau mau film apa? setiap malam selalu bilang terserah, huh."
"Film perang saja," sahut Magma.
"Ah tidak mau. Tidak suka."
Magma menghela nafas kasar, ia memilih mengalah saja dan kembali menonton walaupun yang antusias hanya Laura.
Selesai menonton, Magma mematikan tv nya kemudian berjalan ke ranjang. Laura mengekor dari belakang.
"Mau di pijat?" tanya Laura.
"Tidak perlu," sahut Magma membuka kancing bajunya satu persatu, menyampirkan nya di kursi lalu naik ke ranjang.
Laura pun ikut merebahkan dirinya di samping Magma. Ia menatap langit-langit kamar dengan selimut menutupi setengah tubuhnya.
"Besok, tidak perlu beres-beres lagi," seru Magma yang tidur membelakangi Laura.
Laura menoleh ke samping. "Kenapa?"
"Kalau kau sakit, kau merepotkan ku, aku jadi tidak kerja."
"Huh, bilang saja kau khawatir kan kalau aku sakit."
"Tidak."
"Lalu kenapa mau merawat ku?" tanya Laura.
"Tanggung jawab."
Laura memanyunkan bibirnya kemudian kembali menatap langit-langit kamarnya. Setengah jam kemudian perempuan itu sudah terlelap, Magma berbalik menatap perempuan itu yang tengah tertidur.
__ADS_1
Di lihatnya wajah Laura dengan intens. Matanya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berwarna pink alami, pipinya yang bersemu merah. Sekarang Magma mengerti kenapa banyak sekali fans Laura. Perempuan itu sangat cantik.
Biasanya Magma tidur lebih dulu dari pada Laura, karena Laura yang harus memijatnya terlebih dahulu sampai tertidur. Ia tidak punya waktu untuk memperhatikan istrinya itu. Tapi sekarang Magma baru bisa melihat istrinya yang sudah terlelap.
Ponsel di meja nya bergetar. Magma menoleh ke meja samping kiri Laura. Kemudian ia bangun dan mengambil ponsel istrinya itu.
Magma melihat notif dari grup di beberapa aplikasi. Nama grup itu Lala lovers.
"Cih, kau berinteraksi dengan para fans mu," gumam Magma.
*Lala Lovers*
Lala makasih ya udah pakai gelang dari aku. Padahal gelangnya aku buat dari tali. Maaf aku engga punya uang buat beli gelang mahal.
Magma menatap pergelangan tangan Laura. Ada gelang yang terbuat dari tali berwarna hitam dengan gantungan huruf L.
"Jadi itu dari fans mu," gumam Magma.
Lala makasih ya, udah pake silikon hp yang aku kasih, semoga suka.
Saat Magma berbincang dengan Byanca, perempuan itu justru sebaliknya. Dia terlihat ramah kepada para fans nya padahal di belakang Byanca justru menjelek-jelekan fans nya yang memberinya hadiah sederhana.
Sementara Laura, Magma tidak menyangka dia mau memakai barang-barang sederhana dari fans nya.
Magma kembali menyimpan ponsel Laura di meja kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Laura sampai lehernya. Kemudian ia kembali berbaring di sampingnya.
*
Selesai sarapan, mencium pipi kanan Laura sebelum berangkat bekerja sudah seperti ritual setiap pagi yang wajib di lakukan.
"Hati-hati ..." seru Laura mengantar suaminya sampai ke teras depan.
Laura melambaikan tangan ketika mobil Magma melaju pergi.
"Apa aku masak buat dia makan siang nanti ya, terus aku antar ke kantornya."
"Huh, siapa tau dia makan siang di luar," seru Jeni berdiri di dekat pintu dengan tangan bersedekap dada.
__ADS_1
Laura berbalik menatap Jeni dengan wajah masam kemudian memilih masuk ke mansion dengan sengaja menabrak Jeni yang berdiri di depan pintu.
"Iwww ... nyesel loh nanti ke kantor."
Laura mengacuhkan ucapan asisten nya itu. Ia memilih naik ke kamarnya saja menunggu waktu memasak untuk makan siang.
Sekitar jam sepuluh Laura sudah sibuk sendirian di dapur. Memasak dengan tersenyum senang, sesekali ia bersenandung manja.
Setelah selesai memasak, Laura di antar supir menuju kantor Magma. Ia duduk di belakang sambil memeluk bekal untuk suaminya.
"Rajin sekali Nyonya. Tidak cape masak terus hehe ..." Seru Pak James atau biasa orang-orang memanggilnya Mr James. Supir di mansion Magma.
"Sudah kewajiban Mr James," sahut Laura dengan tersenyum.
"Nyonya tidak jadi model lagi?" Mr James bertanya dengan menatap Laura dari spion depan.
"Belum, libur dulu. Mau fokus jadi istri dulu Mr James."
Mr James tersenyum sambil menganggukan kepala. Kagum dengan pilihan Laura yang memilih jadi istri yang berbakti kepada suami dari pada memilih karier nya.
Sesampainya di kantor, Laura keluar dari mobil. Beberapa orang yang bekerja di Mahavir group menyapa dengan ramah, bahkan mereka membungkukan badan nya ketika berpapasan dengan Laura.Laura membalasnya dengan senyuman di wajahnya.
PRANG
Ketika membuka pintu ruangan, bayangan Laura yang akan makan berdua bersama suaminya hancur sudah. Ia malah melihat Byanca sedang duduk di pangkuan Magma dengan bergelayut manja.
Magma melebarkan matanya kemudian mendorong tubuh Byanca. Sontak Byanca berdiri lalu menoleh ke arah pintu.
Laura mundur beberapa langkah dengan dada yang terasa sesak tiba-tiba. Masakan nya sudah berantakan di lantai. Byanca tersenyum senang melihat Laura.
"Lala ..." Magma berjalan menghampiri istrinya.
Dengan tangan mengepal kuat Laura berbalik dan pergi dari kantor Magma. Pria itu pun segera mengejar istrinya.
Laura kecewa, sangat. Melihat foto-foto Magma dan Byanca tidak terlalu menyakitkan, tapi melihatnya secara langsung mereka berduaan seperti ini. Rasanya hancur sudah perasaan Laura
Bersambung
__ADS_1