M & L

M & L
#Max berjanji membunuh Magma


__ADS_3

"Laura, kau ..." Kenzo menatap Laura intens dari atas sampai bawah hanya untuk memastikan perempuan di depan nya ini benar-benar Laura atau bukan.


"Ya, ini aku," sahut Laura.


"Terus yang di tv itu?" Kenzo menunjuk tv.


"Aku juga tidak tau siapa. Wartawan bodoh memang, mayat tidak ada di mobil tapi aku di beritakan meninggal. Harusnya di cari dulu, kalau berbulan-bulan belum ketemu baru di nyatakan meninggal. Ini belum satu hari saja berita sudah begini, ck bodoh!" gerutu Laura membuat Kenzo menaikan alisnya.


Perasaan saat bertemu di restaurant hari itu, cara bicara Laura sangat ramah dan bersahabat. Tapi sekarang cara bicara dan raut wajahnya berubah seketika, seakan kembali ke sosok Laura sebelum menikah.


"Dia dari tadi marah-marah terus," ucap Aris pelan kepada Kenzo, ia menyindir Laura yang terus menggerutu kesal melihat siaran di tv.


Kenzo dan Farel pun duduk bergabung bersama mereka. Farel menatap Jeni kemudian mengikuti arah pandang banci itu yang ternyata sedang menatap kakaknya, Jeni terlihat so cantik dan so manis. Ia terus tersenyum menatap Kenzo yang menurutnya tampan.


Kemudian Farel bergidik ngeri kala membayangkan Jeni menggoda kakaknya.


"Bagaimana mobil itu bisa jatuh ke jurang dan kau selamat, Laura?" tanya Kenzo.


"Aku loncat dari mobil, tepat sebelum mobil masuk jurang."


"Apa?" ucap Kenzo dan Farel bersamaan dengan terkejut.


"Kak, Kak Laura loncat? astaga ... berani sekali." seru Farel tak habis pikir.


"Hebat kan bos nya Jeni," sahut Jeni.


"Ah itu bukan apa-apa, aku pernah loncat dari gedung." seru Laura.


"Apa?" Kini Farel dan Aris yang terkejut.


"Ck, bercanda lah. Mudah percaya sekali!" seru Laura dengan menggelengkan kepala beberapa kali. Aris dan Farel mendengus kasar, ia pikir Laura benar-benar pernah loncat dari atas gedung.

__ADS_1


"Laura, kau bilang ada masalah dengan suamimu. Ini rencanamu untuk menghindari dia?" tanya Kenzo.


Laura mengangguk mengiyakan. "Aku mau refreshing dulu sebentar. Otakku sudah muak dengan dia."


"Tapi hati Lala muak juga kan?" seru Jeni.


"Tidak lah, enak aja!"


Jeni menghela nafas kasar. Entah kenapa ia ingin sekali membuat Laura amnesia dan melupakan Magma.


"Terus mau sampai kapan kalian tinggal di sini? Berita sudah menyebar seperti ini, apa kalian tidak akan keluar dari sini?" tanya Aris kemudian.


Kenzo dan Farel pun menatap Laura menunggu jawaban.


"Jeni tidak tinggal di sini, tapi aku untuk sementara waktu akan tinggal di sini, aku tidak akan keluar apartemen. Jadi semua kebutuhanku kau yang beli." Laura menoleh ke arah Aris.


"Aku?" Aris menunjuk dirinya sendiri. "Tidak mau lah!" kemudian ia menggelengkan kepala.


"Suruh saja si banci ini. Kau tinggal hubungi dia," sahut Aris.


"Eh, dulu saat pertama kali bertemu denganku kau sangat ramah ya. Bahkan di ajak salaman saja tidak mau karena kau merasa rendah di hadapanku, sekarang seperti ini!" sahut Laura setengah kesal dengan tangan bersedekap dada.


"Itu karena aku berpikir kau akan menjadi istri ---"


"Ekheemm." Kenzo langsung berdehem keras agar Aris tidak melanjutkan kalimatnya.


Aris pun spontan menutup rapat mulutnya ketika tatapan tajam Kenzo mengarah kepadanya.


"Wuah ... wuah ... kayanya ada sesuatu nic," seru Jeni menatap bergantian Kenzo dan Aris.


Kenzo pun berusaha mengalihkan ucapan Jeni. "Laura."

__ADS_1


"Ya?"


"Kau bisa menyuruh Aris kapanpun kau mau."


Laura tersenyum senang ke arah Aris. Aris pun tidak terima. "Tidak bisa begitulah, aku tidak mau."


"Yang bekerja aku dan Farel. Kau kan hanya diam di apartemen," pekik Kenzo.


"Iya, enak sekali. Aku dan Kak Kenzo kerja cari uang dia malah enak-enakan di sini," sambung Farel.


"Ya kan aku tidak bisa memasak," sahut Aris membela diri.


"Belajar dong sayang ..." ucap Jeni dengan lembut membuat Aris merinding seketika.


*


Di dalam pesawat Miwa menangis di tenangkan oleh Milan. Sementara Arsen terlihat nampak gelisah, perjalanan Indonesia - Spanyol sangat lama, Arsen ingin segera sampai untuk bertemu si sial*n Magma.


"Feelingku benar, tidak seharusnya aku merestui mereka," seru Arsen penuh penyesalan.


"Beritanya belum tentu benar. Kau tau awak media selalu di lebih-lebih kan," sahut Maxime.


"Tapi bagaimana kalau putriku tidak selamat, Max!" kesal Arsen. "Hari itu kau seharusnya tidak membantu dia!!"


"Kau tau seberapa keras putrimu, Ar! dia melebihi Miwa!"


"Sekarang lihat lah, manusia sial*n itu tidak bisa mejaga putriku!!" sahut Arsen.


"Kalau aku sampai melihat jenazah Laura, aku berjanji kepadamu, Ar. Peluruku yang pertama kali akan menembus kepala Magma! Aku tidak perduli sekalipun dia kakak dari Yura, menantuku!! Aku tidak pernah ingkar janji, kau tau itu!"


Arsen menghela nafas sambil memejamkan mata. Laura, putri kesayangan nya tidak boleh mati.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2