
Laura dan Magma tengah sarapan berdua, seperti biasa Laura yang melayani suaminya dengan baik. Mengambilkan beberapa hidangan dan menaruhnya di piring Magma lalu menuangkan air ke gelas dan menyimpan nya di dekat Magma.
"Sudah cuci baju?" tanya Magma.
"Sudah, tadi pagi sebelum masak," sahut Laura sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Masih ada baju kotor di keranjang," seru Magma membuat Laura menoleh.
"Baju yang barusan kau pakai kan? ah besok saja cuci nya."
"Sekarang Laura. Bajunya tidak satu," sahut Magma.
"Tidak satu?" ulang Laura.
"Lihat saja sendiri!" Magma kembali sibuk dengan makanan nya.
"Perasaan tadi keranjang sudah kosong," gumam Laura.
*
"Eh, cium nya mana?" seru Laura ketika melihat Magma hendak beranjak dari duduknya.
Magma menoleh, ia yang baru setengah berdiri kembali duduk lalu menghela nafas kasar.
"Ingat poin ketiga," seru Laura sambil tersenyum.
Magma pun mau tak mau membungkukan badan ke arah Laura dan mencium pipi kanan gadis itu lalu segera beranjak pergi meninggalkan Laura yang tengah tersenyum geli melihat kepergian Magma.
"Lihat saja, kau akan ketagihan menciumku," gumam Laura.
Setelah kepergian Magma, Laura di buat tercengang dengan penuhnya keranjang baju kotor di depan kamar mandi. Seingatnya tadi keranjang sudah kosong, kalaupun ada isinya seharusnya hanya celana yang di pakai Magma tidur saja karena Magma tidur juga tidak mengenakan baju.
Perempuan itu mengambil satu kemeja putih dan mencoba mencari bagian mana yang kotor.
"Bersih," seru Laura kemudian mengambil kemeja yang lain.
__ADS_1
"Ini juga bersih."
"Kenapa harus di cuci." Laura mencoba mencium apakah bajunya itu bau atau tidak.
"Tidak bau, malah masih harum. Kenapa di cuci," gumam nya.
"Ah sudahlah, dari pada nanti dia marah-marah karena aku tidak mencuci bajunya.
Perempuan itu pun membawa keranjang pakaian kotor dari depan kamar mandi Magma dan membawanya turun ke bawah, biasanya para pelayan mencuci baju di belakang mansion.
Sebelumnya Laura bangun sangat pagi, dia menyapu dan mengepel terlebih dahulu lalu mencuci pakaian dan masak. Sekarang, ia harus kembali mencuci pakaian lagi.
*
Jeni keluar dari kamar sambil menguap, setelah menari di halaman mansion ia kembali tidur. Jeni berjalan menuju meja makan dan melihat beberapa piring kotor yang belum di bereskan. Ia mau makan tapi ia ingin meja nya bersih terlebih dahulu.
"Pelayan!" teriak Jeni dengan suara melengking khas banci nya.
"Pelayan!" teriak Jeni kembali.
"Panggil aku Nona," potong Jeni dengan satu tangan di pinggang.
"I-iya Nona. Ada apa?" seru pelayan tersebut.
"Ini ... ini ..." Dengan kesal Jeni menunjuk meja makan. "Kalian tidak lihat, piring bekas makan kenapa tidak di cuci?"
"Maaf Nona, tapi Tuan Magma melarang kami."
"Apa?" Jeni mengerutkan dahinya. "Melarang kalian? kenapa? dia mau mansion nya ini jadi sarang lalat!"
"Ada apa Jen ..." suara itu keluar dari Laura yang berjalan menuju dapur setelah mencuci pakaian dan menjemurnya. Perempuan itu menuangkan segelas air lalu meneguknya, merasa lelah pagi ini karena banyak bersih-bersih.
Jeni berbalik. "La, lihat. Masa si tua bangka itu melarang pelayan nya membersihkan meja."
"Oh itu ..." Laura berjalan mendekat lalu mengambil satu persatu piring kotor di meja membuat dahi Jeni mengernyit. Jeni terlihat kesal apalagi dua pelayan itu masih berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
"Ih ih ... Lala mau apa!" Jeni langsung merebut piring kotor di tangan Laura. "Ini tuh bukan pekerjaan Lala. Tapi pekerjaan mereka!" dengan kasar Jeni memberikan piring kotor itu ke salah satu pelayan. Untung pelayan tersebut sigap menangkap piring dari Jeni.
"Jen, ini kerjaan ku. Lala yang mencuci piring."
"Apa apa?" Jeni mendekatkan telinga nya takut salah dengar.
"Lala yang mencuci piring," ulang Laura.
Jeni tertawa menatap Laura tak percaya dengan ucapan nya. "Bercanda ya ... mana mungkin Lala mau cuci piring, nanti kuku Lala kotor dan bau."
Kalimat itu sering kali keluar dari mulut Laura. Laura dari dulu paling tidak mau mencuci piring karena takut tangan nya kotor.
Laura berdecak. "Lala sekarang itu seorang istri, Jen." Laura tidak mau basa-basi lagi, ia mengambil kembali piring dari tangan pelayan lalu membawanya menuju wastafel tempat cuci piring.
"Lala ..." teriak Jeni membuntut mengikuti perempuan itu dari belakang.
"Sssttt!" Laura langsung berbalik sambil mengangkat jari telunjuknya menyuruh Jeni diam.
"Ini masih pagi, jangan ribut. Diam oke, lebih baik Jeni makan saja."
Laura kembali berjalan untuk mencuci piring kotor nya membuat Jeni ternganga dengan mulut setengah terbuka kemudian Jeni menggelengkan kepala.
"Tidak bisa di biarkan, Jeni harus memberi pelajaran kepada si tua bangka itu!" kesal Jeni yang kemudian memilih makan terlebih dahulu karena untuk memaki Magma membutuhkan energi yang lebih.
Baru saja menyimpan piringnya di wastafel, ponselnya di saku bergetar pendek tanda pesan masuk. Laura merogoh ponselnya di saku dan melihat siapa yang mengirim pesan.
Ada dua kemeja hitam di lemari. Setrika itu dan antar ke kantorku. Lima belas menit!
Dengan tersenyum Laura membalas.
Oke.
"Lima belas menit, Lala tidak bisa cuci piring sekarang, lebih baik menggosok baju Magma dulu saja," gumam Laura lalu langkahnya membawa perempuan itu menaiki anak tangga menuju kamar membuat Jeni yang tengah makan berdecih melihat semangat Laura yang berlari dari anak tangga menuju kamar nya.
Bersambung
__ADS_1